Imul Sebut Ini Pengabdian

Bersama guru lain dan muridnya (Imul paling kanan berbaju koko putih)

 

Dulu ia anak yatim yang miskin dan berandalan. Kini ia seorang mahasiswa, guru muda, dan wakil kepala sekolah di SD Islam Al-Munawwar.

KISAH ini bermula dua setengah tahun silam, saat sekolah yang beralamat di Jalan HKSN Komplek Kebon Jeruk Jalur V RT.20, Kuin Utara ini baru saja dibangun. Mulyadi yang masih kuliah di semester enam diminta untuk menjadi guru pengganti di sekolah ini.

Pemuda kelahiran Banjarmasin, 26 Februari 1987 ini bukanlah orang baru disana. Ia salah satu anak asuh di Panti Asuhan Sultan Suriansyah. Panti asuhan dan sekolah ini bernaung dibawah lembaga yang sama, Yayasan Intan Sari.

“Saat dikirim ke panti asuhan, saya terpukul sekali. Sempat menulis surat untuk ibu tentang perasaan saya kala itu. Tapi surat itu saya simpan, tidak pernah saya berikan kepadanya,” kenangnya pahit. Peristiwa itu terjadi saat ia duduk di bangku kelas 3 SD.

“Ibu tidak punya pilihan, ayah meninggal saat saya masih kecil sekali,” tambah anak keempat dari lima bersaudara yang akrab disapa Imul ini. Ibu Imul hanyalah seorang pemecah batu damar. Jangankan membayar biaya sekolah, cari makan saja susah. Panti asuhan inilah yang kemudian membiayai pendidikan Imul dari SD sampai kuliah di jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) di Fakultas Tarbiyah IAIN Antasari.

Tidak hanya masalah ekonomi, warga Kuin Utara ini juga tumbuh dikeluarga dan lingkungan yang rumit. Ibunya pernah menikah sekali, cerai dan kemudian menikah lagi dengan almarhum ayahnya. Lingkungan Imul, akrab dengan perkelahian ala remaja, minuman keras dan obat-obatan.

Titik terendah ini terjadi saat ia memutuskan untuk keluar dari panti asuhan. Dimulai dari kelas dua SMP sampai kelas dua SMA. Selulus SMA ia ditawari lagi untuk balik ke panti, Imul pun kembali.

“Ngobat sih tidak pernah. Tapi kalau minum iya. Rasanya… astaga! Tidak enak sekali,” ceritanya sembari menggeleng-gelengkan kepala. Titik balik hidup Imul terjadi saat ia duduk dibangku kelas tiga SMA. Ia diminta beberapa kali untuk menjadi imam shalat di musholla kompleknya.

“Itu bulan Ramadhan. Saya menangis. Malu sekali dengan Allah. Awak rigat, kelakuan rigat, kok berani-beraninya jadi imam?!” ucapnya bergetar. Di titik itulah Imul mulai kembali menata hidupnya. Ia jadi dekat sekali dengan agama.

Perubahan mendadak macam itu jelas mengundang ejekan banyak teman tongkrongannya. “Seorang teman teriak begini, ‘Hey, dapat Lailatul Qadar yah tadi malam?’ Hahaha,” cerita Imul sambil terbahak.

Kini, setelah setahun menjadi guru pengganti dan satu tahun menjadi guru tetap, dalam usianya yang masih sangat muda ini ia telah menjabat sebagai wakil kepala sekolah di SD yang terhitung masih baru ini. Jabatan ini telah ia pegang selama setengah tahun terakhir.

Otomatis, selain mengajar—Imul mengajar materi PAI—ia juga mesti disibukkan dengan urusan administrasi dan sistem sekolah. Untuk sekolah semuda ini, ada segunung pekerjaan rumah yang menunggu untuk dipecahkan. Waktu Imul terkuras habis disana. Kuliahnya pun sempat terbengkalai, ia sudah semester sebelas.

Lelaki penyuka kain sasirangan dan baju koko ini sedang sibuk menulis skripsi berjudul Pengaruh Penggunaan Media Internet terhadap Perilaku Keagamaan Remaja di Kelurahan Kuin Utara. “Skripsi ini berangkat dari kegelisahan pribadi. Banyak anak kecil yang waktunya habis di warnet untuk game online. Belum lagi ancaman pornografi,” jelas lelaki berkaca mata ini.

Meski menjabat sebagai wakasek, gaji yang ia dapatkan bisa dikatakan minim. “Sekarang 350 ribu rupiah perbulan. Kemarin cuma 100 ribu rupiah,” jelasnya. “Maklumlah, namanya juga SD baru dibangun,” tandasnya.

SD ini hanya punya tiga kelas untuk jenjang kelas I sampai III. Kelas I ada lima orang, kelas II ada 14 orang dan kelas III ada 10 orang. Kesemua anak didik ini dibimbing oleh lima guru dan satu kepala sekolah.

Lucunya, Imul sama sekali tidak pernah berniat ingin menjadi guru. Meskipun sang ibu sangat berharap si anak berprofesi sebagai guru kelak. “Prestasi saya sangat biasa, tidak ada yang istimewa. Bahkan waktu SMA pernah disebut seorang guru tidak akan naik kelas,” kenangnya.

Di kampus sekalipun ia bukan sosok yang mencolok. Nilai kuliahnya biasa-biasa saja, juga tidak pernah ikut organisasi ini-itu. “Ketimbang menjadi aktivis mahasiswa, saya memilih langsung terjun ke tengah masyarakat,” ucapnya.

Dengan pengalaman mengajar dan gelar sarjana yang sebentar lagi ia raih, ditanya apakah Imul tertarik untuk menjadi guru di sekolah yang lebih mapan, dengan mantap ia menjawab tidak. “Ini kesempatan emas. Tidak semua guru bisa mendapat pengalaman membangun suatu sekolah dari titik nol,” ucapnya lirih.

“Saya bisa seperti ini karena pihak yayasan. Ini bukan hanya soal balas budi, ini pengabdian,” tegasnya. Selain mengabdi di SD Al-Munawwarah ia juga pengasuh di Panti Asuhan Sultan Suriansyah. Di mata Imul, sosok ibu Hj. Maryam, ketua Yayasan Intan Sari, adalah sosok yang paling berpengaruh dalam hidupnya.

Saat digoda dengan pertanyaan kapan menikah, ia bilang, “Pengabdian ini sangat penting. Nikah urusan nomor ke sekian,” ucapnya diiringi tawa. Ambisi terbesar Imul tidak hanya mengajar, tapi juga mampu merombak dan memberi perubahan radikal di sekolah ini.

Ke depan, sekolah ini sedang berjuang untuk mendapatkan NIS (Nomor Induk Sekolah). “Di mata orang tua murid, ini penting. Semacam pengakuan,” katanya.

Azan Ashar terdengar bertalu-talu dari masjid. Imul meminta izin untuk berwudhu. Usai wawancara, saat menghidupkan motornya untuk pulang, terdengar bunyi mesin yang runyam. “Motor bekas ini dibelikan oleh panti. Mesinnya memang sudah berebesan (tidak keruan), tapi masih bisa dipakai,” ucapnya sembari terkekeh. ***

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: