Kenangan Bersama Sukma

Foto bersama kru LPM Sukma.

SEMESTER satu, sehabis kuliah, di parkiran kampus ingin balik ke rumah. Sepatuku tanpa sengaja menginjak satu brosur yang kusam dan kumal. Iseng-iseng sambil ngehidupin motor ku ambil dan baca, “Lembaga Pers Mahasiswa Suara Kritis Mahasiswa (LPM SUKMA) IAIN Antasari Membuka Pendaftaran untuk Anggota Baru.”

Aku memang tidak ikut ospek kampus (saya anti sekali dengan “binatang” yang satu ini) dan baru tahu ada pers mahasiswa di kampus ini. Pikir-pikir, kuliah di jurusan komunikasi yang sesak dengan teori media dan jurnalisme, sungguh sayang jika tidak dibarengi praktek. Oke, ikut saja.

Tahap pertama adalah test wawancara di kantor sekretariat LPM Sukma, lantai satu Gedung SC (Student Center) pojok kanan dekat tangga. Kesan pertama aku masuk sekre Sukma, agak berantakan dengan udara yang dipenuh bau mahasiswa. Penanya adalah Abang Taufikurrahman (akrab disapa Abang Opek), ia pakai t-shirt hitam dan celana hitam, rambutnya gondrong. Ia Pimpinan Redaksi Sukma tahun 2004 (jika tidak keliru). Disampingku, ada saudari Fitri Krisnawati, baru kenal, belakangan ia menjadi Redaktur Sukma.

Pertanyaannya cem-macem, mulai dari soal definisi jurnalisme, pandangan kami terhadap media, kenapa tertarik masuk Sukma, hingga tantangan. “Apakah kamu-kamu berani meninggalkan aktivitas kuliah atau bahkan mengambil resiko besar demi tuntutan jurnalisme?” Aku jawab berani saja. Toh kuliah perkara menjemukan. Resiko, ya cuek saja.

Di akhir wawancara, Abang Opek menantangku secara pribadi, “Kita lihat, apa kamu bisa sampai pada posisi seperti saya, seorang pimpinan redaksi!” Aku cuma angguk-angguk.

Berikutnya, selama berhari-hari kami mengikuti PJTD (Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar). Jika berhasil lulus, bisa maju pada fase selanjutnya, WJM (Workshop Jurnalistik Mahasiswa). Ada sekitar 50-an peserta.

Pematerinya bergantian, dari jurnalis berbagai media kenamaan di kota Banjarmasin. Seperti Banjarmasin Post, Radar Banjarmasin, Kalimantan Post, Mata Banua dan lainnya. “Wajahmu terlalu serius, galak sekali. Seperti ingin menerkam pemateri saja,” kata beberapa teman disamping. Aku terlalu antusias.

Seperti kebanyakan pelatihan jurnalistik, isinya tidak teori melulu. Tapi juga belajar menulis dan praktik lapangan. Di PJTD, masih hangat dalam ingatan, tulisanku berupa straight news dibantai habis-habisan oleh abang senior di sesi penilaian. Rasanya malu sekali. “Habis sudah!” pikirku.

Peliputan pertama juga tak kalah buruk. Aku didamprat habis-habisan oleh narasumber. Salahku juga. Tiba-tiba nyelonong masuk memberondong pertanyaan. “Kalo pengen wawancara, perkenalkan diri dulu, siapa Anda dan dari media mana! Tujuan wawancara ini juga jelaskan! Jangan malah tiba-tiba nanya ini-itu!” kata ketua panitia festival teater yang diadakan di kampus. Kakiku gemetaran.

Nyatanya, si bego ini akhirnya masuk juga dalam jajaran reporter. Sempat depresi. Ceritanya begini, ada beberapa tugas peliputan yang aku dapatkan. Jungkir-balik wawancara sana-sini dan menulis sampai begadang, eh, tak ada satupun yang diterima oleh editor. Kalaupun terbit, bau-bau tulisanku hilang sama sekali. Habis dipermak!

Tapi toh aku tetap ngotot. Kalaupun tidak bantu peliputan, ya bantu jadi kuli kasar misalkan ada acara-acara Sukma, entah itu seminar atau diskusi pinggiran. Maen-maen ke kantor redaksi juga rajin. Dampak buruknya, ketularan kawan-kawan, kebiasaan merokok yang sempat lama berhenti mulai lagi. Di kalangan aktivis IAIN Antasari, sedari dulu, sekre Sukma memang juara dalam perihal kabut nikotinnya.

Menjelang akhir kepengurusan dan Musyawarah Besar (Mubes), aku ditunjuk jadi ketua panitia. Sebenarnya, inilah awal dari musibah itu—aku dijagokan sebagai salah satu calon untuk Pimpinan Umum Sukma tahun depan!

Di forum aku baru sadar. Sukma “pecah” dua, antara angkatan tua dan angkatan muda. Yang muda merasakan kejenuhan dengan kondisi yang ada dan memutuskan mesti ada model kepemimpinan yang segar dan baru—akulah tumbalnya. Angkatan tua menjagokan Muhammad Hafidz Ridha, Sekretaris Umum Sukma pengurus sebelumnya.

Aku sama sekali tak bernafsu terhadap posisi itu. Minder malah. Masak aku yang bego ini berani bersaing dengan senior?! Tapi aku juga tak sanggup mengundurkan diri. Kawan-kawan begitu bersemangat, mereka tulus sekali berjudi harapan padaku.

Dalam sejarah Sukma, bisa dikatakan itulah Mubes paling alot. Forumnya sesak, abang-abang senior pada datang semua. Musyawarah beberapa kali deadlock. Lalu voting, hasilnya seri. Voting kedua, hasilnya tetap seri. Suara sama kuat. Akhirnya, lewat tengah malam, voting ketiga aku menang dengan 50% suara lebih satu. Gila!

Maka si bego inilah Pimpinan Umum Sukma Periode 2007-2008. Sesuai skenario, satu tahun kedepan benar-benar menjadi perjalanan yang melelahkan.

Cobaan pertama adalah menerbitkan tabloid edisi khusus menyambut maba (mahasiswa baru). Ini adalah tradisi khas Sukma awal tahun, membuat satu tabloid yang berisi pengumuman kelulusan penerimaan Maba. Artinya, jika lepas sedikit saja, tabloid ini tak laku.

Tema yang diambil adalah gonjang-ganjing RUU BHP. Undang-undang ini adalah proyek privatisasi kampus dan upaya pemerintah lepas tangan dari pendanaan pendidikan. Berbahaya karena kampus hanya akan menjadi milik orang berduit. Di berbagai kampus Indonesia, mahasiswa sudah ramai turun ke jalan menolak undang-undang ini. Tapi di kampus IAIN Antasari malah sunyi-senyap. Sukma memutuskan untuk menjadi pemicu awal.

Repot sekali. Pertama, bertepatan dengan liburan semester, setengah dari reporter Sukma pulang kampung tanpa kasih kabar. Kami yang tersisa dipaksa bekerja lebih keras dua kali lipat. Kedua, deadline amburadul. Tengah malam menjelang penerbitan, tabloid ini baru kelar. Bayangkan, dimana kami bisa mencari gerai fotocopy yang buka pada jam seperti itu?

Aku keliling kota Banjarmasin dengan saudara Iman. Udaranya dingin sekali. Tak ada yang buka. Kira-kira jam 3 malam aku balik ke Sekre, pasrah, gagal terbit. Aku pun menulis SMS permintaan maaf pada semua teman-teman, rasanya ingin menangis.

Pagi sekitar jam 7, aku dikejutkan dengan handphone yang terus berdering dan inbox pesan yang penuh. Ternyata rekan-rekan Sukma sudah siap di gerbang kampus. Maba akan mengerumuni kampus sekitar jam 9 pagi. Masih ada waktu satu jam lebih.

Sekonyong-konyongnya aku meloncat mengambil motor dan ngebut menyebar bersama kawan-kawan ke berbagai penjuru dimana ada gerai fotocopy. Mission success! Aku terharu, kami berhasil terbit, pembaca puas, walaupun agak telat sedikit.

Pulang ke rumah dengan tubuh yang luar biasa capek. Aku langsung mandi dan pergi tidur. Terima kasih kawan-kawan. Salam pers mahasiswa….

***

SETENGAH lebih organ tubuh Sukma lumpuh. Dari 20-30 orang di awal kepengurusan, yang tersisa hanya sekitar 5-8 pengurus. LPM memang memiliki seleksi alamnya tersendiri.  Berhadapan dengan kondisi ini, akhirnya diputuskan, sekretarisku,  Fitri, yang akan menghandle segala urusan manajamen dan hubungan intern-ekstern organisasi. Sedangkan teman-teman lain mengurusi agenda Sukma lainnya, seperti seminar, diskusi pinggiran, ataupun pelatihan jurnalistik. Aku khusus fokus pada keredaksian.

Maka praktis, aku bertindak sebagai editor, reporter, fotografer hingga layouter. Urusan kuliah kukesampingkan. IP buruk sekali. Pikiranku saat itu sederhana, Sukma tidak boleh hilang dari peredaran. Gara-garanya, aku mendapat julukan dari teman-teman aktivis, “The Single fighter.” Dulu aku berbangga dengan julukan itu. Tapi sekarang, aku sadar, one man show adalah bunuh diri manajemen. It’s not cool at all.

Beberapa edisi buletin dan jurnal Sukma sukses terbit. Tapi dengan kualitas buruk sekali. Penulisannya belepotan, editingnya amburadul, lay out jangan ditanya. Dari segi jurnalisme, wah, parah. Jika sekarang ada yang memaksaku mengakui bahwa itu adalah karyaku, malu sekali rasanya.

***

KUALITAS memang seadanya, tapi Sukma tetap jalan—meski ngos-ngosan. Liputan paling mengesankan adalah, saat terjadi rencana penggusuran PKL Jl. A.Yani Km. 1-6 oleh Pemko Banjarmasin, tepat di ujung hidung kampus. Seorang mahasiswi menemuiku, dia minta bantuan, kami akrab memanggilnya Mbak Siti. Dia sudah pergi kesana-kemari tapi dicuekin.

Dua bulan—cuma wartawan bego yang menghabiskan waktu sebanyak ini hanya untuk satu liputan kasus penggusuran biasa—aku mengikuti perkembangan kasus ini. Penghubungku adalah Mas Muhsurun, ia mahasiswa IAIN Antasari juga, keluarga dekat Mbak Siti. Tiap kali mas Muhsuran kirim SMS, aku pasti datang. Peduli setan dengan kuliah. Kadang aku cuma keluyuran di sekitar lapak jualan, coba-coba nyicipin barang dagangan mereka (tentu saja gratis), nongkrong atau menjadi teman pendengar yang baik. Sesekali ikut rapat koordinasi paguyuban PKL.

Sempat juga bolak-balik ke kantor pemerintahan, Satpol PP, Walikota dan Dinas Kebersihan. Dari temuan lapanganku, retribusi kebersihan yang setiap hari pemerintah tarik dari PKL berlebih 100%! Artinya, ada praktik pungli (pungutan liar) yang terjadi terus-menerus. Coba deh hitung keuntungannya, ada berapa ratus PKL yang ada dari Km. 1-6 Jl. A.Yani?!

Awal mula kasus ini sederhana, Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam satu kesempatan berkunjung ke Banjarmasin dan bilang PKL di sekitar jalan utama kota itu kumuh. Maka dimulailah gagasan penggusuran itu dilancarkan Pemko Banjarmasin. Di beberapa titik kota penggusuran memang sudah berhasil, seperti daerah Kayu Tangi dan Gatot Subroto. Tinggal target besarnya, Jalan A.Yani.

Selain meliput, aku juga menjadi penghubung antara PKL dengan kawan-kawan aktivis di kampus. Hingga akhirnya tibalah hari itu, aksi damai dari Gelanggang Hasanuddin HM menuju DPRD Banjarmasin. Repotnya, PKL ini tidak pengalaman bikin demonstrasi. Selain meliput, aku terpaksa bantu mengatur ini-itu.

“Tolong barisan pemuda di depan! Orang tua, anak kecil dan para ibu di barisan belakang. Jika terjadi bentrokan, pemuda bisa menahan dan memberi waktu bagi yang lain menyelamatkan diri!” Aku bingung, memang wartawan boleh melakukan hal ini? Tapi mau bagaimana lagi. “Hey kamu, tolong poster-poster protes itu dihadapkan ke badan jalan sehingga orang bisa melihat. Jangan dilipat!”

Beberapa PKL mulai gelisah dan bertanya, mana kawan-kawan aktivis yang berjanji ingin bantu. Aku bingung. “Sabar pak, sabar. Sebentar lagi datang kok,” kataku sambil celingak-celinguk. Benar saja, tak ada satupun aktivis kampusku yang nongol. Yang datang malah teman-teman dari DEMA Unlam. Alamak, sudah bisa ditebak, akulah sasaran kegeraman kawan-kawan PKL.

“Kecewa dengan kampusku!” kata Pak Sholeh, Ketua Paguyuban PKL Jl. A.Yani yang belakangan aku ketahui juga alumni IAIN Antasari, bahkan salah satu pendiri dari salah satu teater yang ada di kampus. Sedangkan Mas Muhsurun, pria dengan wajah melankolik ini cuma bisa diam dan memasang ekspresi, “Yah sudahlah…”

Syukur sekali, penggusuran berhasil digagalkan. Ada rasa lega dan kemenangan yang terpancar dari wajah mereka. Dimana-mana ada sorak-sorai dan pekik takbir dan tahmid.

Sehabis liputan, aku balik ke kampus. Demonstrasi ini ternyata jadi perbincangan. “Eh, aktivis kita hebat yah! Berani sekali mau membantu rakyat kecil,” itulah opini yang terbentuk di publik kampus. Belum pernah aku semarah itu. Ini kebohongan publik. Faktanya, di lapangan tak ada satupun jaket hijau yang hadir!

Ketika buletin tersebut terbit, penulisannya buruk sekali. Pertama, aku terlibat terlalu jauh dengan objek liputan. Secara emosional aku teraduk-aduk dua bulan bersama mereka. “Tahukah Mas berapa biaya dibutuhkan untuk pendaftaran masuk SD? Ya, anak saya tahun ini masuk SD. Dan satu-satunya mata pencaharian saya ingin digusur pemerintah,” kata seorang bapak padaku.

Kedua, secara emosional aku sangat kelelahan dan marah dengan kawan-kawan aktivis kampus yang berani berbohong sebegitu rupa. Tak pelak, aku melakukan kritik membabi buta. Tanpa disadari, ini semakin membuat posisiku tidak nyaman di kampus.

Sebagai hiburan kecil, tengah malam aku keliling kota Banjarmasin. Aku membawa spidol besar dan mulai menulisi plang-plang pelarangan berjualan yang dipasang Satpol PP dengan beberapa kosa-kata favorit, seperti “Bungul! Anjing! Fuck!” Atau, dari jauh aku ngebut lalu menabrakkan motorku ke plang tersebut sampai roboh. Puas sekali.

Tentu saja, satu tahun itu aku tidak bermain sendiri dikeredaksian. Ada beberapa orang—selain sekretarisku—yang sangat membantu dalam banyak proses penerbitan dan perlu diberi kredit khusus. Ada saudari Rahma Mardina, redaktur pelaksana yang tangguh. Masliani, penulis yang berbakat dan rendah hati. Fitri Krisnawati, pecinta novel dan sastra yang selalu dengan senang hati membantu. Juga Nisa Mahbubah, gadis lincah dan energik. Nisa lah yang mengurusi blog Sukma saat itu.

***

SECARA jurnaslistik, karya-karyaku selama setahun itu buruk sekali. Kritiknya juga tidak tedeng aling-aling, lugu dan naif. Aku sudah membawa Sukma pada posisi yang tidak menguntungkan. Entah itu di mata rektorat atau sesama teman-teman aktivis. Beberapa kali Sukma harus perang secara terbuka di forum-forum mahasiswa dengan rektorat, wah, atmosfernya ramai sekali. “Sukma ini pembuat onar! Menulis sisi negatif kampus melulu!” Begitulah yang aku sering dengar dari beberapa mulut orang rektorat.

Benar saja, dana Sukma dipangkas habis dari 6 juta rupiah per semester menjadi hanya 1 juta rupiah (jika aku tak salah ingat). BEM tak melindungi, bahkan terkesan oke-oke saja. Mirisnya, dibelakangku, beberapa aktivis—yang sudah kuanggap sebagai teman—menemui rektorat dan meminta aku diturunkan atau Sukma dibredel saja sekalian.

Ada juga yang mengatakan hal itu disebabkan arah pemikiranku. Saat itu aku memang gandrung sekali dengan pemikiran dari tokoh semacam Sayyid Quthb, ideolog Ikhwanul Muslimin yang kemudian digantung oleh pemerintahan Abdul Nasser; Ali Syariati, pioner Revolusi Iran yang kemudian mati dibunuh SAVAK, agen khusus Iran; Taqiyuddin An-Nabhani, pemikir dan politisi jenius pendiri Hizbut Tahrir; atau Mohammad Natsir, tokoh terkemuka dari Masjumi, partai politik Islam terbesar dalam sejarah Indonesia. Walaupun lucunya, aku juga suka mengutip Antonio Gramsci, Pramoedya Ananta Toer dan Noam Chomsky.

Membingungkan. Jika memang mereka tidak suka dengan tulisan-tulisan Sukma, toh bisa pakai surat pembaca atau hak jawab. Kok, malah nyosor main kasar, intrik politik bahkan pangkas dana segala. Ini kampus atau kampung preman? Kaum intelektual masak begini sih gayanya? Kalau mereka juga tidak suka dengan diriku (aku selalu memakai byline), loh kenapa Sukma dibawa-bawa? Piye to iki.

Aku sempat diteror dengan telepon-telepon gelap yang memakai nomor pribadi. Diperingatkan oleh beberapa dosen dan teman mahasiswa untuk lebih berhati-hati. Terakhir, di belakang masjid kampus hampir saja dikeroyok oleh beberapa mahasiswa.

Hingga aku mengerjakan skripsi, kondisi kampus tidak banyak berubah. Masih sering terdengar ada kasus pengeroyokan mahasiswa, ironisnya itu banyak dilakoni oleh kaum aktivis. Faktanya, di kampus ini otot lebih gress ketimbang otak. Aku cuma bisa geleng-geleng kepala.

***

AKU juga mudah terkenal karena suka berdebat dengan para abang senior. Secara pribadi aku sih biasa-biasa saja. Tradisi diskusi dan berdebat di mahasiswa itu bagus. Tapi memang tidak selalu selurus itu. Beberapa senior agak merasa terganggu. Well, saat itu aku memang masih begitu “muda dan terlalu bersemangat.”

Lewat tulisan ini aku ingin meminta maaf jika banyak salah kata atau sikap. Tak ada benci apalagi dendam. Aku tetaplah junior yang banyak mengambil pelajaran dari para abang-abang.

Perbedaan yang cukup kentara antara sikapku dan sikap senior adalah, karena aku tidak mau Sukma hanya sekedar mengkritik rektorat. Mahasiswa atau aktivis sekalipun juga boleh. Siapapun yang salah dan zalim, dia wajib dikritik! Budaya orang Banjar memang susah, ketika kita sudah terlanjur akrab, kritik atau teguran menjadi sesuatu yang asa kada nyaman, bubuhan kakawanan jua.

***

BANYAK kisah lucu bersama Sukma. Sebagai lelaki yang lebih banyak dikeliling oleh rekan kerja wanita, memang suka bikin sewot. Biasanya, Ifit, Yanie, Rahma, Nisa dan lainnya akan secara serempak berdiskusi tentang dampak negatif rokok pada kesehatan. Aku yang asik merokok disamping, cuma bisa terdiam. Percayalah kawan, sehebat dan semahal apapun merk rokokmu, jika berada dalam kondisi begitu pasti bakal terasa hambar dan tak enak.

Kadang saat aku tertidur di sekre Sukma dan tak berbaju karena kepanasan. Ketika Ifit atau yang lainnya masuk, mereka akan berteriak histeris dan memintaku secepatnya berpakaian. Mungkin mereka merasa kagum dengan betapa seksinya postur tubuhku.

Aku pernah sekali waktu, membawa beberapa poster favorit untuk ditempel menghias dinding sekre Sukma, misal Kurt Cobain, vokalis sekaligus gitaris Nirvana, legenda dan pendiri aliran musik Grunge. Beberapa hari kemudian, semua sudah hilang bersih. Siapa lagi jika bukan wanita-wanita perkasa itulah yang melepasnya. Geram juga hati dibuatnya.

Teman-teman aktivis suka bikin guyon, bahwa Pimum Sukma sebenarnya itu adalah saudari Ifit, bukan aku. Loh? Soalnya, yang suka marah-marahin para reporter itu adalah dia. Aku orangnya cuek saja. Suka sibuk sendiri di depan monitor.

Tapi, yang paling mengenaskan dari semua itu adalah tragedi nasi kotak. Seusai acara Sukma, setelah semua orang pulang, Ifit dan lainnya suka berjibaku mengumpulkan kembali nasi kotak yang sudah disadap para undangan. Mereka memilah-milih, lalu merapikan kotak nasi tersebut dan menyimpannya di lemari untuk kembali dipakai lain waktu.

“Itu kan sudah kotor, kenapa disimpan lagi?” celaku.

“Penghematan Put, penghematan. Lumayan,” jawab Ifit cuek.

“Tapi kan jadi sarang bakteri?!” debatku.

“Sudah, diam saja. Relaks, tak ada yang tahu kok,” tutup Ifit. Aku suka patah arang jika berdebat dengan mereka.

Belakangan, inilah yang membuatku tidak mau makan dari nasi kotak Sukma. Bayangkan, satu kotak nasi bisa dipakai berkali-kali dalam jangka waktu berbulan-bulan!

Biarpun aku menyebut mereka sebagai wanita perkasa. In the end, belangnya ketahuan juga. Jika rapat sore hari dan televisi  menyala. Bisa dipastikan, rapat akan setengah gagal. Asik nonton infotainment. Mereka akan terpana dan berteriak histeris serempak menyebutkan nama artis cowok cakep dan segar yang kebetulan sedang nampang di layar. Nyatanya, mereka tetaplah wanita biasa yang mudah tergoda oleh iblis yang ganteng. Sayang, parasku pas-pasan.

***

SETAHUN lewat, Masliani menggantikan posisiku sebagai pimum. Sempat membuat banyak orang terkejut. Ya, ia adalah Pimum Sukma pertama dari kaum perempuan. Rekor baru. Kali ini, aku berhasil melunasi tantangan Bang Opek untuk menjadi pimred. Sukma banyak mendapat darah baru dari angkatan yang baru masuk.

Tentu saja aku tidak mau mengulangi kesalahan dua kali. Tugasku hanya mengatur rapat redaksi dan membina adik-adik reporter semampuku. Aku hanya bertindak selaku editor dan penulis kolom yang saat itu kami namai “Pojok Kampus”. Tercatat beberapa nama reporter yang membuatku terkesan: Ridho Muarief, Abdurrachman Ardhi, Heru Soedarmadji, Kaharuddin Eka Putra, dan lainnya.

Aku sendiri sekarang lebih banyak sibuk di luar. Kujuk-kujuk ke toko buku, perpustakaan, warung internet, ikut pelatihan jurnalistik di luar, hingga berkesempatan magang jadi reporter di Tabloid Serambi UmmaH. Aku ingin memperluas wawasan soal media dan jurnalisme. Atau, memperbaiki kuliah yang sempat amburadul terbengkalai setahun kemarin. Sembari tetap bekerja serabutan untuk menambal biaya kuliah.

Ada satu pengalaman manis. Ketika aku sedang asik nongkrong di parkiran motor fakultas atau sedang merokok di suffah mesjid kampus. Ada beberapa mahasiswa-mahasiswi yang tak kukenal menyapa. Rata-rata menyampaikan hal yang sama, “Saya suka baca tulisan Anda. Terima kasih Anda sudah mau menulis tentang hal itu dan hal ini.” Saya girang sekali. Perasaan ini tak bisa ditukar dengan materi atau apapun.

Jika masih saja ada yang bertanya soal riwayat kerjaku di Sukma, aku akan jawab: Secara pribadi, ya, aku berhasil. Tapi sebagai orang yang sempat memimpin Sukma, harus diakui, aku gagal.

***

SELEPAS dari posisi pimred, praktis aku sudah jarang ke Sukma. Selain karena pekerjaan sampingan, seperti jasa pengetikan dan menjadi guru les private. Juga karena aku merasa sudah terlalu “tua”. Tidak bijak jika terus-terusan berada di Sukma. Yang tua harus pergi agar yang muda bisa mendapat kesempatan.

Secara sosok dan kebijakan aku sudah out. Tapi untuk sumbang pemikiran, sharing dan diskusi soal media dan jurnalisme aku masih oke. Sampai hari ini, Sukma masih suka mengundangku untuk mengisi pelatihan jurnalistik, diskusi atau seminar. (Anda tidak akan tahu betapa berartinya ini. Terima kasih.)

Lagipula, era telah berubah, tantangan dan problem yang dihadapi juga berbeda. Secara kepengurusan mereka jauh lebih solid, engga bolong-bolong. Orang-orangnya kreatif. Terakhir, mereka berhasil bekerja sama dengan Banjarmasin Post dan meluncurkan situs berita Sukma. Mengesankan!

Tercatat, setelah Masliani, estafet posisi Pimum Sukma berlanjut pada saudara Heru Soedarmadji, dia ini kocak dan lugu sekali orangnya. Gaya tulisannya mengalir dan enak dibaca. Lalu digantikan lagi oleh saudara Muhammad Rohy, anak manis yang ramah. Bahu membahu ia bersama pimred, Kaharuddin Eka Putra, sukses melakukan perbaikan kinerja internal Sukma disana-sini. Pasca Rohy, ada Muhammad Nor Abdi. Aku suka sekali dengan featurenya, ia menulis kisah pahit-getir kehidupan paman pentol daging (beliau jualan didekat gerbang masuk kampus) yang ternyata juga saksi hidup kampus dari awal dibangun hingga kini.

Sialnya, dari angkatan Sukma 2005-2006, akulah yang tersisa. Andi, Hafidz, Raudah, Ifit, Rahma, Yanie, Nisa, Fitri, Adi Ram, Ridho dan lainnya sudah lulus dari kampus. Gara-garanya, saudara Ridho sempat memberiku julukan “Mesin Tua”. Wew, secara berat hati aku mesti menerimanya.  []

Tags: ,

14 Comments to “Kenangan Bersama Sukma”

  1. salam.ulun salah seorang yg salut dgn pian.ini bukan pujian tp cercaan yg benar dari hati.pengalaman, perjuangan, pengorbanan yg sangat luar biasa.jarang ada orang yg seperti pian.lumrah bagi seorang pemuda untuk tau dan mencari tau suatu kebenaran hingga akhirnya dia mengetahui yang mana kebenaran sebenarnya.trims tulisannya sangat menggugah.rsa balik ke jaman mahasiswa.

    • TERIMA kasih, ini komentar yang sangat membesarkan hati. Saya kira, setiap kawan-kawan aktivis mahasiswa punya kisah-kisah yang menarik. Hanya saja, jarang yang mau menuliskannya, kadang cuma habis untuk nostalgia saat bertemu dengan adik-adik angkatan. Tulisan ini saya buat sebagai upaya, bahwa kita bisa mengenang sesuatu dengan cara yang lebih asik. Anda orang baik, sekali lagi terima kasih.

  2. umaaa put mengharukannya kisah kam neh,,,lucu2 tapi benar mengharukan,,,jd k’ingatan pulang q,,,hiks,,,

    • BAGI para pembaca yang lain, sosok Fitri sang sekretaris dalam tulisan itu, inilah orangnya.
      Ya Fit, tulisan ini saya dedikasikan untuk kalian. Orang-orang baik tempat saya banyak belajar. Saya juga merindukan masa-masa itu.

  3. wah, semua terangkum disini, salut,,hehe 😀

    • KADA. Beberapa paragraf terpaksa saya cut karena alasan tertentu.
      Mas Kaharuddin, terima kasih sudah singgah, Anda adalah salah satu Pimred Sukma favorit saya. =)

  4. Membangun sukma dari ambang kehancuran ya bang.
    Sukurlah LPM Sukma saat ini menjadi salah satu UKM yang diperhitungkan dan mendapat tempat tersendiri di hati mahasiswa.
    semoga kedepannya lebih baik dan diisi dengan ide-ide brilian yang konstruktif dari kawan2 penerus,
    walaupun ada siklus yang seolah terus berputar dalam setiap generasi sebagaimana pandangan Ibnu Khaldun “generasi perintis, generasi pembangun, generasi penikmat, dan generasi penghancur”.

    • WAH, kalo dikatakan “membangun Sukma dari ambang kehancuran” agak jumawa juga, engga sepakat, saya tidak seheroik itu.
      Ya, mari kita doakan sama-sama. Oh ya Mas Lumut, Anda berhutang cerutu (upah editing tulisan kemarin itu) dengan saya, ingatkah Anda?

  5. oh ia maaf saya, lupa…secepatnyaaaa.heheheh

  6. plok plok plok,,,, standing ovation,,,, 😀

  7. put,,,q ndak baca kisah paman pentol,,,,tulisannya ada dimana,,,tabloid sukma kah,,,

  8. “mesin tua” maaf kawan kisanak hanya ini kenangan yang aq berikan padamu….

  9. just fyi, aku belum ****s put ae Xo Xo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: