Kayuh Baimbai Sepeda Pian

 

BERMULA dari status Facebook Adi Ram dari Tagayan Hijau, “Untuk memperingati hari ozon dan hari bebas berkendaraan bermotor sedunia, kegiatan nyata apa yang bisa kita gelar?” Iseng-iseng saya kasih komentar, “Bersepeda keliling kota Banjarmasin”. Usul itu ternyata diterima. Mulailah beberapa kawan dihubungi untuk kumpul-kumpul membicarakan aksi ini.

Dari beberapa kali rapat, kita akhirnya berhasil mematangkan konsep aksi bersepeda pada pagi Rabu, 22 September tersebut. Rutenya menyisir jalanan Ahmad Yani, Jalan Jati, naik Jembatan Soedimampir, terus ke Bundaran Hotel Arum. Start dan finish di depan kampus IAIN Antasari.

Alasan singgah di beberapa kantor pemerintahan tersebut jelas bukan untuk rehat. Pertama untuk audiensi, dan kedua untuk memberi hibah berupa pot berisi arang dan ranting kering yang dikasih label “Kalimantan Selatan”. Sebentuk sindiran, bahwa inilah miniatur kecil dari kondisi alam kita hari ini: kering, panas dan rusak.

Kami menamakan diri Aliansi Purun Hijau. Dalam bahasa Banjar, purun bermakna ganda. Topi anyaman dari tanaman rawa bernama purun (kata benda) dan rasa iba atau tragis (kata sifat). Gabungan dari Mapala Meratus, LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) Sukma, blogger, mahasiswa non organisasi, dan saya sendiri dari Indopahit. Koordinator lapangan (korlap) sekaligus juru bicara adalah Adi Ram.

Purun Hijau adalah gerakan independen. Dana berasal dari patungan kantong masing-masing. Maka keliru jika mengira Purun Hijau semacam LSM.

  ***

KITA terus bertanya, mengapa hari-hari ini nelayan sulit pergi melaut karena cuaca yang makin tak bersahabat, mengapa petani harus menanam saat langit begitu sering murka, mengapa banjir seperti ritual menahun, mengapa kita harus pergi kerja dibawah terik yang tiada bandingannya, mengapa ini dan mengapa itu.

Jawabnya karena gaya hidup kita yang semrawut dan tidak ramah dengan alam. Polusi industri, polusi kendaraan bermotor, penebangan hutan yang bikin sinting, dan aktivitas pertambangan yang gila-gilaan. Semua bisa terus berjalan “normal” karena kepedulian kita telah sampai dititik nadir. Kita sudah sangat terbiasa dengan filosofi hidup reaktif: baru sadar dan bertindak ketika semua sudah terlalu jauh.

Kemarin, 16 September diperingati hari ozon sedunia. Lalu 22 September diperingati hari bebas berkendaraan bermotor (no car free day). Yang pertama adalah kampanye keprihatinan untuk kondisi lapisan ozon di atmosfer bumi yang makin hari makin mengancam. Yang kedua adalah kampanye penolakan untuk hidup ditengah masyarakat yang ketergantungan dengan kendaraan bermotor.

Satu hari berkampanye lingkungan tentu tidak ada guna dibanding pengrusakan 364 hari setelahnya. Tapi inti dari dua hari tersebut adalah mengirim pesan kepada masyarakat—orang-orang baik hati—yang yakin masih peduli dengan kelangsungan hidup anak cucu-cucu kita kedepan.

***

PAGI yang cerah, pukul 08.00 Wita, Rabu 22 September, 14 orang dengan beragam model sepeda—dari fixie, onthel, jengki, dan sepeda gunung. Dari paling mengkilat hingga paling berkarat—mulai menyisir pelan jalanan kota Banjarmasin. Semua pesepeda memakai topi purun yang dikasih hiasan dedaunan. Atribut utama adalah satu bendera besar berlogo Aliansi Purun Hijau dihiasi peta pulau Kalimantan berwarna hijau.

“Ini baru komunitas sepeda. Tak pilih kasih, engga fixie melulu, engga onthel melulu,” seloroh saudara Pentet dari Mapala Meratus. Akhir-akhir ini, komunitas sepeda fixie atau onthel memang sedang menjamur. Terlepas dari perdebatan apakah itu hanya trend atau memang benar-benar kesadaran, ini tetaplah hal yang baik, “Ini menjadi solusi tanpa memberi polusi,” dendang Glen Fredly dalam lagunya “Aku dan Sepedaku”.

Di tengah perjalanan, kami singgah barang sebentar di simpang empat Pasar Antasari untuk membagi-bagikan selebaran pada pengguna jalan. Selebaran berjudul “Kayuh Baimbai Sepeda Pian” itu berisi ajakan untuk peduli dengan alam, kritik pada aktivitas penebangan hutan dan pertambangan batubara, serta dorongan untuk membudayakan bersepeda.

Tapi lelucon terbaik di hari bebas berkendaraan bermotor adalah kondisi jalanan Banjarmasin yang malah macet total. Pasalnya, ada arak-arakan mobil hias dari siswa-siswi sekolah Banjarmasin untuk memperingati hari jadi Kota Banjarmasin. Kami sama sekali tidak tahu akan hal itu.

Maka kami yang bersepeda beriringan dengan topi purun di kepala, praktis menjadi bahan lawakan masyarakat sekitar yang tumpek-blek untuk menonton arak-arakan. Kami dielu-elukan, ditertawakan hingga sempat difoto-foto oleh mereka.

Seorang teman bahkan cerita, ia diteriaki “Woy! Orang miskin lewat!” Apa tak pedih hati dibuatnya? Sepeda ternyata masih dikonotasikan dengan orang miskin, tak mampu, atau paman penjual pentol bakso.

Karena kondisi lapangan yang tak memungkinkan. Kami hanya sempat singgah di kantor DPRD Kota Banjarmasin dan DPR Provinsi Kalsel. Kami diterima dengan baik. Sempat berdialog sebentar, sebelum pulang, serah-terima pot berisi ranting kering sebagai kenang-kenangan. Perkara setelah itu dipajang atau dibuang, terserah, sing penting kritik dan aspirasi sudah sampai.

Ada tiga poin yang kami sampaikan dalam audiensi. Pertama, terkait masalah kuota RTH (Ruang Terbuka Hijau) kota Banjarmasin yang baru mencakup 17%,  belum memenuhi batas minimal yakni 30%. Kedua, kampanye bersepeda yang mesti digalakkan oleh pejabat pemerintahan itu sendiri, setidaknya satu-dua kali seminggu. Ketiga, soal penebangan hutan dan aktivitas pertambangan batubara yang mesti distop sekarang juga. Birokrat manapun mulutnya pasti akan bilang sepakat dan mendukung, praktek di lapangan itu lain soal.

Beranjak tengah hari, dengan wajah berdebu, mata merah dan kulit terbakar, kami balik lagi ke kampus. Ini aksi yang edan, sederhana dan menyenangkan.

Pembaca, kesadaran kita untuk hidup ramah dengan lingkungan dari hal-hal kecil (seperti merutinkan bersepeda dan mengurangi ketergantungan dengan motor/mobil) akan berbanding lurus dengan kesadaran politik untuk menekan pemerintah/ korporasi yang bertanggung jawab pada hutan dan aktivitas pertambangan di pulau ini—Selamatkan Kalimantan! []

2 Comments to “Kayuh Baimbai Sepeda Pian”

  1. Mantap banar nah… mana sepeda nawa nank ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: