Bukan Artikel Religius

SAMA halnya seperti politik, agama juga memiliki sisi gelap. Buah dari proses timbal-balik antara konsep dan praktik. Agama telah dibajak—atas nama kreativitas atau apapun itu. Agamawan membangun teologi yang ruwet dan muskil, presiden jahat berlindung dengan nama tuhan, politisi menjual ayat tuhan untuk mendukung kampanyenya, pemuda tanggung untuk proyek terorisme setengah hatinya. Seorang atheis biasanya memanfaatkan bagian-bagian terbaik ini untuk membangun argumennya.

Sartre, filsuf eksistensialis, mendeklarasikan atheisme bukan sebagai pembebasan yang menyenangkan, tapi tindakan heroik yang suram. Kata Sartre, ada lubang kosong yang menganga di jiwa manusia, dulunya ia ditempati tuhan. Naluri mencari tuhan dan beragama adalah sesuatu yang alamiah dalam diri anak manusia.

Bagi orang beriman, akal dan bahasa, jika terus-menerus dipaksa berjalan akan sampai pada batasnya. Di ujung batas itulah, segala misteri dan pertanyaan menumpuk. Alih-alih membawa kebingungan, justru dari sanalah sumber pengakuan yang jujur, betapa kita sangat tidak tahu. Ketidaktahuan menjadi sumber dari ketakjuban dan keterpesonaan. Bahwa Ia yang akbar tidak bisa ditangkap dengan pikiran dan dideskripsikan dengan kata-kata.

Tapi ini zaman yang berbeda. Ditengah gegap-gempita abad kemajuan sains-teknologi, ilmiah-rasio, orang semakin ingin jawaban yang pasti dan terang. Ketika agama ternyata juga tak mampu memenuhi hal tersebut. Atheisme mendapat tempat.

Dulu, para peragu yang hidup di lingkungan religius terpaksa menganut atheis tak terucapkan. Tapi sekarang, mendaklarasikan diri sebagai atheis bukan lagi sesuatu yang aneh. Bukan lagi hak segelintir filsuf.

Padahal sedari awal agama memang tidak didesain seperti itu. Agama dan sains punya tempatnya masing-masing. Yang satu membantu kita untuk hidup lebih efisien-efektif, satunya lagi membantu kita untuk hidup dengan etis.

Sains bisa menjawab pertanyaan soal mengapa hujan turun, mengapa gerhana terjadi, dan asal-usul ketombe rambut. Tapi sains tidak bisa menjawab kegelisahan manusia—penderitaan, kesedihan, kebahagiaan, syukur, atau kematian.

Agama mirip dengan seni atau musik. Anda bakal pusing membaca corat-coret not balok. Tapi ketika not tersebut dipindahkan ke alat instrumen, satu pertunjukan yang indah, emosional, bahkan mempengaruhi kognisi, terjadi dihadapan para pendengarnya.

Tak ada gunanya jika Anda tiap hari baca buku panduan sholat, puasa, atau zakat tapi tidak pernah mempraktikkannya. Agama adalah iman (dengan penuh wallahu’alam bis showab) dan laku praktis (amaliah). Sesuatu yang menuntut hidup etis, dedikasi dan latihan seumur hidup. []

NB: Tulisan ini adalah renungan sehabis membaca The History of God (1991) dan The Case of God (2009), keduanya karya Karen Armstrong.

NB lagi: Menurut Max Weber, manusia masa depan hanya akan bersandar pada rasionalitas, bukan iman. Sigmund Freud bilang sains akan menggantikan agama. Friedrich Nietzsche mendeklarasikan tuhan sudah mati. Auguste Comte menulis teori bahwa tiap masyarakat akan meninggalkan fase teologis dan masuk ke fase ilmiah dan positif. Peter Berger meramalkan kehidupan orang beriman di abad ke-21 akan terkucil. Marx dan Engels mengutuk agama sebagai candu. Tapi toh, agama tak juga mati-mati.

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: