Dari Aceh, Orkestra Barat hingga Opera Van Banjar

 

Setelah menunggu cukup lama, Selasa (17/1) malam pukul 20.45 Wita, pintu Gedung Balairung Sari Taman Budaya Kalsel akhirnya dibuka juga. Sontak ratusan muda-mudi berjejal masuk dan menyerbu tempat duduk. Maksud hati adalah ingin menonton Sendratasik Berkarya, olah gawe mahasiswa Jurusan Sendratasik FKIP Unlam.

PAGELARAN  ini adalah ujian akhir semester bagi mahasiswa semester tujuh Sendratasik untuk mata kuliah Manajemen Seni Pertunjukan. Ada tiga suguhan, yakni musik, tari dan teater. Panitia mesti menambah kursi, beberapa terpaksa berdiri, sesak.

Sebagai salam pembuka, disajikan satu lagu instrumental berjudul Melancholy—Warban Syahbeni pada biola gesek dan Halim Kertanegara pada piano. Usai itu, Putri Yoga Natasya membawakan lagu sejuta umat, My Heart Will Go On milik Celine Dion. Soundtrack film Titanic ini diaransemen ulang oleh tiga anak muda dari Sekolah Musik Purwacaraka ini. Lebih lirih tapi tetap bertenaga.

Usai cuap-cuap tiga MC, hadir 11 gadis muda berpakaian dan berkerudung hitam, berhias dan berselendang kain Sasirangan warna kuning. Mereka membawakan Tari Rampo dari Aceh. Tari Rampo adalah kompilasi dari berbagai tarian yang ada di pelosok daerah Nanggroe Aceh Darussalam.

Tarian ini diiringi oleh satu gendang dan satu penyair. Shalawat, petuah, pujian pada Serambi Mekkah disalut-salutkan dalam bahasa Aceh. Seperti pesan yang ingin disampaikan oleh tarian ini, kebersamaan, begitu pula Tari Rampo dimainkan. Kekompakan antar satu penari dengan penari lainnya adalah hal yang utama. Meski ada satu-dua kali kesilapan, itu tidak menjadi soal.

Berikutnya adalah Tari Saradipa dari Banjarmasin. Tari Saradipa adalah kisah empat prajurit lelaki tinggi-kekar yang sedang berlatih di alun-alun kerajaan. Mereka berbaris dengan gagah, mengusung tombak panjang, menampilkan formasi bertahan dan menyerang. Tentang kesetiaan pada raja dalam mempertahankan wilayahnya.

Sajian kedua adalah musik. Ansamble Gitar dengan formasi sembilan gitaris—lima gitaris perempuan dan empat gitaris lelaki—dan satu konduktor membungkus ulang lagu daerah “Ampat Si Ampat Lima” dan “Janger” dalam akustik gitar modern.

Dilanjutkan oleh Ansamble Gesek yang membawakan “Cublak-Cublak Suweng” dan “Gundul Pacul”. Ada tujuh biola dan satu cello disini. Apa jadinya jika lagu daerah bertautan dengan musik orkestra Barat klasik? Pilihan segar di tengah gempuran musik pop yang picisan.

Duo Ansamble ini sendiri sebenarnya adalah UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) dalam bidang musik yang ada di lingkungan Sendratasik. Jika Anda berpikir sajian tadi adalah klimaks, maka itu salah. Masih ada Borneo Street Orchestra.

Ini adalah campuran antara musik daerah Banjar, Panting. Orkestra, dus alat musik modern, bass electric dan ukulele. Putri Yoga Natasya kembali hadir membawakan lagu Cindai. Sedangkan Siti Risa Noviyanti menyanyikan lagu Paris Barantai. Siti atau lebih dikenal dengan Icha, adalah pemenang festival lagu Opick (FLO) untuk kategori dewasa Kalsel.

Penampilan terakhir adalah Teater Japin Carita yang melakonkan Sandal Warisan. Naskah dan sutradara asli besutan mahasiswa Sendratasik. Agak mengejutkan, berbeda sekali dengan sajian-sajian sebelumnya yang serius dan membutuhkan pemikiran untuk menikmatinya. Teater ini mengandalkan humor, atau lebih tepatnya lawakan. Bisa dimengerti, penonton yang mayoritas muda-mudi ini butuh sesuatu untuk mengendurkan urat syaraf mereka.

Kisah ini dimulai dari kantor pambakal. Cerita mulai menjadi runyam ketika sebelah sandal milik putri pambakal dicuri orang. Sayembara kemudian diumumkan oleh pambakal. Jika wanita yang berhasil menemukan, akan dijadikan dangsanak sang putri kesayangan. Jika lelaki yang menemukan, akan dijadikan menantu pembakal.

Meski alur cerita mudah tertebak. Tapi kejutan-kejutan humor yang dihadirkan patut diberi acungan jempol. Sukses mengajak tertawa manusia yang paling serius sekalipun. Mengingat bahasa dan logat Banjarnya yang kental. Kita seolah sedang menyaksikan Opera Van Java milik Parto Patrio, tapi dalam versi Banjar.

Catatan kaki mesti diberikan kepada sebagian penonton. Dalam sajian tari dan musik sebelumnya, masih ada kasak-kusuk dan sibuk sendiri, terutama dibagian belakang. Disengaja atau tidak, kenikmatan menonton menjadi agak terganggu.

Acara bubar pada jam 11 malam. Sekedar untuk diketahui, acara malam itu adalah sesi kedua. Sesi pertama dibuka pada jam empat sore, sajiannya sama tapi dengan audiens yang berbeda, khusus pelajar.

“Total ada seratus penampil dan kru,” ucap Muhammad Nazamuddin (21) selaku ketua panitia yang ditemui usai pementasan. “Kami lah yang menyiapkan acara, kostum, panggung dan lainnya. Yang tampil adalah adik-adik kami dari angkatan 2009, 2010 dan 2011,” kejarnya.

Nazamuddin adalah mahasiswa angkatan pertama dari jurusan yang dibuka pada tahun 2008 silam ini. Sembari berterima kasih pada pihak fakultas, sponsor dan Taman Budaya Kalsel. Ia menjelaskan tidak ada kendala yang berarti sebab persiapannya memang benar-benar matang, mencakup enam bulan. “Ini adalah acara perdana dan saya berharap ia menjadi abadi. Tahun berikutnya akan ada Sendratasik Berkarya jilid dua, tiga, empat dan seterusnya,” jelasnya.

“Tujuan kami adalah kepuasan penonton,” ucapnya sumringah. Lalu apakah penonton puas? Terkait jawabannya, riuh-rendah tepuk tangan yang penonton berikan usai pementasan berakhir sudah cukup mewakili. []

2 Comments to “Dari Aceh, Orkestra Barat hingga Opera Van Banjar”

  1. min, makasihh .. berguna banget buat gue yang lagi buat makalah. mau nanya lagu melancholy itu lagu siapa ya .. ? thx sebelumnya 😀

Leave a Reply to jesiie Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: