Happy Networking Dude!

GENERASI kita berhadapan dengan zaman yang begitu berbeda dengan zaman buyut senior-buyut junior sebelumnya. Berabad-abad silam, jika ingin orang tahu gagasan Anda, Anda mesti berjalan kaki jauh untuk menemui dan mengajaknya bicara. Buku masih jadi pilihan yang sulit. Kertas dan tinta barang mahal. Belum lagi proses menyalin perbanyak dan sebar ke tangan orang lain yang  membutuhkan waktu berbulan-bulan.

Jika secara samar-samar Anda mendengar dan tertarik dengan satu gagasan di negeri sebarang. Anda mesti berkuda melewati gunung, hutan, dan rawa untuk menemui si pemilik gagasan. Berbulan-bulan. Itupun jika tidak ketiban sial, setiba disana yang dicari keburu meninggal atau pindah lembah.

Dan datanglah revolusi Gutenberg (1400-1468) dengan mesin cetaknya. Buku, koran, selebaran dan model penerbitan lainnya mudah untuk dibuat, diperbanyak dan dibeli. Belakangan kita ketemu mesin fotocopy (1938) yang memungkinkan siapa saja berdagang gagasan (lewat tulisan) dengan biaya produksi yang murah. Terakhir, paling radikal, komputer dan internet. Dunia hampir tanpa tapal batas.

Namun belakangan, secara politik, temuan-temuan ini dianggap “membahayakan”. Bayangkan,jika Anda tak setuju dengan kepemimpinan seorang presiden, Anda bisa bikin satu lembar selebaran murah, dibawa ke gerai fotocopyan terdekat dan  mendistribusikannya secara bawah tanah. Presiden mana coba yang tak ketar-ketir dibuatnya?

Tapi teknologi saja tidak cukup.Indonesiaorde baru adalah buktinya. Disana tak ada ruang kebebasan berpendapat. Anda ngomong cem-macem soal Soeharto dan falsafah pembangunannya, besok atau lusa Anda sudah hilang entah kemana.

Saya kira ini anugerah tersendiri bagi generasi kita. Tak butuh modal gede untuk punya media (dalam taraf tertentu). Sekarang ada facebook, twitter, dan blog gratisan. Kita bisa bebas bikin kritik, berbagi inspirasi, menjual gagasan bahkan mengajukan solusi. Siapapun punya media!

Buktinya adalah Revolusi Tweeps dan Facebooker di Mesir. Gerakan mereka di dunia maya berbuntut tumbangnya rezim Hosni Mobarak. Ini contoh mencengangkan, bagaimana sebuah rezim totalitarian bisa remuk dihajar situs jejaring sosial (tentu saja ini bukan faktor satu-satunya).

PemerintahIndonesia saja kelimpungan pengen bikin RUU Intelijen. Intelijen katanya pengen melototin facebook dan twitter publikIndonesia. Wow, paling tidak sehari butuh satu galon obat tetes mata.

Sedangkan blog yang menjadi media bagi para penggiat citizen journalism juga semakin diperhitungkan. Warga yang biasanya hanya dipandang sebagai saksi mata atau konsumen media. Sekarang juga bisa menjalankan aktivitas jurnalistik. Mereka melakukan reportase lapangan, memotret (lewat kamera handphone), lalu menulis dan menerbitkan lewat blog mereka sendiri. Pengaruhnya tidak bisa dianggap sepele, buktinya, media besar semacam Kompas dan Tempo memberikan kolom khusus untuk citizen journalism di situs berita mereka.

Murahnya harga handphone dengan fasilitas kamera juga punya sisi politis yang bisa kita manfaatkan. Jika Anda kebetulan adalah saksi mata dari penyimpangan yang terjadi di ruang publik, rekam secara sembunyi-sembunyi, lalu upload di youtube. Revolution will be downloaded kata Sandeep Ray. (Tapi mirisnya, fasilitas ini seringkali jadi malah sarana untuk bugil depan kamera).

Geliat semangat indie juga semakin menggembirakan. Beberapa teman yang merasa media pers dan industri penerbitan buku semakin menjauh ke dalam pelukan kapitalisme tidak lagi mengeluh dan berkecil hati. Mereka bisa bikin zine (majalah indie), selebaran, bahkan buku. Pilihannya juga beragam, dari cetak hingga format digital. Meski jaringannya hanya bermodal dari tangan ke tangan atau dari laptop ke laptop, mereka tak mudah menyerah. Lagipula ini murah atau bisa di unduh oleh siapapun.

Sorot mata sinis mungkin akan banyak tertuju. Tapi tak usahlah berharap muluk. Ingat, David bisa mengalahkan Goliath! Cukup 50% saja dari aktivitas facebook, twitter dan blog kita digunakan untuk berbagi inspirasi, informasi, kritik, dan berbagi kesadaran politik ke teman-teman kita. Sisanya, silahkan untuk have fun (dalam artian positif). Saya yakin, ruang publik kita akan makin cerdas. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: