Orwell 1984

1984 adalah novel yang ditulis George Orwell di tahun 1949, tujuh bulan sebelum ia meninggal. George Orwell sendiri adalah nama pena dari Eric Arthur Blair, lahir di India pada tahun 1903.

Latar cerita adalah dunia berada pada tiga kekuatan besar, Eurasia, Eustasia danOceania.Oceania, tahun 1984, berada dibawah cengkraman Partai berhaluan Sosialisme Inggris (Sosing) yang menerapkan totaliterisme dalam arti sebenarnya. Negeri dimana teleskrin, alat yang terus menyiarkan siaran berita dan slogan partai, serta menyimpan mikrofon untuk menyadap dan mengawasi kegiatan warga berada dimana-mana.

Sang tokoh utama, Winston Smith, adalah pegawai di Departemen Kebenaran. Oceania memiliki Departemen Perdamaian (perang), Departemen Tumpah Ruah (ekonomi), Departemen Kebenaran (kebohongan), dan yang paling ditakuti, Departemen Cinta Kasih (ketertiban dan hukum).

Tugas Winston dalam Departemen Kebenaran adalah mengawasi berita, hiburan, pendidikan dan seni. Menyeleksi, menyensor bahkan mengubah isi jika hal itu bertentangan dengan pandangan Partai. Maka jangan berharap, jika warga bisa menemukan inspirasi atau referensi untuk melakukan pemberontakan pada Partai.

Winston menjadi buronan Polisi Pikiran karena ia menulis “Gulingkan Bung Besar” di buku hariannya. Kemudian ia menjalin hubungan dengan Julia, gadis muda berjiwa pemberontak. Cinta adalah sebuah kejahatan diOceaniasaat itu. Winston mulai larut, ia memupuk pikiran-pikiran kritis terhadap Partai, hingga akhirnya ia jatuh hati pada Goldstein. Tokoh yang dianggap sebagai pengkhianat negara.

Setengah dari novel ini berisi perlawanan dalam diam ala Winston. Sisanya, kisah tertangkap dan disiksanya Winston, otaknya dicuci. Akhirnya, Winston kalah dan menerima dengan suka cita ideologi partai.

Partai sendiri tidak tampil secara personal, tapi imaji, lewat poster Bung Besar, wajah berkumis hitam bertuliskan “Bung Besar Sedang Mengawasi Anda” yang ditempel dimana-mana. Tampaknya, dalam Negara totaliter (entah kiri atau kanan) kekerasan dan dusta tidaklah cukup, ia masih butuh figur untuk dikagumi dan ditakuti. Di dunia nyata, kita mengenal adanya Hitler, Stalin, Soeharto dan Bush.

Partai dengan sangat cerdas memahami bahwa pemberontakan dimulai dari pikiran. Salah satu kunci untuk mengontrol pikiran adalah mengontrol bahasa; karena bahasa adalah alat untuk mengembangkan dan mengutarakan nalar. Bahasa dimiskinkan, kata-kata yang dianggap berbahaya oleh Partai coba dihapuskan atau dialihgunakan. Secara rutin, Partai mengeluarkan Kamus Newspeak yang terus diperbaharui setiap cetakannya.

1984 sepenuhnya adalah karya politis. Ia menjadi klasik karena banyak mengenalkan istilah yang kemudian hari ini lazim kita pakai: big brother, newspeak, thoughtcrime (kejahatan pikiran), polisi pikiran, dan Orwell’s Problem.

Orwell sendiri menyatakan, 1984 ditulis untuk memperingatkan pembaca bahwa bahaya propaganda dan manipulasi pikiran—dua teknik yang bisa kita sederhanakan dengan satu kata: dusta—bisa terjadi di negara manapun, entah itu kiri atau kanan. []

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: