Resensi untuk Agama Andreas Harsono adalah Jurnalisme

SAYA KIRA, hanya wartawan sinting dengan sederet prestasi jurnalistik gemilang—pernah kerja di The Jakarta Post, The Nation (Bangkok), The Star (Kuala Lumpur) dan Pantau (Jakarta), penerima Nieman Fellowship on Journalism Harvard University —seperti Andreas Harsono yang bisa bilang, “Agama saya adalah jurnalisme.” Pengakuan ini dalam artian sebenarnya, bukan sekedar kepentingan promosi buku atau pernyataan kelepasan tidak sengaja.

“Makin bermutu jurnalisme di dalam masyarakat, makin bermutu pula informasi yang didapat masyarakat bersangkutan. Terusannya, makin bermutu pula keputusan yang diambil.” Ucap Bill Kovach, penulis The Elements of Journalism: What Newspeople Should Know and The Public Should Expect, gurunya di Nieman Fellowship on Journalism Harvard University, yang kemudian hari dipakai oleh Harsono. “Kalau masih juga ditanya soal apa agama saya, saya akan jawab : agama saya adalah jurnalisme. Saya percaya bahwa jurnalisme sangat berguna untuk kebaikan masyarakat.” Jawab Harsono dalam interview bersama Novri, suatu sore, di Radio Utan Kayu.

Dalam dua hari saya berhasil melahap buku setebal 286 halaman ini. Buku ini memiliki empat bagian: (1) Laku wartawan, (2) Penulisan, (3) Dinamika Ruang Redaksi dan (4) Peliputan. Pembagian yang memang lazim dipakai dalam pendidikan jurnalisme.

Beberapa teori yang saya pegang selama ini runtuh sudah dibuatnya. Dulu di LPM Sukma saya diajarin bahwa wartawan harus independen, ditanyain itu apa, independen itu ya netral. Mas Andreas justru menulis, netral bukan prinsip jurnalisme! Independensi adalah semangat bersikap dan berpikir independen dari obyek liputan kita. Jika wartawan ingin beropini, silahkan, tapi di kolom opini. Dengan catatan, dalam opini pun jurnalis tetap memegang prinsip akurasi data dan semangat mengabdi kepada kepentingan masyarakat.

Tapi ada juga teori yang selama ini saya pegang, semakin dikuatkan bahkan menjadi keyakinan pasca membaca buku ini. Sejarah pers dunia mencatat, justru media yang berani, memiliki idealisme dan concern terhadap mutu jurnalismelah yang mampu menjadi institusi media yang prestisius bahkan menguntungkan, disegani oleh media lain dan sukses meraih kepercayaan pembaca. Contoh yang disebut Harsono adalah Atlanta Journal-Constitution, The New York Times dan The Washington.

Saya tercerahkan dengan penjelasan Harsono soal “kebenaran” dalam diskursus jurnalisme. Jurnalisme bicara soal kebenaran fungsional (atau kebenaran prosedural, menurut Sirikit Syah), bukan kebenaran filosofis.

Saya juga makin paham, kenapa byline dan firewall itu penting. Byline adalah bentuk transparansi media terhadap pembaca. Warning bagi jurnalis yang nulis dengan semangat asal jadi. Tapi juga membantu jurnalis dalam meniti kariernya. Siapa yang nulis bagus atau jelek, pembaca akan langsung tahu siapa orangnya.

Sedangkan Firewall untuk menjaga kepercayaan pembaca, memastikan koran yang mereka beli bukan ”berita pesanan”, dan wartawan paham yang ia tulis adalah ”berita jurnalistik sungguhan” bukan ”iklan lewat”.

Harsono juga memberi persfektip yang berbeda terhadap kasus Tempo Vs Tommy Winata, lebih menarik malahan ketimbang dari bacaan-bacaan yang selama ini saya dapatkan. Untuk kasus ini, Harsono menyatakan jurnalis bukan hanya bicara soal misi yang baik, tapi juga soal prosedur yang baik.

Ulasan Harsono terkait jurnalisme investigasi, sumber anonim, teknik wawancara, aspek penulisan, referensi kedua dan sejarah pers Indonesia juga sangat membantu.

Tapi juga menyentak, ketika Harsono bercerita dengan geram peliputan-peliputan di daerah konflik macam Acheh, Papua, dan Pontianak. Indopahit (mengikuti cara Mas Andreas menyebut Indonesia) ternyata menyimpan begitu banyak luka. Dan media turut berdosa karena menyembunyikan bahkan menyimpangkan fakta-fakta tersebut.

Agak ngeri juga saat Harsono mengupas seputar Media Palmerah. Ngeri karena, media-media besar di Jakarta yang memiliki oplah besar, nama besar, dan kepercayaan besar dari pembaca (termasuk saya) ternyata menyimpan dosa-dosa yang tidak sedikit dan kok, rasa-rasanya, sulit dipahami.

Sedang kritik saya untuk buku ini adalah Harsono masih melihat remeh terhadap media Islam dan wacana jurnalisme Islam. Juga terasa kurang tajam dan mendalam ketika melihat kasus terorisme yang selalu dikaitkan dengan Islam di Indopahit ini. Atau tragedi kekerasan yang sering dialihopinikan akibat faktor etnik-agama. Lupa menelisik lebih jauh, bahwa kezaliman pemerintah pusat dan eksploitasi korporasi asing di bumi mereka seringkali adalah faktor utama yang disembunyikan. Harusnya, Mas Andreas konsisten dengan slogannya, ”Analisis, analisis, analisis!”

Sisanya, adalah renungan-renungan yang mengasyikkan bagi saya pribadi. Ala kulli hal, ini buku bagus dengan konten yang ideal—dan saya dibuat sinis, bisa gak sih diterapkan di media Indopahit (hihihi). Bravo! []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: