Mengayomi, Melindungi, Mengekang

Setelah sempat terkatung-katung selama sembilan tahun, diwarnai banyak perdebatan dan penolakan, RUU Intelijen akhirnya disetujui oleh semua fraksi DPR pada 11 Oktober kemarin. Selagi disahkan, di luar gedung DPR/MPR massa berdemonstrasi menolak UU yang dianggap membahayakan kebebasan sipil ini.

 

KEJAHATAN bisa diperbuat oleh tangan siapa saja. Entah itu individu, kelompok, atau negara. Untuk yang terakhir kita lazim menamainya crime state to the people—dianggap paling kotor karena mengkhianati amanah rakyat, serta dampaknya yang menyangkut kehidupan orang banyak.

Investigasi berarti membongkar tindak kejahatan yang diatur sedemikian rapi agar tertutup rapat dari publik. Investigasi menjadi alat paling ampuh bagi wartawan dalam menjalankan kontrol sosial. Maka wajar jika peliputan investigasi seringkali bersinggungan dengan informasi yang terkategori sensitif dan rahasia.

Disinilah letak kekhawatiran banyak kalangan—termasuk wartawan—terhadap UU Intelijen. Definisi “rahasia intelijen” terlalu luas, rancu dan tidak tanggung-tanggung. Mulai dari perkara pertahanan dan keamanan negara, kekayaan alam Indonesia, ketahanan ekonomi nasional, dan kepentingan politik luar negeri (pasal 25).

Apakah publik tidak boleh memantau anggaran pertahanan negara? Apakah yang boleh tahu kontrak pertambangan cuma pengusaha? Bukankah justru ini celah yang paling rawan terhadap kejahatan kerah putih?

Takutnya, atas dalih “pembocoran rahasia negara”. Laporan wartawan investigasi yang (kebetulan) membakar jenggot pemerintah bisa kena jerat. Ada pasal 22, 44, dan 45 yang siap memenjarakan seseorang selama 7-10 tahun atau denda sebanyak 300-500 juta.

“Dengan UU Intelijen, semakin sulit mengungkap kasus korupsi dengan alasan rahasia negara,” tukas Al Araf, Direktur Program Imparsial.

Pasal penyadapan juga belum diatur dengan jelas dan detil (pasal 32). Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Nezar Patria menjelaskan, penyadapan bisa dilakukan dalam kondisi khusus semisal darurat militer, tapi tidak dalam suasana tertib sipil yang aman dan damai.

”Tidak ada jaminan jika UU ini tidak akan dikenakan kepada pers,” kata Agus Sudibyo dari Dewan Pers. Ujung-ujungnya, UU Intelijen tidak hanya merugikan insan pers atau peneliti, tapi juga hak publik dalam kebebasan mendapatkan informasi.

Kita sepakat terorisme mesti dilawan. Benar, aturan dan undang-undang untuk itu diperlukan. Ibaratnya, bagi yang hobi kebut-kebutan di jalan, polisi tidur itu bagus. Tapi adalah bodoh jika mereka—termasuk yang tidak suka ngebut—malah dipolisitidurkan.

Rasa sinis dan trauma terhadap penanganan terorisme di Indonesia tidak ujug-ujug lahir. Contoh bagus adalah Densus 88 yang dengan gamblang melakukan pelanggaran HAM dengan melakukan extra judicial killing—pembunuhan tanpa proses persidangan. Bukannya ditangkap, dihadapkan ke meja hijau dan dibuktikan secara hukum bahwa ia memang teroris, eh malah main tembak ditempat. Pepatah mengatakan, “teroris kok teriak teroris”.

Terlebih UU Intelijen tidak hanya mensubversibkan kegiatan teror dalam bentuk kekerasan fisik, tapi juga ide atau pemikiran (pasal 31). Praktik kriminalisasi aspirasi politik yang sudah jamak kita lihat di negeri ini akan semakin menjadi-jadi karena diperundang-undangkan.

Anda bisa dianggap “mengancam negara” hanya karena menyimpan—atau mempublikasikannya—pemikiran politik yang berseberangan dengan negara. Dalam kosakata Orwell, ada “polisi pikiran” untuk setiap “kejahatan pikiran”.

Lebih dari semua itu kita patut bertanya, siapa yang akan mengontrol pelaksanaan UU Intelijen? Siapa yang bertanggungjawab jika BIN (Badan Intelijen Negara) ternyata menyalahgunakan wewenangnya? Oh ya, itu Komisi I DPR. Aduh. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: