Menghindari Disorientasi Berjamaah*

oleh Muhammad Syarafuddin**

SAYA dipaksa berpikir cukup keras ketika diminta panitia untuk mengisi Orientasi Kepengurusan Sukma Periode 2011-2011 ini. Bukan apa-apa, tapi Mei kemarin, seperti Anda dengar di Workshop Jurnalistik Menengah (WJM) 2011 saya sudah terlalu banyak bicara soal manajemen redaksi, tantangan dan visi ke depan sebuah pers kampus. Ditambah sedikit saran tips dan trik untuk mengatasi “keunikan” yang dimiliki oleh pers mahasiswa. Saya takut, jikalau ini hanya akan seperti memutar kaset lama, atau paling minim bicara dengan tema yang berbeda tapi secara isi “serupa tapi tak sama”.

Umumnya, orientasi kepengurusan adalah perbincangan soal menyamakan persepsi, tata kerja dan program kerja. Harapannya, pasca itu pikiran dan gerak tubuh organisasi bisa berjalan seirama setahun ke depan. Meskipun, jika dipikir lebih sederhana, orientasi kepengurusan adalah awal proses regenerasi. Yang lama telah pergi untuk memberi kesempatan bagi yang baru. Namanya juga orientasi, yang dihindari ya disorientasi.

Pertama, menyamakan persepsi. Saya kira, siapapun yang duduk berada disini akan sepakat; persepsi Sukma adalah jurnalisme. Tugas Anda adalah menjadikan media sebagai mimbar bebas bagi pelaporan, kritik dan opini yang positif bagi kepentingan publik kampus.

Dalam poin ini, bisa ditarik dua sisi; dalam dan luar. Dalam, adalah soal kualitas dan dedikasi yang dimiliki oleh jurnalis Sukma, sampai mana? Untuk luar, bisa diajukan pertanyaan, sudah dewasakah kampus untuk menerima kritik—meski dengan rasa paling ekstra pedas sekalipun? Sudahkah kita mendapat akses keterbukaan informasi dan jaminan keamanan dalam menjalankan aktivitas jurnalistik? Mampukah Sukma menempatkan diri dalam konstelasi politik yang paling carut-marut sekalipun?

Kedua, tata kerja atau yang bisa kita padatkan dalam satu kalimat, “Right man on the right place.” Anda yang berada disini adalah rekan-rekan kerja kepengurusan sebelumnya. Juga pastinya sudah membaca AD/ART Sukma. Sedikit-banyak (ya Tuhan, semoga saja banyak) sudah memahami deskripsi tugas dan fungsi masing-masing departemen dan posisi.

Khusus untuk Sukma yang perlu diperhatikan dalam tata kerja, sepengamatan saya pribadi, belum pernah ada periode dimana Sukma benar-benar berhasil mengoptimalkan ketiga departemen yang ia miliki (redaksi, litbang dan usaha). Seringkali, mata kita hanya tertuju pada departemen redaksi. Ini adalah tantangan tak terjawab. Siapa yang bisa memecah kebekuan ini? Apakah itu generasi Anda? Semoga.

Next, Sukma itu proyek martir. Berjuang iya, resiko ada, keuntungan material nihil. Maka ketidakmerataan semangat kerja dan dedikasi dari para anggota lumrah terjadi. Dampak ikutan adalah “raibnya” satu-dua posisi yang bisa menciptakan penumpukan beban di satu titik. Ini suasana kerja yang subur sekali bagi fenomena one man show—satu sisi heroik, di sisi lain ini bunuh diri manajemen.

Ketiga, program kerja. Sebenarnya, orientasi kepengurusan itu satu paket dengan musyawarah besar. Jika kita bicara soal regenerasi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), ini dua hal yang tak bisa dipisahkan. Jika mubes adalah ruang muhasabah kepengurusan setahun silam, orientasi kepengurusan adalah planning untuk setahun kedepan. Kata Orang Banjar, “Nang kaya panci tetamu tutup, klop!”

Prinsipnya sederhana. Jika ada program bagus dan berhasil terlaksana dari yang tua, tugas Anda menjaganya agar kontinu. Ada program jelek, beranikan diri untuk memangkasnya. Ada program cakep tapi masih cacat sana-sini, perbaiki dan selesaikan.

Tradisi itu bagus, tapi selektif dan kritis dalam melihatnya akan lebih bagus lagi. Konteks yang berbeda juga mesti masuk pertimbangan. Yeah, teori bisa muluk-muluk. Tapi dalam praktiknya nanti, Anda mesti berani berkreativitas dan berimprovisasi—dari yang paling moderat sampai yang paling ekstrim sekalipun.

Terakhir, tidak kalah penting adalah soal rasa. Kita manusia bukan mesin. Yang memimpin mesti mau berlelah-keringat untuk mendengar, memahami, dan memberi solusi bagi problem yang dihadapi oleh anggotanya—bahkan masalah pribadi sekalipun, jika itu dianggap bisa memperlamban gerak lembaga. Yang dipimpin selain kritis juga siap-sedia bekerja keras serta ikhlas menerima hasil musyawarah rekan-rekannya. Yang memimpin harus tega memberi tugas, yang dipimpin jangan cepat berpuas diri. []

*Corat-coret untuk Orientasi Kepengurusan LPM Sukma Periode 2011-2012, 7 Juli 2011, di Kantor Redaksi Sukma, kampus IAIN Antasari Banjarmasin.

**Penulis adalah mahasiswa Fak. Dakwah Jur. Komunikasi Penyiaran Islam MKK Pers Islam. Pernah mendapat amanah sebagai Pimpinan Umum LPM Sukma periode 2007/2008 dan Pimpinan Redaksi LPM SUKMA 2008/2009.

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: