Sastra Kalsel Doeloe dan Kini

 

Jika dulu sastra Kalsel membawa pembaca pada sikap anti penjajah. Kini, sastra mengarahkan kritiknya pada pemerintah atas carut-marutnya penyelenggaraan negeri ini.

MULANYA hanya perbincangan setengah serius di Taman Budaya Kalsel bersama Noor Hidayat Sulthan dan stafnya. Tak dinyana, Radar Banjarmasin mendapat hadiah berupa buku terbitan mereka yang teranyar, judulnya Sastra Indonesia Modern di Kalimantan Selatan, Sebelum Perang (1930-1945).

“Untuk menggali sejarah di bidang sastra Kalsel yang bisa dijadikan referensi oleh berbagai kalangan,” jelas Kepala Taman Budaya Kalsel ini, terkait tujuan dari penerbitan buku ini. Sulthan meyakini, sastra Kalsel telah memberikan kontribusi besar kepada perkembangan sastra tanah air.

Buku bersampul coklat setebal 170 halaman ini terbagi ke dalam lima bab. Bab inti membahas tentang sastra Kalsel pada zaman penjajahan Belanda dan Jepang. Mengingat fakta sejarah bahwa sastra modern di Kalsel identik dengan koran/majalah, maka selain berisi tuturan dan data penelitian, ia juga memuat berbagai karya puisi dan cerpen dari sastrawan Kalsel.

Misal, karya puisi berjudul Bangsaku Sadarlah yang terbit di surat kabar Bintang Borneo edisi 15 September 1930 oleh Anak Martapura (nama pena/samaran).

Tokoh penting dibalik buku ini adalah dua sastrawan kawakan dari Banjarmasin, Tajuddin Noor Ganie (53) dan Maman S. Tawie (54). Saat ditemui Radar Banjarmasin di tempat kerjanya, Balai Hiperkes dan Keselamatan Kerja, Jalan Brigjen Hasan Basri No 56. Tajuddin tampak sedang asik membaca buku kumpulan cerpen Lan Fang berjudul Yang Liu.

“Ia lahir di Banjarmasin. Meski ia terkenal di kancah nasional, Lan Fang tetaplah sastrawan Kalsel,” ucap lelaki kelahiran Banjarmasin ini. “Saya memiliki kebiasaan menulis obituari untuk sastrawan. Kali ini saya ingin menulis obituari untuk Lan Fang. Semacam apresiasi,” tambahnya.

Lan Fang, seorang ibu dengan tiga anak, berpulang di hari Natal kemarin setelah sempat bertarung singkat dengan kanker hati. Sastrawan ini pergi di usia 41 tahun.

Tajuddin jelas bukan pendatang baru dalam hal penulisan buku. Sejak tahun 1980 ia telah malang-melintang dalam penulisan sastra di banua ini. Dari sekira tiga puluhan judul buku yang telah ia tulis, satu di antaranya berjudul Sejarah Lokal Kesusastraan Indonesia di Kalsel 1930-2009.

“Selain melakukan wawancara, penelusuran dokumen dan kliping. Banyak data memang sudah tersedia di buku-buku saya sebelumnya,” cerita Tajuddin. Hingga terbit di akhir tahun 2011 kemarin, buku ini butuh waktu sekitar enam bulan untuk proses perampungannya.

Baginya, buku ini penting agar generasi muda banua mengenal akar khazanah sastra mereka. Ditanya terkait perbedaan antara sastra Kalsel dulu dan sekarang, Tajuddin melihat itu ada di wawasan estetik. “Dulu, sastra Kalsel lekat dengan tema-tema pemupukan nasionalisme dan anti penjajah. Sekarang, sastra memainkan kritik kepada pemerintah atas carut-marutnya kondisi negeri ini,” paparnya.

Tajuddin juga mengingatkan, Kalsel adalah salah satu kantong sastra di tanah air. “Tahun 2010 silam, Balai Bahasa dari Jakarta mengirimkan satu tim untuk meneliti dan mendokumentasikan  perkembangan sastra di Kalsel. Mereka mengakui potensi sastra kita,” ceritanya.

Dimintai pendapat nasib sastrawan Kalsel kini, Tajuddin mengeluhkan posisi tawar yang masih sangat lemah antara penulis dengan penerbit. Misal, perihal rendahnya royalti untuk penulis. Pikiran, tenaga dan waktu yang telah dilalui penulis seakan tidak dihargai.

Sebagai penulis, ia sendiri pernah mengalami hal ini. Sebuah penerbitan pernah menawarkan biaya penuh untuk penulisan Kamus Peribahasa Banjar. Setelah tawar-menawar yang alot, ia menolak. Sebab keuntungan yang ia dapatkan terlalu rendah.

“Sekarang kan ada print on demand, saya melihat penulis muda punya peluang disana,” kejarnya. Print on demand (POD) adalah sistem penerbitan buku sesuai pesanan. Seorang penulis mempromosikan bukunya dan mencetak sedikit demi sedikit sesuai pesanan yang ia dapatkan dari pembeli.

Bagi Tajuddin, ada dua hal yang mesti dilakukan untuk memajukan sastra Kalsel. Pertama, setiap surat kabar harus memiliki rubrik sastra. Karena sastrawan biasa memulai kariernya dari sana. Kedua, pemerintah mesti membantu penulis dari segi penerbitannya.

“Kan aneh kalau masyarakat terus dimotivasi untuk membaca dan menulis. Tapi giliran karya tulisnya ada, mereka kesusahan menerbitkannya,” cecarnya. Banyak kasus dimana sastrawan Kalsel mesti merogoh koceknya sendiri demi menerbitkan karya mereka. “Pemerintah harus membantu,” ucapnya coba memberi tekanan.

Wawancara berakhir ketika dua mahasiswi Tajuddin datang dengan maksud mengkonsultasikan skripsi mereka. Sejak tahun 2005 kemarin, Tajuddin mulai mengabdi kepada almameternya, STIKIP PGRI Banjarmasin, sebagai dosen mata kuliah Rumpun Sastra. []

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: