Avram Noam Chomsky

“Kita tidak seharusnya mencari pahlawan-pahlawan, melainkan mencari gagasan-gagasan yang baik.”—Chomsky

NAMA LENGKAPNYA Avram Noam Chomsky, lahir di Philadelphia, Pensylvania, Amerika, pada 7 Desember 1928. Ia ”kebetulan” orang Yahudi yang menentang secara radikal Zionisme dan negara Israel. Pandangan politiknya bisa disebut kiri, sosialis, anarkis, tapi juga seorang demokrat dengan tradisi moral yang ketat. Chomsky kemudian dikenal sebagai pakar linguistik, studi media dan pengamat politik.

Di tahun 1960, Chomsky sempat mengambil resiko besar ketika aktif berdemonstrasi menolak perang Vietnam. Dan benar saja, tahun 1966, ia dipenjara karena ikut berdemonstrasi di depan Pentagon dan gedung kehakiman. Mengejutkan, karena posisi akademisnya sebagai profesor liguistik di M.I.T. tidak cukup membuatnya ”nyaman”.

Sebelumnya, Chomsky menulis The Responsibility of Intellectuals yang muncul di The New York Review Books. Ia menyindir tanpa tedeng aling-aling kepada para intelektual penjilat yang manis pada pemerintah Amerika tapi kejam pada pemerintah asing (misal Timur Tengah).

Seperti sudah bisa ditebak, akibatnya, kaum intelektual dan pemikir Amerika sulit bersikap ramah pada Chomsky. The New York Review Books pun tidak pernah lagi menerbitkan tulisannya. Dan meskipun disebut-sebut sebagai salah satu pemikir paling penting abad ini, nama Chomsky jarang terdengar (atau sengaja disembunyikan dari kita).

Bagi Chomsky, media massa dengan teknik propagandanya, tidak lebih dari sekedar industri humas untuk para bandit elit pemilik demokrasi. Agar, publik percaya pada beragam kebijakan mereka.

Bersama Edward S. Herman dalam Manufacturing Consent, dijelaskan modul propaganda media dengan apa yang disebut news filter—saringan berita yang terdiri dari lima bagian. Pertama, uang! Sebagai industri yang butuh modal besar membuat hanya segelintir pemilik modal yang mampu memiliki dan bersaing di pasar media. Artinya, media memang boleh tumbuh bak cendawan, tapi faktanya, ia terkonsentrasi hanya ke tangan segelintir beberapa orang. Untuk kasus Indonesia bisa kita sebut Jakoeb Otama, Dahlan Iskan dan Surya Paloh.

Kedua, sumber-sumber informasi utama yang dimiliki media sudah ”siap-tersedia” dari pemerintah, pebisnis, dan para ”pakar”. Maka seringkali, berita hanyalah versi lebih renyah dari press release penguasa. Atau analisa kacangan dari ”pakar-pakaran” yang tidak jelas kualitas dan kredibilitasnya.

Ketiga, iklan. Iklan membantu produk media untuk bisa lebih murah dan terjangkau. Bagaimana bisa iklan mengontrol media? Iklan membuat media lebih akuntabel kepada para pengiklan ketimbang pembaca. Ia juga menyulitkan media ketika ingin mengkritisi kalangan pebisnis dan korporasi.

Keempat, jika ada media yang berani ”keluar jalur”, flak bisa dipakai untuk mendisiplinkan mereka kembali. Flak adalah reaksi negatif atas pernyataan media. Bisa lewat tuntutan hukum, teguran langsung, rancangan undang-undang bahkan pembreidelan.

Kelima, penerapan ”hantu-hantuan” bagi konten pemberitaan media. Misal, di zaman perang dingin ada komunisme. Di Indonesia zaman Orba, kita punya hantu NII, ekstrim kanan-kiri, GPK, PKI dan kaum subversif. Sekarang, ada hantu ”terorisme dan radikalisme yang mengancam kehidupan demokrasi kita”.

Jika Anda merasa rada-rada familiar, oh ya! Propaganda dalam dunia modern yang didengungkan Chomsky memang terinspirasi dari novel 1984 karya George Orwell. Newspeak yang disebutkan dalam magnum opus Orwell ini boleh dikatakan sebagai bentuk yang lebih ekstrem dari eufemisme bahasa ala Orba Indonesia.

***

Tentu saja, saya hanya membahas sekelumit dan seringkas mungkin pemikiran Chomsky soal media. Perlu juga diingat, ia merumuskan kritik ini berdasar kenyataan media di Amerika. Tapi jika dilihat benang merahnya, sedikit-banyak, Chomsky cukup membantu untuk menjawab kebingungan kita selama ini atas kehidupan media di Indonesia. []

Tags: ,

2 Comments to “Avram Noam Chomsky”

  1. Analisis dan kritik Chomsky mengenai media, memang berdasarkan realitas Amerika -tempat dimana Chomsky terjun langsung dlm menentang hegemoni kapitalisme.

    Namun, Selama sebuah negara selalu bertautan dgn Amerika dan mempraktekan kapitalisasi media pula, maka pemikiran Chomsky ini bisa juga terlihat di negara tersebut.. karena sejatinya kapitalisme itu brengseknya sama..!dibelahan dunia manapun kapitalisme itu dijalankan.. 🙂

  2. Penyakit media sebenarnya bisa terjadi di rezim mana saja, entah itu Kiri, Kanan atau Tengah. Tapi dibanding komunisme yg otoriter dan mudah terbaca oleh konsumen media, kapitalisme memang lebih canggih–membuai dan memabukkan. 😀

    Trims sudah berkunjung.

Leave a Reply to muhammadsyarafuddin Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: