Sengkarut di Tubuh Sukma

PJTD Sukma di Lemdikada Banjarbaru, 10 sampai 11 Desember kemarin.

 

Bagaimana satu lembaga pers mahasiswa coba tetap bertahan ditengah gempuran masalah dari luar dan dalam yang menderanya.

SENADA dengan organisasi mahasiswa lainnya, pers mahasiswa (persma) juga mengalami situasi pasang-surut. Ada kala dimana mereka rajin melakukan penerbitan, ada kala hanya tersisa pelatihan-pelatihan jurnalistik dengan hasil karya yang minim. Sedihnya, peribahasa “hidup segan mati tak mau” ini nampak terjadi hampir di setiap lembaga pers mahasiswa saat ini.

Kondisi ini pula yang sedang melingkupi Lembaga Pers Mahasiswa Suara Kritis Mahasiswa (LPM Sukma) IAIN Antasari yang berdiri sejak tahun 1998 ini. Beberapa bulan terakhir, penerbitan sudah jarang, kecuali beberapa tempelan berita di mading dan situsnya. Tabloid yang sempat direncanakan terbit beberapa bulan silam pun terbengkalai entah nasibnya.

“Saya jarang baca Sukma, karena mereka memang jarang terbit,” ucap Muhammad Abdussalam (21), mahasiswa jurusan Siyasah Jinayah ’09.

Salam juga mengkritik gaya pemberitaan Sukma yang datar-datar saja. “Saya berharap Sukma jangan nulis hal-hal sepele yang memang kita semua sudah tahu. Harus lebih membongkar, investigatif,” ucap Salam di Apung Fakultas Tarbiyah, Rabu pagi (7/12).

Pendapat Salam ini diamini oleh Muhammad Nor Abdi (20), Pimpinan Umum LPM Sukma. “Kadang, berita terbit cuma sekedar untuk menandakan bahwa kita masih ada. Yah, ketimbang tidak ada sama sekali,” ucap Abdi dengan nada berat.

“Sebenarnya ada banyak faktor. Dari sisi luar, kampus semakin menekan mahasiswa agar lebih study oriented. Dari sisi dalam, ada persoalan biaya, kualitas SDM juga tuntutan waktu seperti kesibukan kuliah,” ujar Abdi yang kuliah di jurusan Ekonomi Islam ’09 ini.

Sekedar untuk diketahui, isu tentang kampus yang semakin menekan mahasiswa agar lebih study oriented sudah menjadi keluhan umum di kalangan aktivis IAIN Antasari. Isu ini mulai mengemuka saat pergantian rektor yang baru, Akhmad Fauzi Aseri.

Perihal Sukma mau dibawa kemana juga menjadi perbincangan yang serius. Rupanya ada perbedaan sudut pandang yang cukup kentara antar anggota. Abdi coba memberikan gambaran, “Ada yang menganggap persma hanya seperti kursus jahit, tempat belajar atau sekedar mencari pengalaman, tapi ada juga yang menganggap persma sebagai proyek perjuangan.”

“Persma itu beda. Ini organisasi nirlaba yang dihuni oleh mahasiswa. Kita bukan wartawan profesional yang kalau tidak meliput berita berarti dapur tidak ngepul. Sedikit banyak, permasalahan macam ini acapkali muncul,” papar Abdi.

Diminta tanggapan terkait tudingan gaya pemberitaan yang dianggap mulai melempem, Abdi sendiri menginginkan Sukma tampil lebih kritis. “Pertanyaannya adalah, siapkah sudah kampus ini menerima kritik? Kampus disini tidak hanya berarti pihak rektorat dan dosen lho, tapi juga termasuk teman-teman mahasiswa,” cecarnya.

“Kadang saya ingin ganti saja nama Sukma. Suara Kritis Mahasiswa itu nama yang terlalu berat,” canda Abdi sembari tertawa.

Terkait perkara minimnya penerbitan. Ahmad Mubarok (20), Pimpinan Redaksi LPM Sukma, mengeluhkan banyaknya penugasan liputan yang terbengkalai dan tidak taat deadline. “Wartawan kita susah fokus dengan liputan. Alasannya banyak. Misal, karena tugas kuliah yang menumpuk,” jelas mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Inggris ’09 ini.

Dibalik semua sengketa itu, ternyata ada masalah yang lebih serius. Yakni keakraban antar anggota. Meskipun sepintas lewat kita akan beranggapan semuanya baik-baik saja. Nyatanya tidak.

“Kalau masuk ke kantor Sukma, saya merasa asing. Keakrabannya tidak seperti dulu lagi, kering,” ucap Abdurrahman Ardhi (22), mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam ’07 yang terakhir aktif di Sukma sebagai redaktur. Kini ia aktif di Mapala Meratus.

Saat hal ini dikonfirmasi kepada anggota Sukma yang lain, Arfani (19) turut membenarkan. “Sukma berantakan,” ucap mahasiswa Psikologi Islam ’10 yang aktif di bagian percetakan Sukma ini. Bahkan dari penuturan Fani, ada satu-dua anggota yang sudah mengundurkan diri karena tidak tahan dengan kondisi yang ada. Ditanya mengapa bisa sampai sejauh itu, Fani menengarai ini karena komunikasi yang buruk.

“Keakraban dalam hal apa dulu?” sergah Mubarok. “Kalau akrab cuma sekedar berkumpul dan ramai-ramai bakar sate yah repot. Tapi akrab karena ramai-ramai untuk berkarya itu oke.”

Apakah masalah cukup sampai disitu? Tidak. Ada rumor yang menuding bahwa salah satu petinggi keredaksian Sukma akan turut terjun dalam politik praktis, di Pemilwa (Pemilihan Presiden Mahasiswa) tahun depan. “Sukma kan lembaga pers. Tugasnya hanya mencatat dan melaporkan. Kok malah berpolitik,” tegas Salam.

Abdi menanggapi tudingan ini dengan dingin. Baginya, setiap anggota Sukma berhak punya sikap politik. Yang penting dia bisa cerdas dalam memposisikan dirinya. “Rektor kan kalau di kampus bertugas sebagai rektor, di rumah ya sebagai seorang ayah,” tandasnya.

Isu apakah wartawan Sukma boleh atau tidak berpolitik praktis memang seperti bisul dipantat sebelah kiri. Turun-menurun diperdebatkan dari beberapa generasi Sukma tapi nyatanya belum juga tertetapkan dengan jelas.

Ada yang menganggap boleh, asal tidak balik lagi ke Sukma, maksudnya keluar saja sekalian. Ada juga yang menganggap tidak perlu sampai sejauh itu, yang penting dia bisa cerdas dalam memposisikan diri di Sukma. Ada juga yang berkata sah-sah saja, asalkan orang bersangkutan bukan pengurus inti, ia hanya seorang reporter.

Saya masih ingat, di tahun 2008 saat menggelar WJM (Workshop Jurnalistik Mahasiswa), seorang pemateri yang juga senior Sukma dan telah bekerja disalah satu media Banjarmasin berpesan, “Sukma adalah lembaga pers, mesin opini. Karena itu ia begitu menggiurkan bagi BEM dan rektorat. Sukma harus jaga diri. Jangan ikut-ikutan berpolitik.”

Dengan setumpuk permasalahan ini, Sukma masih harus dihadapkan dengan kesibukan lain yang cukup menyita energi. Dari tanggal 8-11 Desember 2011 Sukma akan mengadakan Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar (PJTD) bagi para calon wartawan.

Ditanya apakah permasalahan yang sedang merundung internal Sukma ini akan berpengaruh, Abdi optimis pelatihan akan tetap berjalan. Baginya regenerasi wajib dijalankan, tidak bisa ditawar-tawar.

“Dengan kedatangan anggota baru, kami memang harus segera berbenah. Sebab regenerasi yang baik mestinya mewariskan hal-hal yang baik pula,” ucap Abdi.

Lalu apa solusi ditengah konflik ini? “Saya kira ini cuma persoalan komunikasi. Bagaimana caranya agar semua mau duduk berkumpul untuk membicarakan hal ini. Sukma masih bisa diperbaiki,” tutup Fani yakin. []

———————————————————-

Keterangan: Saya menulis ini untuk Harian Radar Banjarmasin dalam masa pelatihan saya disana. Karena tidak diterbitkan, saya putuskan untuk posting disini saja. Untuk itu, saya sudah meminta izin dengan editor saya di Radar Banjarmasin dan kepada Abdi, Pimum Sukma.

Sama sekali tidak ada maksud untuk menjelek-jelekkan Sukma dengan membuka konflik internalnya keluar. Saya kira ini tema yang menarik, “ketika wartawan meliput wartawan”. Bahwa media tidak hanya berani meliput dan mengkritik orang atau lembaga luar, tapi juga berbesar hati ketika diliput dan dikritik.

Saya berterima kasih banyak kepada Abdi, Barok, Ardhi, Fani dan Salam yang sudah mau berbicara terbuka dan blak-blakan kepada saya dalam wawancara itu. Terima kasih pula kepada Abang Toto Fachrudin, Waredpel Radar Banjarmasin, atas penugasannya ini dan kesediannya untuk selalu mengajari saya menulis. Salam.

Tags: ,

One Comment to “Sengkarut di Tubuh Sukma”

  1. iput,,,,q sedih membacanya,,,,apalagi mendengar kritikannya,,,,mudahan lpm sukma selalu kritis,dinamis,,,,dan inovatis,,,,semangat,,,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: