Karangan untuk Abah*

Bagaimana seorang anak kecil memandang Jumat Kelabu Banjarmasin, 23 Mei 1997

 

AKU suka Banjarmasin. Kota ini punya segudang permainan musiman. Entah kapan tanggal dan bulannya, tapi perpindahan dari satu musim ke musim lain terlihat rapi. Serentak seperti ada yang mengkomando. Kami harus selalu siap sedia mengikutinya. Jika tidak, resikonya, tak punya teman main. Kemarin baru saja lewat musim main ketapel kayu. Sekarang musim main kelereng.

Selagi asik bermain kelereng di gang sebelah, Pak Agus menghampiri kami, “Orang tua kalian ribut mencari-cari kalian. Cepatlah pulang, jangan buat mereka lebih khawatir.” Kebetulan sekali. Sedari tadi aku kalah banyak. Sekantong penuh kelereng yang tadi kubawa, setengahnya sudah berpindah tangan. Ini kesempatan untuk mengakhiri permainan.

Cepat-cepat kami mengantongi kelereng. Sepanjang jalan menuju rumah, kami melihat banyak orang ribut dan berkumpul mengelompok. Secara bersamaan mereka melongok ke atas langit. Hitam dan kelabu, seperti ada kebakaran besar terjadi dimana-mana. Paman dan bibi warung tergesa-gesa menutup kios dagangannya. Aku mempercepat langkah kaki.

“Besok kita main lagi yah!” teriak Sukri yang lebih dulu sampai di rumahnya. Sukri adalah temanku sebangku di kelas 3 SD. Ia punya tahi lalat yang manis dipipinya.

Di beranda rumah, sudah berkumpul beberapa tetangga. Kakakku, Nirwan langsung menghampiri. Meremas kuat bahuku dan mencak-mencak karena khawatir. “Kamu ini kemana saja! Dicari-cari dari tadi! Kalau main jangan jauh-jauh!”

Belum sempat aku membela diri, mama sudah melerai kami. “Sudah Nirwan, cepatlah kau pergi.” Kakak menghidupkan motor . “Jaya, tetap di rumah bersama mama!” teriaknya padaku.

“Ada apa, ma? Kenapa semua orang ketakutan?”

“Ada kerusuhan di tengah kota,” kata mama dengan nada khawatir.

“Orang-orang mengamuk dan menjadi gila. Mereka melakukan razia bagi siapa saja yang memakai baju Golkar. Tadi ada wanita muda yang ngebut naik motor cuma memakai BH, kaosnya dilucuti…” kelanjutan ranyauan tetanggaku itu tak lagi terdengar jelas. Mama keburu menutup kedua telingaku dan menarikku masuk ke dalam rumah. Kulihat, ia masih meranyau dengan histeris, dikerumuni banyak orang.

 

***

 

Abah adalah ketua RT, kakak seorang mahasiswa. Tadi malam abah dan kakak bertengkar lagi. Pasalnya, kakak coba mencegah abah ikut kampanye besok. Aku tidak terlalu paham pertengkaran mereka. Ruwet. Yang pasti cuma karena berbeda warna kaos. Abah kuning, kakak hijau. Mereka cuma berdamai ketika sedang menonton sepakbola di televisi.

Aku suka sekali menyelinap meminjam ikat kepala milik abah dan kakak. Kuning kupakai, hijau kukasihkan ke Sukri. Kami berlagak seperti pendekar yang bersaing menguasai dunia persilatan. Meniru-niru jurus maut dari komik bacaan kami. Jika ketahuan, kami dimarahi. Katanya itu bukan mainan.

“Bah, Pak Harto itu zalim pada rakyat.”

“Kamu itu masih muda, Nirwan. Tahu apa kamu.”

“Tapi, bah…”

“Cukup! Abah sudah terlalu lelah dengan diskusi macam ini!” bentak abah sambil memukul meja. Kakak terdiam dan keluar rumah.

 

***

 

Sehabis Isya, hanya kakak yang pulang, abah tak ada. Listrik padam, lilin menyala.

“Abah kemana, kak?!” cecarku sambil merengut jeansnya. Kakak cuma terdiam dan tidak berani memandang wajahku. Tangannya mengepal gemetar, seperti ingin menampar-nampar sesuatu.

“Sudahlah Jaya, besok abah pasti pulang. Mungkin ia bermalam di rumah paman,” kata mama sembari menyeka air mata di pipiku dengan dasternya yang bercorak bunga-bunga, warnanya sudah pudar.

“Nirwan, kalian harus mengungsi. Warga khawatir rumah kalian akan….” belum sempat Arul menyelesaikan kalimatnya, ia sudah ditarik keluar oleh kakak.

Sejurus kemudian aku dan mama sudah di rumah nenek. Dekat saja, sepuluh menit berjalan kaki. Kakak tidak ikut, ia ronda malam bersama orang-orang kampung. Kulihat, masing-masing dari mereka menenteng senjata tajam: parang, arit, samurai dan tombak. Kakak sendiri memegang pisau belati kesayangan abah.

Nenek menghiburku dengan coklat batangan. Tapi aku malah menangis. Teringat abah yang sangat suka memanjakanku dengan mainan baru, komik, coklat, memboncengku bersepeda tiap pagi Minggu, atau menemaniku mengerjakan PR yang sulit, matematika!

Abah juga selalu menyediakan hadiah jika aku berhasil masuk rangking lima besar. Kemarin aku rangking empat. Abah membelikanku sekotak crayon warna. Hatiku sungguh girang. Caturwulan kedepan, abah menjanjikan sepeda.

Abah disukai oleh orang sekampung karena sifatnya yang ringan-tangan dan humoris. Abah cuma garang dalam dua hal: Pertama, jika ada yang berani meledek partai kuning didepannya. Kedua, jika aku bermain-main dengan koleksi kesayangan Abah, sekotak penuh kaset tape Rhoma Irama.

“Sudahlah Jaya, berdoalah semoga abahmu selamat,” kata mama sembari mengajakku ke tempat tidur. Ia memakaikan aku sarung bermotif kotak-kotak merah hitam untuk selimut tidur.

Rebahan di ranjang malah membuat mataku nyalang. Lima, sepuluh… lima belas menit, tak juga kunjung tertidur. Aku memutuskan duduk dan merengkuh coklat di meja. Aku makan tanpa bunyi. Repot jika ketahuan mama, bisa disuruh sikat gigi ulang.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka, itu mama. Ia tersenyum melihatku lahap memakan coklat. Dari cahaya lilin yang remang-remang, kulihat mata mama yang sembab.

“Ma, untuk malam ini saja, boleh kan aku pergi tidur tanpa perlu sikat gigi lagi?”

 

***

 

Sudah lebih dari dua minggu abah tidak pulang ke rumah. Beberapa kali aku mendapati mama yang sedang bersembunyi dan terisak. Gara-garanya, aku enggan menangis lagi. Nenek juga jadi sering ke rumah, membawakan aku komik atau kue bolu buatannya.

Kemarin, di sekolah, tanpa sengaja aku mendengar perbincangan guru-guruku, “Hilang itu hanya penghalusan bahasa dari kata tewas,” kata guru bahasaku. “Kasihan, mati tanpa harus tahu kemana menziarahinya,” sahut guru olahragaku. Ketika aku mendekat, mereka tercekat dan diam. Wajah mereka berubah. Seolah-olah sedang memelas maaf dariku.

Teman-teman di kelas juga semakin ramah, tidak segan-segan mereka mentraktir aku makan mie bakso. Sudah pasti aku meminta bakso yang dibubuhi sambal pedas. Kesukaan abah pada makanan pedas ternyata menurun kepadaku.

Kakak memutuskan berhenti kuliah, ia sekarang bekerja di toko milik temannya. Kakak ingin mencari nafkah untuk keluarga. Padahal, kuliah kakak sebentar lagi kelar. Dulu ia suka mengajakku ke kamarnya. Menunjukkan berbagai buku tebal yang membosankan. Tak ada gambar apa-apa, isinya cuma huruf. “Jaya, aku akan menjadi sarjana dan bekerja sebagai guru,” sangat sering ia menggumam seperti itu padaku.

Malam sepulang kerja dan kecapekan, aku suka memijat bahu kakak dan membuatkan kopi untuknya. Sering ia tertawa geli sehabis mencicipi kopi buatanku. “Ini kopi rasa gagal,” ucapnya suatu waktu. Aku dan mama ikut tertawa. Meskipun begitu, gelas kopinya selalu habis tak bersisa. Kemudian, ia duduk di pelataran dan menyalakan rokok. Kakak tidak pernah merokok dihadapanku.

Jika sedang tak ronda malam—tidak seketat dulu, tapi masih berjalan—dan tidur di rumah, kakak selalu mengigau dengan setengah berteriak, “Jangan! Aku mohon, jangan!” Detik berikutnya ia terbangun, berjalan pelan ke dapur mengambil air putih.

Belakangan, Arul sahabat kakak bercerita. Sore itu, selagi kakak mencari abah di tengah kota, sendirian ia berusaha menghalau massa yang ingin membakar sebuah pusat perbelanjaan—abah dan mama suka mengajakku kesana untuk beli baju lebaran. Kukira, itulah sebab kenapa kakak jadi suka bermimpi buruk.

Aku tidak mengerti, bagaimana bisa dalam hitungan jam orang-orang Banjarmasin yang ramah dan biasa kutemui di jalan berubah menjadi begitu beringas. Orang dewasa memang sulit untuk dimengerti.

Ini Minggu pagi. Di pekarangan kami yang asri mama sedang membakar sampah, daun kering dan berbagai kain kuning-hijau milik kakak dan abah. Sedangkan kakak duduk di ruang tamu. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Di meja, berserakan koran lokal, gunting, lem dan beberapa lembar HVS kosong. Aku tersenyum, ini mirip seperti tugas kliping yang pernah kubuat untuk mata pelajaran IPA (Ilmu Pengetahuan Alam). Aku ingin membantu kakak membuatnya. Aku mendekat lalu mengambil satu potongan. Disitu tertulis:

“Tim Pencari Fakta YLBHI mencatat 123 korban tewas, 118 luka-luka, dan 179 orang hilang. Menurut Komnas HAM, laporan mengenai angka yang hilang sebanyak 199 orang, tetapi kemudian dua orang sudah kembali, sehingga jumlah orang hilang sebanyak 197. Jika angka orang hilang ini dianggap sebagai tewas (yang sangat besar kemungkinannya), maka perkiraan korban tewas antara 302 hingga 320 orang.

Korban tewas di Plaza Mitra dikunjungi tim pencari fakta Komnas HAM pada 31 Mei 1997. Dua jam kemudian, 120 di antaranya dikuburkan secara massal dengan tata cara Islam di kompleks pemakaman Landasan Ulin Tengah, kecamatan Landasan Ulin, Kota Administratif (sekarang kota otonom) Banjarbaru, yang terletak 22 kilometer sebelah tenggara Banjarmasin.”

 

***

 

Dengan halus kakak mengambil potongan koran itu dari tanganku. “Ikut kakak jalan-jalan ke pasar yuk,” ucapnya pelan. Aku mengangguk saja. Pasar ini berjarak tiga gang dari rumah kami.

Di pasar, kami berjalan bergandengan tangan. Saat asik memilih kue-kue basah untuk mama, aku merengek pada kakak minta dibelikan layang-layang dan benang. Di atas langit kulihat sudah ada tiga-empat yang beterbangan. Kakak mengiyakan dan memilihkanku layang-layang putih dengan garis ungu tua. “Jangan yang kuning, hijau juga jangan,” ucapnya lirih menunjuk-nunjuk tanpa bisa kumengerti.

Habis keluar pasar aku melihat Sukri yang melambai-lambaikan tangan. “Kak, itu Sukri. Aku pergi main dulu,” genggaman tangan kakak kulepas.  Kakak mengangguk tersenyum. Entahlah, dalam suatu cara tertentu, mata kakak terlihat kelabu sekali.

Bersama Sukri aku berlarian menenteng layang-layang. Sukri sendiri kehilangan seorang paman dalam kerusuhan itu. Tapi dia mengaku tidak terlalu bersedih hati. Sukri tidak terlalu akrab dengan sang paman.

Di lapangan bermain teman-teman sudah berkumpul. Masing-masing membawa kaleng susu bekas yang dililiti oleh benang gelas dan layang-layang beragam warna. Anak-anak Banjarmasin tengah berada di musim main layang-layang. Abahku hilang di musim main kelereng kemarin. []

 

Banjarmasin, 24 Juli 2011

*Cerpen ini ikut Aruh Sastra Kalsel 2011, karena kalah tapi sayang dibuang, jadi diposting kesini. Lumayan buat nyesakin kolom ini blog.

Tags: , ,

4 Comments to “Karangan untuk Abah*”

  1. Terasa sekali Banjarmasin Tempo dulu… 🙂

    • Iya Mas Restu, rasanya bersyukur sekali memiliki masa kecil yang dikelilingi berbagai permainan musiman seperti layang-layang, gapok, kelereng, dan lainnya. Kasihan anak-anak sekarang, mereka terjebak di warnet game online. Antara yang ” berkeringat dan nyata” dengan yang “virtual dan semu”. Trims sudah mau berkunjung. Salam.

  2. kalau aku jadi juri, cerpen ini juara satu

Leave a Reply to ran Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: