Nama Anakku Mahdiannur Rimbawan

 

Melintasi masa bermain, bujangan dan menjadi ayah di rimba raya Mandiangin. Membuat Amang Junai mudah jatuh pada dua sikap bertentangan: cepat akrab dengan sesama pecinta alam atau cepat naik pitam dengan perusak alam.

LELAKI kelahiran Mandiangin 57 tahun silam ini keluar dari warung kopinya tanpa baju. Ia hanya memakai sarung dengan gulungan yang tidak sempurna. Minggu siang itu (29/1), Edi Junaidi tampak sedang kelelahan. Pasalnya, dini hari tadi ada dua pecinta alam yang kesurupan, kekacauan kecil itu turut menyibukkannya.

“Yang satu berlagak seperti buaya, satunya lagi mengikik seperti anjing hutan,” ucapnya membuka perbincangan, di pondokan samping warungnya, Tahura Sultan Adam. “Eeek-eeek, kiik-kiik,” guyonnya coba menirukan suara anjing hutan.

Di kalangan aktivis lingkungan dan senior Mapala Banjarmasin-Banjarbaru, Amang Junai adalah sosok yang dituakan. Dengan lancar ia menyebutkan satu demi satu nama aktivis Mapala kenalannya. Salah satu nama yang ia sebut adalah Berry Nahdian Forqan. Berry yang merupakan aktivis lingkungan peranakan Banjar Hulu kini adalah Direktur Eksekutif Nasional Walhi.

Wawancara sempat terhenti sejenak saat satu mobil datang memarkir di halaman depan warungnya. Ketika pintu mobil terbuka, tampak satu keluarga menyerbu dan menyapa Amang Junai. Suasananya seperti temu kangen. “Suami-istri itu dulunya sama-sama aktivis Mapala,” jelas Amang Junai menjawab keheranan Radar Banjarmasin.

Meski pendidikan Amang Junai hanya sebatas madrasah, ia memiliki kesadaran dan keawasan pada isu-isu lingkungan. “Sejak bujangan sudah kenyang dengan proyek-proyek reboisasi. Mulai penyemaian, penanaman sampai perawatan saya ikut. Sakit benar hati ini kalau ada yang berani menebangnya,” kisahnya sembari memilin-milin ujung rokok.

“Waktu kecil, di hari libur sekolah, kami ramai-ramai naik gunung. Istilah orang bahari itu, sasak sudah hutan ne wan bulu batis kami,” ucapnya terkekeh. Ditanya apa beda Mandiangian dulu dan kini, nada suaranya meninggi. “Tambah rusak! Hutannya jauh berkurang. Wisatawan juga banyak meninggal sampah,“ cecarnya.

Amang Junai kadang merasa sendirian dan tidak dipedulikan. Kritik dan masukannya ke berbagai pihak terkait nasib hutan Mandiangin seringkali tidak didengarkan. “Penanaman hutan itu yang penting biar sedikit tapi dirawat. Percuma kalau tanam-tanam banyak tapi terbengkalai,” katanya.

Karena perhatiannya pada hutan Mandiangan itulah, ia dipinang Fakultas Kehutanan Unlam Banjarbaru sebagai Staf Hutan Pendidikan. Selama 12 tahun terakhir, ia telah membantu mengawasi hutan seluas dua ribu hektar tersebut.

Namun, layaknya jalanan Mandiangin yang penuh lobang dan terjal, begitu pula jalan hidup Amang Junai. Perkawinan pertama yang memberinya dua anak dan dua cucu, kandas. Mantan istrinya itu kini tinggal di Banjarbaru, bersama anaknya. “Hubungan kami tetap baik. Kami suka saling bersilaturrahmi. Kalau tidak mereka yang kemari, kami yang kesana,” kisahnya.

Perkawinan keduanya, memberi satu anak—namanya Mahdiannur Rimbawan, lahir tahun 1998. “Semua anak Mapala sini kenal sama Rimbawan,” ucapnya bangga. Pembaca pasti sudah paham apa makna “Rimbawan” dalam nama tersebut.

Amang Junai mengaku tidak lagi percaya dengan pemerintah. “Di telinga ini masih terngiang-ngiang janji-janji kampanye mereka itu. Tapi apa?! Dusta semua,” sergah Amang Junai. “Kini saya hanya bisa menaruh harapan pada teman-teman Mapala, LSM dan media. Kalau pemerintah, saya pilih golput!” tandasnya sembari tergelak. **

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: