Satu Malam, Dua Teater, Tiga Brongkos

 

Puncaknya, mereka berteriak, “Mereka hentikan matahari diluar, jarum jam mati, kami duduk disini sampai karatan!”

DUA lelaki berjas, berdasi, bertopeng, tampil menenteng koper besar. Mondar-mandir mereka. Mulanya hanya berpapasan. Dua tiga kali tersenggol, amarah tersulut. Perkelahian tak terhindarkan. Koper diayunkan, dipukulkan, diadu, berkali-kali. Plak-plak-plak!

Usai itu, seorang lelaki datang. Sendirian. Tanpa baju, hanya memakai celana merah lusuh.  Kepalanya ditutup dengan ember logam yang sudah penyok sana-sini. Ia berlutut, menggeliat, meregut-regut udara. Ia melenguh, menggeram, berteriak. Tanpa kosa kata dalam bahasa manusia apapun. Lalu gelap. Seseorang berlari sambil memainkan dua senter ditangannya dengan cepat dan acak.

Barulah ketiga lelaki itu tampil bersama. Satu gundul, dua gondrong. Tubuh mereka berkeringat mengkilat, hanya bercelana merah. Sapu pel dan ember logam awalnya digunakan sewajarnya. Sontak kondisi berubah kacau, ember dipasang dikepala lalu dipukul-pukul sendiri sampai nyaring bunyinya. Puncaknya, mereka berteriak bersama, “Mereka hentikan matahari diluar, jarum jam mati, kami duduk disini sampai karatan!”

Itulah sekelumit adegan pementasan Brongkos yang dibawakan Teater Api Indonesia (TAI) Surabaya, kemarin malam (20/1) di Gedung Balairung Sari. Ia merupakan hasil kerjasama Taman Budaya Kasel dan TAI. Kelompok teater yang dibentuk tahun 1993 dan sempat vakum pada 2005 ini memang sedang mengadakan pertunjukan keliling ke 15 kota di penjuru nusantara. Ini adalah penampilan kedua TAI di Banjarmasin sejak tahun 2000 silam.

Brongkos adalah naskah besutan Dale Wasserman yang diadaptasi dari novel One Flew Over The Chukoo’s Nets karya Ken Kessey. Menurut Luhur Kayungga, sang sutradara, Brongkos adalah nama seorang tokoh dalam pementasannya terdahulu, Laboratorium Gila (1999-2003). TAI datang ke Banjarmasin hanya bertiga. Selain menyutradarai, Luhuy juga bermain.

“Brongkos adalah seorang kepala suku. Tanah adatnya hendak dirampas. Kekayaan alamnya dikeruk, hutannya dibabat, kebudayaannya terancam rusak,” jelas Luhuy usai pementasan. “Tidak ada tokoh utama dalam pementasan ini. Semuanya adalah Brongkos,” tambahnya.

Pertunjukan berdurasi 30 menit ini begitu liat. Selain minim dialog dan narasi—kalaupun ada membuat berkerut dahi—ia juga lebih mengutamakan pada olah tubuh. Teknik pencahayaan dan musik pengiring juga minimalis. Hanya ada suara sirene mendem dan kring jam beker sebagai jeda antar adegan. “Kami percaya olah tubuh adalah yang utama,” ucap Luhuy disesi diskusi usai pementasan.

Kalsel adalah daerah yang kaya akan sengketa tanah. Mulai dari persoalan sawit, penebangan hutan hingga pertambangan. Ditanya apakah fakta itu yang menarik TAI datang ke Banjarmasin, lelaki bertato dengan motif etnik ini menggeleng. Baginya, itu hanya kebetulan yang tepat dan baik adanya.

Adegan, kostum, properti, dan narasi boleh berubah kecuali satu, manekin (boneka) di tengah panggung. Dari awal hingga akhir ia tetap ada. Manekin perempuan bergaun merah ini berkalung emas, duduk lesu di ayunan. Tali ayunan dari kain beledru merah mewah. Ia disembah, diayun, digoda dan disentuh.

Seorang lelaki kemudian menyemprotinya dengan parfum, berkali-kali. Gedung Balairung Sari praktis semerbak harum parfum murah. Demi mendapat udara segar, seorang ibu yang duduk dibaris kursi kedua sampai harus mengipas-ngipaskan brosur ditangannya.

“Manekin ini adalah simbol. Setiap hari kita bertemu dengan manusia yang elok dan cantik. Tapi semakin sulit kita mengenalinya sebagai manusia. Jiwa dan nurani kemanusiaannya telah tergerus,” jelas lelaki yang kini aktif di Dewan Kesenian Surabaya ini.

Kesulitan memaknai Brongkos semakin menjadi-jadi, karena pesan yang coba disampaikan TAI juga semarak. Mulai dari isu sengketa tanah, hak-hak masyarakat adat, hilangnya nurani kemanusiaan, kehidupan urban kota, modernitas yang gagap hingga kapitalisme yang buas. “Saya berharap Brongkos menjadi semacam cermin. Tempat berkaca atas setiap permasalahan yang penonton hadapi,” paparnya.

Tapi malam itu bukan milik TAI seorang. Sebelumnya, pukul 20.30 Wita, tampil Sanggar Sesaji Banjarmasin dengan Topeng Para Topeng, naskah dan sutradara oleh Rudi Karno. Berbeda dengan Brongkos, pemaknaan Topeng Para Topeng lebih ngeh. Ada banyak kata kunci bertebaran dalam dialog dan narasinya. Seperti “rapat paripurna”, “deadlock”, dan “studi banding”.

Di panggung, tampil tiga lelaki parlente bertopeng. Mereka berebut satu singgasana mewah. Sempat bersilat lidah, selepas itu, dari balik kain hitam, siluet demonstran berjejal meneriakkan “suara rakyat suara tuhan”.

Tiga wakil rakyat ini kemudian habis-habisan menggoda seorang lelaki canggung yang berani menyampaikan aspirasi rakyat. Apakah ia akhirnya tergoda atau tetap berteguh diri? Entah. Ia tampak bimbang dan berteriak histeris. Panggung ditutup.

“Selain sebagai perbandingan, ia juga bisa menjadi inspirasi dan motivasi bagi teman-teman seniman teater kita,” jelas Noor Hidayat Sultan, Kepala Taman Budaya Kalsel kepada wartawan, saat ditanya perihal latar belakang kerjasama dengan TAI tersebut.

Pada sesi diskusi, penonton tidak segan memberi apresiasi bahkan kritik. Salah satu yang menarik adalah gugatan terhadap TAI, begini bunyinya, “Brongkos jelas adalah sebuah kritik sosial. Apakah teater alat yang efektif untuk mendorong perubahan sosial?” cecar seorang peserta. “Teater bukan agen aksi, teater adalah agen perenungan,” jawab Luhuy. Dan memang, TAI berhasil mengajak kita untuk merenung. []

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: