Ramadanku Sayang, Ramadanku Malang

Marhaban ya Ramadan, bulan penuh rahmat bagi iklan, artis, PH dan televisi.

SOAL ganjaran pahala, ampunan dan berkah yang dijanjikan Allah dalam Ramadan, saya kira kita semua sudah hapal luar kepala. Tidak perlu ditulis berulang-ulang.

Ramadan tahun 1432 H ini dalam banyak sisi tetaplah sama. Satu hari menjelang Ramadan, layar televisi sudah dipenuhi dengan beragam iklan sinetron religius. Meski pada hakikatnya, hanyalah roman picisan biasa yang dibumbui dialog penuh ucapan istighfar atau tahmid. Aktor dan aktrisnya tampil dengan baju koko, peci dan kerudung dari butik mahal.

Iklan produk makanan dan minuman—yang itu-itu juga—tampil sedikit berbeda dengan mengambil tema sahur atau berbuka. Lalu perang provider telekomunikasi seluler yang menyajikan beragam pilihan, dari paket sahur hingga paket mudik. Mendekati akhir Ramadan, giliran iklan panganan untuk teman berlebaran. Atau, iklan diskon murah meriah baju-celana dari berbagai pusat perbelanjaan.

Tingkat konsumtivisme umat malah makin menanjak di bulan Ramadan. Aneh, sebab spirit Ramadan itu sendiri adalah menahan diri untuk tidak berlebihan dan solider dengan mereka yang termiskinkan.

Di lain pihak, beberapa musisi atau band merilis album religius. Dengan cover album memakai simbol bulan bintang atau masjid. Dalam video klipnya, seperti biasa mereka menenteng gitar dan menggebuk drum, tapi kali ini berpeci dan atau bergamis putih. Aransemen musik sering seadanya, liriknya menyayat hati meminta ampunan, kadang hanya daur-ulang dari berbagai lagu kasidah lama. Maksa dan tak kreatif. Musik mereka inilah yang akan kemudian dijadikan original soundtrack sinetron Ramadan.

Para dai—yang lahir dan tumbuh besar di media—juga tak mau ketinggalan. Jika 11 bulan yang lewat mereka hanya nampang di acara siraman rohani subuh, kali ini mereka tampil prime time, sahur dan menjelang berbuka puasa. Jangan berharap mereka akan memberi ceramah yang serius, kritis dan memiliki kepekaan sosial. Ceramah mereka renyah, banyak gaya, dan kering.

Para dai ini biasanya hadir di akhir acara setelah beberapa pelawak tulen, banci kaleng, cekikikan penonton studio, presenter tak lucu, dan kuis-kuis tampil menghibur pemirsa di rumah. Artinya, ceramah mereka hanya bersifat sisipan. Hal pertama dan utama tetaplah hiburan. Kalaupun ada pesan moral yang baik dari acara tersebut, tidak lebih dari sekedar strategi pemasaran. Kita menamainya “Ramadantainment”.

Dalam prime time Ramadan, teman sahur dan teman menunggu berbuka, slot iklan bisa mencapai miliaran rupiah, rating acara bisa membuat air ludah produsen televisi manapun menetes deras.

Kalaupun ada pengecualian berbatas, itu adalah sinetron garapan Deddy Mizwar dan diskusi tafsir asuhan Quraish Shihab. Maka godaan terbesar Ramadan setelah hawa nafsu adalah siaran televisi. Kakak saya sampai bilang, kualitas puasa seseorang sangatlah ditentukan oleh seberapa sedikit waktu yang kita habiskan untuk duduk di depan televisi.

Jika kita memang benar-benar merenungi semangat Ramadan, ia justru anti-kapitalisme. Tapi seperti kebanyakan nasib suatu simbol perlawanan, kapitalisme tidak perlu merepotkan diri untuk mengalahkannya, ia hanya perlu diserap dan disesuaikan dengan logika pasar. Ramadan akhirnya menjadi komoditas, tidak ubahnya seperti ragam produk budaya popular lainnya. Bedanya, ia hanya hadir satu tahun sekali dalam kurun 30 hari. []

2 Comments to “Ramadanku Sayang, Ramadanku Malang”

  1. Assalamu’alaikum akhi… apa kabar neh? semoga antum sehat selalu…
    wah, sekarang semakin “hidup” ya!!

    -diksi yang disengaja#sambil mesem-senyum-

    WOI, wahini tahun 1432 H, kenapa maka ditulis 1431 H. btw, sekekali handak baelang ke rumah, diterima ja lah?
    mudah ja kada menganggu… hehe

    • Wa’alaikum salam.

      Ups, thanks Mas Tohir atas ralatnya. Maklum, faktor umur cukup mempengaruhi.
      Tidak masalah, silahkan berkunjung. Tapi dengan catatan, tolong bawa satu liter soda dan sebungkus martabak. Tanpa itu, tamu saya tolak. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: