Sempit Lahan Jurnalisme Sastrawi di Indonesia

SEIRING dengan perkembangan teknologi komunikasi massa itu sendiri dan tuntutan kompleksitas masyarakat, mau tidak mau, jurnalisme mesti menanggapinya secara aktif dan dinamis lewat berbagai perubahan dan perkembangan. Salah satu dari sekian perkembangan yang dimaksud terjadi itu adalah, lahirnya genre yang lazim dinamakan new journalism (jurnalisme baru) biasa juga disebut literary journalism (jurnalisme sastrawi) atau narrative journalism (jurnalisme narasi).

Perbincangan soal Old dan New Journalism adalah murni pembahasan soal tulis-menulis dan kerja jurnalistik yang terjadi di dunia pers cetak (bukan elektronik). Lahir di Amerika Serikat periode 1960-an. Diawali dari motivasi para penulis dan redaktur, untuk menolak kerja jurnalistik tradisional dan nilai-nilai yang sudah terlanjur dianggap sakral dan membatasi kerja jurnalistik.

Mereka bosan, letih dan melawan terhadap penulisan laporan-laporan singkat yang hanya mencatat peristiwa-berita sesuai fakta dan memuatnya di koran pagi atau sore hari. Kerja macam itu mereka anggap, sudah tidak bisa lagi menangkap kompleksitas mayarakat.

Selain juga sebagai tanggapan dan peningkatan daya saing pers cetak atas massifnya perkembangan media elektronik. Sebab hitung-hitungan dari segi kecepatan dan aktualitas, pers cetak kalah telak dibanding pers elektronik. Mesti menunggu hingga tengah malam untuk naik cetak. Sedang pers elektronik, ketika peristiwa terjadi breaking news langsung hadir di layar kaca.

Maka, para pekerja pers cetak mau tidak mau mesti memutar kepala. Untuk menyajikan kelebihan dan keunikan yang tidak bisa didapatkan publik dari pers elektronik. Dalam hal ini, jurnalisme baru adalah penyelamat.

Istilah new journalism yang diperkenalkan Tom Wolfe, mengutamakan aspek gaya penulisan fiksi demi kepentingan dramatisasi dan membuat pelaporan begitu memikat. Teknik pelaporannya, dipenuhi dengan daya penyajian fiksi yang memberikan detail-detail potret subyek, yang secara sengaja diserahkan kepada pembaca untuk dipikirkan, digambarkan dan ditarik kesimpulan. Artikel dirancang jurnalis dalam bentuk urutan adegan, percakapan, dan amatan suasana. (S. Santana Kurnia: 2002).

Jika Old Journalism tampak seperti snap shot (satu kali ‘klik’), maka new journalism menyajikan anda satu rol film dokumenter. Hal itu bisa terjadi, karena mereka mengembangkan aspek 5w +1H dengan sangat kreatif. Robert Vare, mantan redaktur The New Yorker dan The Rolling Stone, Roy Peter Clark menegaskan, narrative (antara jurnalisme sastra, baru dan naratif adalah sama secara esensi) mengubah rumus 5W+1H menjadi, Who menjadi karakter. What menjadi plot. When menjadi kronologi. Why menjadi motif. Dan how menjadi narasi. (Nuruddin: 2009)

Walau Andreas Harsono dari Pantau harus dibuat mencak-mencak karenanya. Sebab, ada mispersepsi dan ngobrol ngolor-ngidul, bahwa jurnalisme sastra adalah jurnalisme yang ‘puitis dan romantis’.

Jurnalisme menyucikan fakta. Nama mesti ditulis dengan benar. Tempat adalah adanya. Biru adalah biru. Merah adalah merah. Begitu pula jurnalisme sastra, sama sekali bukan reportase–sekali lagi bukan–yang ditulis dengan kata-kata puitis. Bahkan, John Hersey menulis Hiroshima dengan bahasa formal surat kabar. (Pantau : 2008).

Liputan jurnalisme baru juga cenderung panjang. Hiroshima itu panjang halamannya hampir seperti sebuah buku. Ini pula satu kapasitas yang mesti dimiliki oleh seorang wartawan yang meminati genre ini, memiliki ketahanan dan kemampuan menulis dengan nafas yang panjang.

Berikut prinsip-prinsip jurnalisme baru yang diberikan oleh Tom Wolfe : (1) Scene by scene construction. (2) Dialogues. (3). The third person. (4) The status detail.

Persoalannya, jika genre ini sudah lahir hampir 50 tahun yang lalu. Lalu bagaimana dengan tanggapan dunia jurnalisme Indonesia? Sebuah genre yang dianggap Pak Atmakusumah sebagai, “Ibarat kawan lama datang bercerita.” Ada beberapa masalah yang kita hadapi. Pertama, kuantitas wartawan itu sendiri. Paling sekitar 20.000-an wartawan yang ada diIndonesia. Bandingkan dengan Jerman yang berjumlah 90.000 wartawan.

Contoh, Harian Tifa Papua (Jayapura) hanya diasuh oleh lima wartawan. Jadi, ada kekurangan wartawan (Pantau : 2008). Padahal, jurnalisme baru ini membutuhkan penerjunan dan peliputan bisa berbulan, bahkan tahunan. Media mana yang mau menyisihkan wartawannya yang sudah sedikit, untuk fokus pada peliputan ‘gila-gilaan’ seperti itu?

Kedua, media Indonesia bermodal kecil. Susah mencari keuntungan dari penjualan. Maka iklan dan subsidi dari berbagai pihak menjadi semacam kebutuhan, tapi juga jerat. Sekali lagi, media mana yang mampu membiayai wartawannya berbulan bahkan tahunan untuk melakukan peliputan demi satu artikel jurnalisme sastra yang bagus ?

Ketiga, karena kuantitas wartawan dan modal yang sedikit. Otomatis, media akan lebih cenderung memikiran kuantitas kolom beritanya, ketimbang kualitas.

Keempat, menurut Pak Atmakusumah, pasar pembaca Indonesia bakal membuat Anda gemetaran jika berani-berani coba membawakan style The New Yorker. Pantau, yang diterbitkan Institut Studi Arus Informasi, lalu pindah ke Yayasan Pantau, cuma sempat tampil beberapa edisi sebelum bangkrut betulan dan menyisakan banyak hutang. Biaya operasionalnya terlalu besar.

“Susah memang. Saya terkadang merasa. Tertekan,” Ucap Andreas Harsono suatu waktu.  Kesimpulannya, genre ini memang susah berkembang di Indonesia. Dunia jurnalisme Indonesia sekali lagi tampaknya ditakdirkan merana. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: