PWI Dulu Berkisah, PWI Kini Bicara

Redaksi dan karyawan Kalimantan Berdjoang, Zafry Zam-zam (atas, dua dari kiri, berkacamata) dan Arthum Arta (jongkok, paling kiri).

Belum genap setahun proklamasi, Jakarta kian memanas akibat pendaratan tentara Sekutu-NICA. Pada 3 Januari 1946 pemerintah akhirnya memutuskan eksodus ke Yogyakarta. Sejumlah wartawan republikan turut serta. Pada 9 dan 10 Februari mereka menggelar Kongres Wartawan I—PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) lahir.

SELAIN dihadiri para wartawan juga datang para penerbit, pemimpin media, penyiar radio, jawatan penerangan dan lainnya. Ada tiga tokoh yang turut menyumbang pidato selama kongres, diantaranya Menhan Amir Syarifuddin, Menpen Mohammad Natsir dan Tan Malaka.

Selama revolusi fisik, berhadapan dengan media-media pro Belanda, para wartawan yang bernaung di bawah PWI melancarkan perang kata-kata di media cetak dan perang suara lewat RRI. Kisah ini tercatat apik dalam Tanah Air Bahasa: Seratus Jejak Pers Indonesia, Taufik Rahzen, 2008. Buku ini terbit untuk memperingati milad PWI ke 62 kemarin.

Dua tahun berselang PWI Kring Banjarmasin lahir. Lalu berubah nama menjadi PWI Cabang Banjarmasin dibawah pimpinan Zafry Zam-zam (1948-1950)—belakangan namanya diabadikan sebagai salah satu nama jalan di Banjarmasin. Hampir semua anggota kepengurusan pertama ini adalah anggota keredaksian harian nasional Kalimantan Berdjoang.

Senada dengan PWI Pusat, PWI Cabang Banjarmasin pun dibentuk dalam suasana pendudukan Belanda-NICA. Dalam periode 1945-1949, ada tiga media yang patut dicatat: Soeara Kalimantan, Kalimantan Berdjoang dan Borneo Post. Jika dua media pertama berhaluan nasionalis, yang terakhir berada dibawah pengawasan Residentie Voorlichtingen Dienst (RVD) Zuider en Oosder Afdeling van Borneo.

PWI Cabang Banjarmasin dibentuk berdasar surat Darmo Sugito (wartawan KBN Antara Yogyakarta), mengingat pengumuman Bung Hatta tentang pentingnya membentuk wartawan yang punya jiwa republikan demi memperkuat ketahanan nasional.

Kisah ini tersimpan rapi dalam buku Wartawan-wartawan Kalimantan Raya karya Arthum Artha. Artha adalah saksi sekaligus pelaku sejarah. Sekretaris Zafry di PWI, redaktur Kalimantan Berjoeang (1941-1951) dan Ketua PWI Cabang Banjarmasin (1961-1963). Buku ini terbit pada tahun 1981 dalam rangka milad PWI ke 35.

Sebagai tambahan, dari catatan sejarah yang disimpan pihak Gedung PWI Kalsel Jalan Pangeran Hidayatullah, kala itu, utusan PWI Pusat yang datang ke Banjarmasin adalah Adi Nugroho (ANITA), Djowoto (ANT) dan Mr.Sumanang. Tugas mereka adalah persiapan pembentukan PWI Kring di Banjarmasin.

Patut dicatat jasa PWI dalam memperbaiki kualitas jurnalisme Indonesia tak terperi. Terutama dibawah kepemimpinan Rosihan Anwar (1970-1973), sudah ratusan wartawan dipelosok nusantara yang sempat mencecap pendidikan jurnalisme yang diberikannya. Wartawan yang akrab disapa Haji Waang ini berpulang pada tahun 2011 kemarin dalam usia 89 tahun.

Tapi sejarah PWI memang bukan sejenis dongeng sebelum tidur. Tercatat PWI pernah tunduk takluk pada Nasakom (Nasionalisme, Agama, Komunisme) Soekarno. Di era Orde Baru, terutama di bawah Harmoko, PWI ”menguningkan” tubuhnya. PWI juga begitu lunak saat banyak koran/majalah dibredel oleh Soekarno maupun Soeharto.

”PWI tidak hidup di ruang hampa, ketika reformasi 1998 tercetus, PWI pun mereformasi diri,” ucap Fathurrahman, Ketua PWI Kalsel periode 2008-2012, kepada Radar Banjarmasin di Gedung PWI Kalsel di Jalan Pangeran Hidayatullah, kemarin siang (6/1).

Wartawan senior yang akrab disapa Abang Atui ini pun merasa tidak masalah dengan beragam serikat pewarta yang kini ada, sebutlah misal AJI (Aliansi Jurnalis Independen). ”Kita bekerja sama ketika merumuskan sesuatu yang penting dalam pers. Tapi dalam hal agenda, kita jalan sendiri-sendiri. Tidak ada masalah,” jelasnya.

Perihal perkembangan jurnalisme di Kalsel, Fathur mengiyakan, masih ada keluhan masyarakat terhadap wartawan. ”Dalam dialog dan forum yang kita gelar, ada saja keluhan warga terkait pemberitaan yang tidak seimbang, lepasnya akurasi data, atau tingkat intelektualitas wartawan. Maksudnya, wartawan kok tidak paham dengan berita yang sedang diliputnya,” paparnya.

”Kunci bersaing dalam bisnis media adalah profesionalitas wartawan,” tandasnya. Menurut Fathur, kunci ini perlu diperhatikan ditengah sengitnya persaingan media. Terutama setelah kemunculan media dotkom.”Tapi media konvensional tetap dibutuhkan. Orang tetap ingin baca koran, ingin nonton televisi dan ingin dengar radio,” tukasnya.

Disinggung mengenai isu kebebasan pers, Fathur bersyukur. Sebab tekanan politik dan militer terhadap wartawan Kalsel bisa dikatakan hampir tidak ada. ”Pada tahun 2011 kemarin, tidak ada delik pers yang kita tangani. Hanya sempat ada kasus kekerasan terhadap wartawan, tapi tidak terlalu serius,” jelasnya.

Tapi perlindungan terhadap wartawan di lapangan tidak cukup, ia juga mesti terlindungi di kantornya sendiri. ”PWI harus memfasilitasi kesepakatan semua perusahaan pers untuk berkomitmen menerapkan standar perusahaan pers dan melindungi wartawan dari ancaman internal yang datang dari perusahaan pers itu sendiri,” ucap Toto Fachruddin saat dihubungi Radar via telpon.

Toto adalah salah satu redaktur Radar Banjarmasin. Toto sedang di Jambi, mengikuti Konvensi Media Massa dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional 2012. Perhelatan akbar wartawan Indonesia ini mengambil tema Pers Merdeka, Rakyat Punya Suara. Puncaknya, besok (9/2) akan dihadari Presiden SBY.

Terkait isu kesejahteraan wartawan, menurut Fathur, kemampuan keuangan antar media berbeda. Dewan Pers memang telah menetapkan bahwa gaji wartawan tidak boleh dibawah UMP (Upah Minimum Profesi), walau nyatanya tetap saja banyak wartawan yang belum sejahtera.

”Ini pula pemicu lahirnya wartawan pemburu amplop. Ujung-ujungnya, wartawan hanya akan menjadi keluhan bagi para narasumber,” jelas wartawan Kalimantan Post ini.

Kini, fokus PWI adalah membantu wartawan untuk meningkatkan kompetensinya. ”Sudah dua tahun ini kita mengadakan SJI (Sekolah Jurnalisme Indonesia),” ucapnya. Fathur memberi penekanan kepada pengetahuan dan keawasan wartawan terhadap hukum dan kode etik.

Hal ini diaminkan oleh Toto, ”Sebagai organisasi pers tertua dan pertama di Indonesia, PWI harus mendorong pers nasional untuk lebih profesional dan kompeten lewat pendidikan yang berkelanjutan,” ucapnya. Kebetulan, Toto sendiri adalah peserta terbaik dalam SJI 2011 kemarin.

Pada akhirnya, ”Keseimbangan antara kepentingan bisnis dan kepentingan publik harus tetap dijaga oleh perusahaan pers manapun,” tandas Toto. ***

——————————————————————

RENTANG Kepemimpinan PWI Cabang Banjarmasin:

Zafry Zam-zam, 1948-1950

Haspan Hadna, 1951-1953

Arsyad Manan, 1954-1958

H Gusti A Soegian Noor, 1959-1960

Artum Artha, 1961-1962

Aliansyah Ludji, 1963-1965

Tajuddin Noor Nasth, 1966-1968

Anang Adenansi, 1973-1977, lalu 1977-1981 dan 1981-1985

Djok Mentaya, 1986-1990 dan 1990-1994

Djohar Hamid, 1994-1998

Gusti Effendi, 1998-2002, 2003-2007

Fathurrahman, 2008-2012

Sumber: album foto Gedung PWI Kalsel.

——————————————————————

Sebelum menempati Gedung PWI Kalsel di Jalan Pangeran Hidayatullah, pada tahun 1950-1990 PWI menempati Balai Wartawan di Jalan Sudirman, kini dibongkar dan kemudian hari menjadi halaman Hotel Batung Batulis. Di bangunan milik Pemda Kotamadya Banjarmasin ini, lantai dua untuk PWI, sedangkan lantai satu pernah dipakai secara bergantian oleh Panitia Persiapan Museum Banjar, perpustakaan kotamadya dan MUI Banjarmasin.

Sumber: Buku Banjarmasin Tempo Doeloe dan Wayah Ini, terbitan Walikotamadya KDH Tk II Banjarmasin, 1985.

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: