Umur Tujuh Puluh Satu, Masih Berkarya

 

Hidup paling berkah adalah yang panjang umurnya dan banyak karyanya.

BUKAN perkara gampang menulis kisah pasangan ini. Hj Mariyam (71) berkali-kali menolak diwawancarai karena ia merasa malu dan jauh dari pantas. Mariyam khawatir jika kisahnya hanya akan mengundang sindiran orang, “Masak kisah begini saja harus ditulis?”

Perlu segantang argumen bagi Radar Banjarmasin untuk meyakinkan hingga akhirnya mereka berkenan diwawancarai. Tapi dengan satu syarat, “Tolong, kisah saya jangan dilebih-lebihkan,” ucap Mariyam sore itu (9/1) di ruang tamu kantor Yayasan Intan Sari, Jalan HKSN Komplek Kebun Jeruk Permai RT 16, Kuin Utara.

Meski di awal wawancara suasana terasa canggung, lambat laun suasana mencair dan cerita menutur dengan lancar. Yang pertama angkat bicara adalah H Ahmad Husaini (81), pendamping hidup Mariyam selama 52 tahun terakhir.

Pada tahun 1947, Husaini remaja ikut TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Dikurun waktu 1945-1950, tentara sekutu yang tergabung dalam komando SEAC mendarat di Medan, Padang, Jakarta, Semarang, Surabaya, Bandung, Makassar, Banjarmasin, dan kota-kota besar Indonesia lainnya. Tugas mereka adalah melucuti tentara Jepang, mengurus pengembalian tawanan perang dan tawanan sipil.

Namun kenyataannya, tentara sekutu ini dibonceng oleh NICA (The Netherland Indies Civil Administration). Meski sudah memproklamasikan kemerdekaan di tahun 1945, nafsu menjajah Belanda terhadap nusantara tetap menyala.

Walhasil, provokasi terjadi dan benturan senjata tak lagi bisa dihindarkan. “Akhirnya Permesta (Pertahanan Semesta) dicetuskan. Orang dewasa, pemuda dan pelajar turun semua. Semua orang turun berjuang melawan Belanda,” kenangnya. Meski jalannya sudah mulai tertatih, ingatan Husaini masih terawat dengan baik.

Lelaki kelahiran Banjarmasin, 1 Januari 1931 ini memang tidak pernah masuk dalam medan perang secara langsung. Kala itu umurnya masih 16 tahun, Husaini hanya ikut membonceng orang dewasa.

Sampai disini, masa depan Husaini seolah sudah tertebak. Tapi takdir berkata lain. Karena larangan dari pihak keluarga, cita-citanya untuk menjadi tentara kandas. Husaini diminta melanjutkan sekolah. Selulus itu, ia bekerja sebagai guru. Itu tahun 1955.

Di lain kehidupan, tiga tahun berselang, Hj Mariyam memulai karirnya sebagai guru di sekolah yang sama. Satu profesi, satu sekolah… satu jodoh. Mereka memutuskan untuk menikah pada tahun 1960.

Sekolah yang dimaksud, SR Muara Cerucuk adalah satu dari lima SR (Sekolah Rakyat) yang ada di Banjarmasin tempo dulu itu. SR Muara Cerucuk berdiri pada tahun 1912. Seabad silam. “Mungkin karena satu profesi, sehingga lebih mudah dalam memahami jalan pikiran satu sama lain,” kata Mariyam.

Pada tahun 1965, pasangan ini sempat merasakan ketegangan penumpasan PKI yang digalakkan oleh almarhum Soeharto. “Orang kampung ramai pergi ke masjid-masjid, semua dikumpulkan. Kami coba membentengi diri dan anak-anak kami dari paham komunis,” cerita Husaini.

Husaini memaparkan bagaimana PKI di Indonesia sebenarnya tidaklah dekat Uni Soviet, tempat terjadinya revolusi komunis pertama di dunia. Usai Dekrit Presiden pada 5 Juli 1959, Soekarno membangun Poros Jakarta-Peking. PKI lebih dekat dengan RRC.

Di tahun 1968, suami-istri ini mendapat kesempatan untuk berkiprah di Masjid Sultan Suriansyah. Dibentuklah badan pengelola masjid. Husaini bertindak selaku ketua, sedangkan Mariyam mengurusi seksi pendidikan dan sosial.

Lalu datanglah satu panggilan hidup yang akan merubah kehidupan Mariyam selamanya. Mariyam mulai mengumpulkan anak-anak yatim piatu di sekitar lingkungan masjid tua dan bersejarah ini untuk kemudian dibina. Itu tahun 1975.

Dibantu anggota keluarga yang lain, diajarinya mereka mengaji al-Qur’an dan pelajaran lainnya. Setahun sekali, diadakan khitanan massal. “Prihatin dan kasihan. Melihat anak-anak yang cita-citanya ingin mengenyam pendidikan tapi tidak kesampaian,” ucap Mariyam bergetar saat diminta menjelaskan motivasi awal perjuangannya ini.

Tentu saja, kala itu semua masih sangat sederhana. Modalnya hanya sumbangan dari masyarakat sekitar, bantuan pemerintah belum ada. Perihal kesulitan dan kendala dalam perjuangannya tersebut, Mariyam justru mengaku semua berjalan mulus. “Sebab apa yang kita lakukan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan masyarakat. Maka mereka tidak merasa sungkan untuk datang membantu,” jelasnya.

Meski tidak semua, kebanyakan anak yang diasuh disini memang datang dari sekitar wilayah Kuin. “Dulu kita pernah mengasuh anak keturunan Tionghoa. Ibunya meninggal dunia saat melahirkannya,” kata Husaini.

Tuhan memiliki skenarionya tersendiri. Pernikahan Husaini dan Mariyam memang tidak menghadirkan seorang buah hati. Namun mereka memiliki anak angkat dari pihak keluarga dekat. Kini sang anak telah sarjana, lulusan MIPA Unlam. Berkeluarga dengan tiga anak.

Mengutip penuturan seorang pemuda yang pernah diasuh disini. Mariyam sempat diperingatkan orang-orang terdekatnya. Cita-cita mendirikan panti asuhan dengan modal nol adalah hal yang terlalu berat dan tinggi. “Tapi ibu (Mariyam) tidak bergeming. Ibu punya prinsip, dimana ada kemauan disana ada jalan,” ucapnya.

Dua puluh tahun kemudian, pada tahun 1995, Panti Asuhan Sultan Surianyah khusus putra berhasil didirikan di dekat Masjid Sultan Suriansyah. Panti khusus putra ini kemudian pindah di tahun 2005 ke lokasinya yang sekarang, Jalan HKSN Komplek Kebun Jeruk Permai. Panti asuhan khusus putri menyusul di tahun 2002, namanya Intan Sari. Letak kedua panti ini hanya bersebelahan gang.

Kedua panti asuhan ini kini menampung 35 anak untuk putra dan 25 anak untuk putri. Ditambah lagi dengan 40 anak asuh yang tidak diasramakan tapi mendapat bantuan dari yayasan ini. Mereka didorong dan dibantu untuk terus melanjutkan pendidikan. Kalau perlu sampai kuliah. “Tidak hanya anak yatim piatu, kami juga menyantuni dhuafa. Penyandang cacat, korban rampok, fakir,” jelas Husaini. “Barusan saja kami sedang menyiapkan paket bantuan untuk dibagi-bagikan kepada mereka,” timpal Mariyam.

Tidak cukup sampai disitu, Mariyam kemudian melebarkan kerja sosialnya. TK Al-Munawwarah berdiri tujuh tahun silam, dua tahun berselang lahir TPA Al-Munawwarah, menyusul SD Al-Munawwarah yang baru berumur 2,5 tahun. Semuanya kini berada dibawah manajemen Yayasan Intan Sari yang dipimpin oleh Mariyam. Sementara Husaini bertindak selaku penasihat di dua panti asuhan tersebut.

Tiga puluh tahun berjuang jelas bukan waktu yang singkat. Tapi kondisi makin membaik. Bantuan resmi pemerintah atau dari yayasan lain mulai turun. Kini, Yayasan Intan Sari bertugas selaku penyalur bantuan dari Dinas Sosial Provinsi Kalsel. “Dulu bantuan datang dalam bentuk barang. Kini uang,” tutur Mariyam.

Ditanya apakah Mariyam masih ingin melakukan hal lain, beliau sontak tertawa. “Handak ae lagi, tapi umur amun jua masih cukup,” katanya. Dengan usia yang sudah lanjut, Mariyam mesti memikirkan siapa penggantinya. Sosok calon pengganti yang dimaksud adalah pimpinan TK Al-Munawwarah. “Mulai kelihatan dia bisa mengurus yayasan,” jelasnya.

Satu lagi ambisi yang masih tersisa dibenak Mariyam. Yakni meningkatkan kesejahteraan hidup para pengajar di lembaga pendidikannya. “Saya ingin sekali membesarkan honor mereka,” ucapnya. Namun, disisi lain suami-istri ini bertekad agar lembaga-lembaga pendidikannya tetap bisa terjangkau oleh masyarakat sekitar.

“Ada TPA yang sudah menetapkan iuran sampai 75 ribu rupiah. Tapi kami masih 10 ribu rupiah,” tambahnya. Beberapa anak yang menunggak bayaran iuran sekalipun tidak pernah diberhentikan oleh Mariyam. “Kalau kita berhentikan, justru kita lah yang rugi,” katanya. Dilema mulai terjadi.

Kala Radar minta undur diri, Husaini merepotkan diri untuk mengantar sampai ke depan pagar. “Tanah ini adalah sumbangan orang. Pernah sempat orang-orang berlomba untuk menyumbang. Mereka menawarkan apapun sesuai kemampuan mereka. Entah itu kayu, papan, semen dan lainnya,” tuturnya. “Kuncinya adalah kepercayaan,” tambah Husaini ditengah kicauan anak-anak kecil yang sedang asik bermain di halaman panti.

Saat menghidupkan motor, Radar coba memberi isyarat dengan tangan dan anggukan kepala sebagai ucapan terima kasih. Mariyam tidak membalas sama sekali. Oh ya, baru sadar, jarak pandang beliau jelas tidak sebaik waktu muda dulu. Lahir di Banjarmasin pada 12 Februari 1941 silam, menjelang umurnya yang ke tujuh puluh satu, Mariyam masih berkarya. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: