Anda Tahu Ketika Melihatnya

Salim ditengah memakai kopiah putih. Wahidah berkerudung putih, mengelak dari kamera.

 

Hampir setiap hari kita bertemu anak kecil. Kita menyukai mereka karena mereka manis. Tapi usai itu, kita akan melupakan mereka dalam hitungan jam kemudian.

Namun, ada satu-dua anak kecil yang dalam satu-dua kali pertemuan saja sudah lebih dari cukup untuk memberi kita bekas yang tidak gampang. Entah dengan cara apa, kita tahu bahwa he’s different, she’s one of  a kind. Bahkan, kita dibuatnya yakin, ketika besar nanti ia akan menciptakan sesuatu yang besar.

SAYA PERCAYA dalam rentang hidup kita pendek ini, momen semacam itu pasti datang. Dan saya meraihnya setahun kemarin. Ketika saya pergi KKN (Kuliah Kerja Nyata) dua bulan di Desa Gandaraya Kecamatan Anjir Pasar, dua jam perjalanan bermotor dari Banjarmasin.

Seperti KKN pada umumnya, salah satu tugas kami adalah membantu desa dalam hal pendidikan. Salah satu program KKN kami adalah membangun TPA (Taman Pembelajaran Al-Qur’an) yang memang belum ada di desa itu.

Anak-anak Gandaraya tetaplah anak kecil pada lazimnya yang suka malu-malu kucing. Malu tapi sebenarnya ingin berteman. Malu tapi ingin diajak bermain. Malu tapi ingin dikasih permen.

Dan saya bertemu Salim. Salim adalah anak pertama yang mengajak berkenalan di hari kedua KKN kami. Ia datang ke posko kami dan ketika saya tawarkan makanan kecil, tanpa ragu ia memamahnya. Salim pula yang sering saya jadikan gudang informasi untuk lebih memahami desa tertinggal itu.

Salim anak yang tampan, berkulit terbakar, rambutnya lurus dengan mata bundar yang jernih. Kemana-mana ia memakai sepeda onthel yang butut dalam artian sebenarnya. Pedalnya hilang, catnya hitam kusam. Mungkin sekarang ia sudah duduk di kelas 4 atau 5, jika saya tidak salah ingat.

Di antara semua anak nakal dan paling menjengkelkan yang pernah saya temui, Salim adalah juara. Kadang saya terpaksa berpura-pura tidur ketika ia datang ke posko. Bukan karena saya emoh, tapi lebih karena kelelahan. Lelah, karena senakal apapun seorang anak kecil, semua orang tahu kita mesti siap untuk memaafkannya.

Tapi Salim di antara teman-temannya yang beragam jenjang kelas (bahkan ada yang sudah SMP) adalah seorang pemimpin. Ia memiliki kemampuan provokasi, bujuk-rayu dan adaptasi yang mengesankan. Tidak hanya dikalangan anak kecil, dikalangan orang dewasa pun jika terjadi satu-dua keonaran, orang akan serta-merta secara tidak adil menyalahkan Salim. Meskipun memang benar ia yang suka buat begituan.

Belakangan saya merevisi sebutan “nakal” untuknya. Tidak, ia tidak nakal. He’s a rebel. Lebih tepatnya lagi, seorang pemberontak yang kesepian.

Dari kepala desa saya akhirnya tahu. Salim adalah anak kecil dengan latar belakang yang menyakitkan. Ibunya sudah bertahun-tahun tak pulang, TKW yang pergi ke Arab Saudi. Sang ayah yang sering dapat kiriman uang dari sang istri, justru lebih suka pergi ke kota untuk menghambur-hamburkan uangnya. Salah satunya untuk main perempuan.

Maka seperti analisa psikologi paling klise dan usang, segala keonaran yang dibikin Salim tidak lebih dari sekedar cara untuk mencari-cari perhatian dan kasih sayang.

Saya masih merawat dengan baik kenangan-kenangan saya bersamanya. Macam mengajarinya mengaji, diajarinya saya cara memancing yang baik dan benar, mengajarinya memakai kamera saku, atau sekedar obrolan ngolor-ngidul tentang ini-itu.

Anak kedua adalah Wahidah, sedikit lebih tua dari Salim. Sepintas pandang, Anda bakal sepakat, dibanding teman sebayanya Wahidah adalah anak paling cantik. Fakta yang agak mengganggu adalah sorot mata Wahidah yang terlalu tajam untuk ukuran anak sekecilnya.

Wahidah unik karena pada satu waktu ia bisa sangat enerjik dan manja, mengubah ruangan mushalla (tempat kami mengajar anak-anak mengaji) seperti kapal pecah. Dalam perkara ini, Salim kalah. Dilain waktu, Wahidah luar biasa pemalu dan pendiam. Membuat kita yang ingin mendekatinya merasa salah tingkah.

Ironisnya Wahidah adalah anak yang paling lamban dari segi kemampuan belajarnya. Jangankah mengaji, mengenalkan dan mengingatkannya pada satu-dua huruf hijaiyah saja sudah cukup membuat putus asa. Tapi yang mengagumkan, semangat belajarnya tidak mati-mati. Acapkali tiap berpapasan ia berteriak riang, “Kakak, ajari saya ngaji!”

Warga desa bilang Wahidah adalah anak kecil yang dianugerahi kemampuan istimewa. Mampu melihat hal-hal ghaib yang tidak bisa kita lihat. Saya pribadi antara percaya dan tidak.

Tidak percaya karena imajinasi anak kecil memang hebat. Atau jangan-jangan ini cuma karena warga desa yang corak berpikirnya masih suka mistis hingga ketika melihat anak unik seperti Wahidah, mereka langsung bikin tafsiran seenaknya.

Percaya karena teman sesama KKN saya, Mulyadi, mengatakan hal yang sama. Pada satu malam saat TPA digelar, Wahidah berdiri di luar mushalla dan berkata di atas pepohonan yang gelap itu ada seorang perempuan. Saya tidak melihat apa-apa. Saya anggap hanya sebagai angin lalu.

Benar atau tidak, saya memiliki gagasan bahwa Wahidah ketika besar nanti mesti menjadi dokter, guru atau wartawan. Saya merinding jika harus mendengar Wahidah menjadi dukun kampung.

Penyesalan terbesar adalah tidak memberi perhatian yang cukup kepada Salim dan Wahidah. Terus bersama mereka, mempelajari potensi mereka, dan mengajak mereka untuk mendayagunakannya adalah proyek yang menarik dan menantang.

Maka ketika kemarin, Ahad (18/12), saya balik ke Desa Gandaraya untuk bersilaturahmi, bisa bertemu dengan Salim dan Wahidah adalah kebahagiaan tersendiri. Ya Tuhan! Salim, Wahidah dan anak-anak lainnya tetaplah manis seperti dulu.

Tapi toh faktanya saya tidak tinggal di desa itu dan terus bersama mereka. Saya punya kehidupan dan impian sendiri. Saya meninggalkan mereka di belakang. Ini hanyalah tulisan dengan segepok kenangan silam. Mengutip Pramoedya Ananta Toer, belas kasihan tanpa tindakan nyata adalah kemewahan yang sia-sia. Tapi Tuhan tahu, betapa saya terus berdoa untuk mereka. []

Tags:

2 Comments to “Anda Tahu Ketika Melihatnya”

  1. merinding saya bacanya, apalagi sambil dengar gugun and the blues shelter!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: