Kenapa Tirto?

KOLONIAL Belanda melibatkan pemilik modal asing untuk agenda penjajahannya. Nusantara dijadikan sumber bahan mentah dan pasar bagi industri penjajah barat. Dihadapkan pada kenyataan ini, ulama Islam mesti memberikan tindakan.

Haji Samanhoedi (1868-1956) segera membangun organisasi Sjarikat Dagang Islam, 16 Oktober 1905, di Surakarta. Guna memperluas informasi dalam upaya pembentukan organisasi niaga tersebut, terlebih dulu diterbitkan buletin Taman Pewarta, media ini mampu bertahan selama 13 tahun, 1902-1915.

Selain sebagai upaya awal membangkitkan ekonomi umat Islam, Sjarikat Dagang Islam juga menjadi simbol pembaharuan sistem organisasi Islam. Kolonial Belanda jelas tidak nyaman melihat langkah strategis ini.

Salah satu taktik yang biasa Kolonial Belanda lakukan dalam kasus model begini adalah mendirikan organisasi tandingan. Contoh Djamiat Choir, 17 Juli 1905, atas saran Bupati Serang, P.A.A. Djajadiningrat, maka dibangunlah organisasi Boedi Oetomo, 20 Mei 1908 yang dalam bahasa Jawa memiliki kesamaan arti dengan Djamiat Choir. Perlu diberi catatan, alih-alih memperjuangkan nasionalismeIndonesia, Boedi Oetomo justru penganut tribalisme jawa.

Demikian pula untuk Sjarikat Dagang Islam, Kolonial Belanda—juga dengan nama yang hampir sama—mendirikan Sarekat Dagang Islamiyah, 1909, di Bogor. Dalam upacara peresmiannya sendiri, dihadiri oleh Asisten Residen Bogor, C.J. Feoth yang sekaligus diangkat sebagai pelindung.

Maka dicarilah orang yang memiliki kesamaan kemampuan dalam memimpin organisasi niaga, mengelola media cetak, serta berdarah bangsawan atau priyayi. Raden Mas Tirto Adhisoerjo (1880-1918), sekretaris Sarikat Prijaji inilah yang terpilih.

Sarikat Prijaji kemudian menerbitkan Medan Prijaji (1907-1912). RMT Adhisoerjo sebagai hoofd redacteur (pimpinan redaksi) yang berkedudukan di Buitenzorg atau Bogor. Adapun Sarikat Prijaji diketuai oleh Raden Mas Prawirodi ningrat, Jaksa kepala Betawi, penyandang bintang Ridder Oranje Nassau. Antara Sarikat Prijaji dan Boedi Oetomo, menurut Pramoedya Ananta Toer dalam Sang Pemula, terdapat kesamaan tujuan, RMT Adhisoerjo juga menjadi anggota  dari Boedi Oetomo Afdeeling II Bandung.

Sebelumnya, RMT Adhisoerjo adalah redaktur Staatbald Melajoe (Lembaran Negara berbahasa Melayu), 1904, dan redaktur pendamping dari berkala Oranje Nassau, 1904, yang dipimpin oleh J.Stinger. Kedua media ini berumur pendek.

Dari pengalaman kerja ini, RMT Adhisoerjo pribadinya sangat dikenal oleh para pejabat pemerintah Kolonial Belanda dan Beopati. Sebelum bekerja sebagai redaktur, ia terlebih dulu bekerja sama dengan Boepati Cianjur, Raden Adipati Aria Prawiradiredja yang diangkat sebagai beopati pada 24 Agustus 1864, pada saat Tanam Paksa (1830-1919) masih berlaku.

Atas jasa Boepati Cianjur terhadap pemerintahKolonial Belanda,iamemperoleh bintang Orde OranjeNassau, SWO dan Songsong Kuning (Payung Kuning). Hal ini karena berhasil membantu pelaksanaan tanam paksa kopi di Cianjur. Dampak selanjutnya, tanam paksa dapat berlangsung hingga 1919.

Tak pelak, Raden Adipati Aria Prawiradireja menjadi boepati terkaya di Pulau Jawa dari keuntungan tanam paksa kopi, kekayaannya didapat dari persentase keuntungan tanam paksa per tahun, f.40.000 ditambah gaji resminya yang besar.

Tidak mengherankan bila Boepati Cianjur yang kaya raya ini bersedia menjadi donatur Soenda Berita (1903-1905) yang dipimpin oleh RMT Adhisoerjo.

RMT Adhisoerjo kemudian memimpin buletin Medan Prijaji (1907-1912) dan Poetri Hindia (1908-1911), berkala wanita yang mendapatkan penghargaan dari Iboe Soeri Emma, 1909. Berbeda sekali dengan Taman Pewarta milik Haji Samanhoedi yang sama sekali tidak mendapat bantuan dalam bentuk apapun dari Kolonial Belanda.

RMT Adhisoerjo sendiri berasal dari keluarga kolektor pajak dan boepati yang mendapatkan Bintang kehormatan dari Belanda. Ia lahir di Blora, 1880, ayahnya R.Ng. H.M. Chan Tirtodhipoera adalah seorang kolektor pajak. Tentu saja, faktor keturunan tidak selalu berlaku untuk karier politik dan bagaimana nantinya warna kepribadian seseorang.

Pertanyaannya sekarang adalah, mungkinkah Kolonial Belanda mau memberikan bantuan dana dan—pejabatnya sebagai pelindung terhadap suatu organisasi dan media cetak, bila ia melancarkan perlawanan terhadap penjajah? Jawabnya, tidak.

Akhirnya, tanggal 9 Desember (hari kematian RMT Adhisoerjo) disematkan sebagai hari pers Indonesia. Dan tahun 1907 (lahirnya Medan Prijaji) sebagai tahun kebangkitan pers nasional.  Sedangkan Taman Pewarta (1902-1915) milik Haji Samanhoedi justru dikesampingkan.Adaselisih logika yang terlalu mencolok disini. Bukan berarti kita tidak berhak untuk mengapresiasi karya-karya jurnalistik RMT Adhisoerjo.

Saya bukan seorang pakar sejarah. Waktu juga tidak bisa diulang. Tapi kita berhak tahu dan wajib jujur dengan catatan yang ada. []

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: