Saya Jurnalis, Bukan Gubernur

 

Berapa banyak wartawan muda Kalsel yang tahu pendahulu mereka? Misal, Anang Abdul Hamidhan.

Soeara Kalimantan (1930-1942)

BERKAT politik etis, Pemerintah Hindia Belanda memperbolehkan pribumi menerbitkan dagblad (suratkabar) berbahasa melayu. Maka pada 23 Maret 1930, terbit Dagblad Soeara Kalimantan. Langkah perdana Anang Abdul Hamidhan ini kemudian diikuti wartawan lainnya. Dalam tempo singkat, di Borneo Selatan pada kurun 1930-1942 terbit 14 koran/majalah.

Ada yang hanya cetak stensilan, ada pula yang mampu terbit dengan kertas koran kualitas seadanya. Kebanyakan memang hanya seumur jagung. Satu dagblad mati, dagblad lain lahir. Ibarat, ”Lahir tidak berkokok, mati tidak berkutik,” tulis Artum Artha.

Artha menyimpan kisah ini dalam buku Wartawan-wartawan Kalimantan Raya, 1981. Ia adalah wartawan Kalimantan Berdjoang (1941-1951) dan Ketua PWI Banjarmasin (1961-1963).

Tentu awak media mesti berhati-hati. Persdelict (ranjau pers) setia mengintai pekerjaan jurnalistik wartawan banua. Hamidhan sendiri kena tiga kali. Dua bulan penjara di Cipinang, 1930. Enam minggu penjara di Banjarmasin, 1933. Dan enam bulan penjara di Banjarmasin, 1936. Satu kali lagi pelanggaran, Soeara Kalimantan bakal kena persbreidel (pemberangusan).

Selama mendekam dalam penjara, Soeara Kalimantan dipimpin oleh A.A. Rivai, adiknya. Dibawah pengawasan ketat Belanda, bukannya jatuh, surat kabar harian pribumi tertua di Banjarmasin ini justru melesat. Terbukti dengan lahirnya mingguan Soeara Iboe Kalimantan dan mingguan Soeara Hoeloe Soengai.

Lalu, siapa sebenarnya lelaki kelahiran Rantau, 25 Februari 1909 ini? Hamidhan adalah anak kedua Anang Atjil Kusuma Wiranegara, pendiri surat kabar Perasaan Kita, Samarinda, terbit tiap 15 hari sekali. Anang juga tercatat sebagai tokoh yang turut andil membesarkan Sarekat Islam di Kalimantan.

Di lantai tiga Gedung PWI Kalsel Jalan Pangeran Hidayatullah, di antara deretan foto ketua PWI Banjarmasin, paling awal adalah foto Anang, dibawahnya tertulis ”Perintis Pers Indonesia”. Anang adalah lulusan ELS (Europese Lagere School) Samarinda dan MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) Batavia.

Bakat jurnalistik sang ayah menurun pada sang anak. Sejak kecil, majalah Suluh Pelajar dan surat kabar Neraca—keduanya dari Jawa—sudah menjadi santapan sehari-hari Hamidhan. Usai lulus ELS, tahun 1927, Hamidhan melamar ke surat kabar Bintang Timur di Batavia milik Parada Harahap. Parada sering dijuluki sebagai King of The Java Press.

Selama dua tahun bekerja dan berguru pada Parada, Hamidhan kembali ke Samarinda. Pasalnya, Perasaan Kita semakin maju dan ganti nama menjadi Bendahara Borneo, terbit mingguan.

Tapi bagi Hamidhan, Samarinda terlalu kecil untuk ambisinya. Tahun 1930, Anang mengizinkan Hamidhan pergi ke Banjarmasin beserta seperangkat alat percetakan. Inilah titik tolak Soeara Kalimantan.

Seiring karier, Hamidhan tidak melupakan kehidupan pribadinya. Pada tanggal 2 Februari 1942, ditengah suasana Banjarmasin yang harap-harap cemas dengan kedatangan Jepang, Hamidhan menikahi Siti Aisyah.

Gadis kelahiran 27 Mei 1917 ini pernah duduk di HIS (Holland Inlands School), lanjut ke MULO dan OSVO (Opleiding School Voor Vak Onderwijzeressen). Ia tercatat sebagai putri Kalimantan pertama yang berhasil sekolah sampai OSVO (sekarang setingkat SMK).

Mereka menikah pada 2 Februari 1942 ditengah suasana mencekamnya Banjarmasin menjelang dimasuki Jepang, 13 Februari 1942. Sebelum itu, AVC (Afweer en Vernielings Corps, Pasukan Pelawan dan Perusak Belanda) menjalankan bumi hangus. Malam 8 Februari 1942, Banjarmasin menjadi lautan api.

Pasar Baru, Ujung Murung, Pasar Sudimampir dan Pasar Lima dibakar. Penyimpanan bensin di Banua Anyar dan Bagau musnah. Seluruh kendataan militer dikumpulkan di Sungai Bilu untuk dirusak. Jembatan Coen, satu-satunya jembatan untuk menyeberangi Sungai Martapura diledakkan dengan dinamit. Dari kesemua itu, turut menjadi sasaran pembakaran adalah percetakan Soeara Kalimantan.

 

Borneo Shimbun (1942-1945)

Setelah berusaha keras mereparasi mesin cetaknya, Hamidhan berhasil menerbitkan Kalimantan Raya. Sempat terbit berbulan-bulan dibawah penguasaan Rikugun (angkatan darat) Jepang. Sialnya, saat perpindahan kekuasaan kepada Kaigun (angkatan laut) Jepang, penerbitan dilarang.

Hamidhan—bersama wartawan lainnya—direkrut Jepang untuk menjalankan media propagandanya, Borneo Shimbun. Terbit pada tanggal 1 Mei 1942, awalnya Borneo Shimbun terbit dua edisi, edisi Banjarmasin dan Kandangan. Borneo Shimbun mengadopsi nama media massa kebanggaan Jepang, Asahi Shimbun.

”Perbedaan antara surat kabar di zaman Belanda dan Jepang, pengurus redaksi elit ada di tangan wartawan Jepang. Media propaganda ini berada dibawah pengawasan ketat Borneo Menseibu Cokan,” jelas Tajuddin Noor Ganie, dosen Rumpun Sastra di STIKIP PGRI Banjarmasin, Kamis pagi (2/2). Kata macam ”merdeka” atau nama ”Bung Karno dan Bung Hatta” sudah pasti kena sensor.

Dari dua edisi Borneo Shimbun nomor 851 dan 324, Hamidhan memang masih tertera sebagai pimpinan redaksi. Tapi dibawah kuasa umum K. Watanabe dan K. Kato. Di edisi 851 ini, ”Pengangkatan Kepala Negara Indonesia Merdeka” tampil sebagai berita utama.

Gara-gara berita ”Pertukaran Perpindahan Militer Jepang dari Kotabaru ke Daerah Lain”, Hamidhan dipanggil. Dalam nota pasukan Fasis Kuning (julukan yang disematkan wartawan Kalsel pada Jepang) setempat, Hamidhan minta dipotong lehernya. Tapi berkat kebijakan redaksi Borneo Shimbun, Hamidhan selamat dari samurai Kempetai (polisi rahasia Jepang).

Beda halnya dengan nasib Andin Bur’ie, wartawan Borneo Shimbun edisi Balikpapan. Ia dibunuh di suatu tempat di kota Balikpapan oleh Kempetai cuma karena menulis perihal kedudukan Jepang dan sistem pemerintahannya. Andin tidak sendirian, masih ada wartawan R.R. Paat, Anumpotro dan lainnya.

 

Suara Kalimantan (1951-1961)

Berkat informasi dari Tajuddin, Radar berkesempatan mengunjungi rumah bergaya

lawas di Jalan S. Parman No 3 RT 20, Kamis siang (2/2). Disinilah A.A. Hamidhan tinggal sampai tutup usia di tahun 1997. Meninggalkan tujuh anak dan sebelas cucu.

”Kakek meninggal ketika saya masih SMP. Sebagai remaja, saya belum tertarik dan banyak bertanya perihal karier kewartawanan kakek. Tapi saya tahu, kakek adalah tokoh wartawan Kalsel,” cerita seorang cucu Hamidhan dengan ramah.

Di beberapa bagian rumah, lapuk sudah mengoyak. ”Wah, kalau ditanya kapan saya tidak tahu. Yang pasti sebelum Indonesia merdeka, rumah ini sudah berdiri tegak,” kata Siti Fathimah, kelahiran Malang, 14 September 1950. Fatimah adalah anak keempat Hamidhan.

Dari Fatimah, Radar kemudian menuju kediaman Siti Fauziah di Jalan Kol. Soegiono, No 48 samping Mushalla Al-Hidayah. Fauziah yang kelahiran Solo, 11 Agustus 1946 adalah kakak Fatimah. Kepergian Hamidhan sekeluarga ke Jawa pada kurun 1945-1950 jelas bukan karena plesiran, tapi mengungsi dari Jepang yang kalah dan rentan mengamuk.

Sepulang ke Banjarmasin, segera penerbitan diusahakan kembali. Tetap dengan nama yang sama tapi ejaan baru, Suara Kalimantan. ”Karena kantor di Jalan Pasar Baru sudah habis terbakar, ia kemudian pindah ke rumah keluarga di Jalan S. Parman itu,” ucap Fauziah, Sabtu pagi (11/2).

Disanalah aktivitas keredaksian dan percetakan Suara Kalimantan dijalankan. Keluarga Hamidhan turut menyingsingkan lengan baju untuk menggerakkan surat kabar harian yang terbit tiap petang hari ini.

Aisyah yang menguasai Bahasa Belanda, Inggris, Jerman dan Prancis bertugas selaku penerjemah berita atau cerita berbahasa asing ke dalam bahasa melayu. ”Kebetulan bapak hanya menguasai bahasa Belanda,” kisahnya.

”Ibu adalah guru di Meisjes Vervolgschool, semacam SKP (Sekolah Kepandaian Putri). Sekolah itu dulu ada di Komplek Mulawarman,” tambahnya. Berkat profesi itu pula, ketika Hamidhan harus bolak-balik masuk penjara, ekonomi keluarga tidak terlalu terganggu. Gaji Aisyah pernah sampai 125 gulden.

”Sedang saya bertugas sebagai korektor halaman terakhir,” katanya. Isinya berupa advertensi, obituari, resensi film dan hal-hal ringan lainnya. Suara Kalimantan punya empat halaman, harga eceran 10 selembar.

”Zaman itu masih serba manual. Tiap cetakan timah huruf disusun satu demi satu. Kalau ada huruf yang tertukar atau keliru, saya bertugas memperbaikinya,” kenang Fauziah. Kala itu ia masih SD. ”Sedangkan kakak saya, Abdul Faridhan, bantu mengoperasikan mesin percetakan,” tambahnya.

Dari Fauziah pula Radar mendapat buku biografi Hamidhan, Pejuang dan Perintis Pers di Kalimantan, buah karya Soimun Hp. Terbit tahun 1986 oleh Depdikbud Jakarta.

Pada tahun 1961, Suara Kalimantan dijual. Hamidhan mengaku jenuh dan kecewa dengan jalannya politik pemerintah Indonesia yang dianggapnya semakin jauh melenceng dari semangat proklamasi. Ia juga melihat batas kebebasan pers yang kian mengabur.

 

 

Sekitar Hamidhan dan Proklamasi

Hamidhan adalah satu-satunya wakil dari Kalimantan dalam PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Ia dipilih oleh Jepang pada awal bulan Agustus 1945. Sebelum berangkat ke Jakarta, guna menyerap apirasi warga, Hamidhan mengadakan rapat bersama tokoh-tokoh dari Banjarmasin dan Kandangan.

Pada dini hari 17 Agustus 1945, Hamidhan bersama hadirin lainnya adalah saksi dari penandatanganan teks proklamasi oleh Dwitunggal. Esok paginya, di halaman rumah Bung Karno di Jalan Pegangsaan Timur No 56 Jakarta, Hamidhan menyaksikan pembacaan proklamasi.

Otto Iskandardinata kemudian menggelar rapat kecil pada dini hari 19 Agustus. Semua anggota yang hadir menerima kala ditunjuk sebagai gubernur untuk provinsinya masing-masing, terkecuali Hamidhan!

”Saya tetap sebagai jurnalis, gubernur bukan bidang saya,” jawabnya kalem. Hamidhan kemudian mengusulkan Ir. Pangeran Muhammad Noor sebagai gubernur pertama Kalimantan (kala itu masih disebut Borneo).

”Pangeran Muhammad Noor masih di Bandung. Sebelum balik ke Banjarmasin, bapak mengantar surat penunjukan gubernur itu ke Bandung,” kenang Fauziah. Usaha Hamidhan untuk menyiarkan berita proklamasi di Borneo Shimbun ditahan Jepang.

Atas usul sang atasan, Watanabe, Hamidhan memutuskan menahan diri dan mengungsi ke Jawa bersama keluarga tercinta. Tapi sebelum pergi, Hamidhan menitipkan koran-koran Jakarta yang sempat ia beli kepada teman-temannya, isinya perihal proklamasi. ”Tuan Hamidhan tahu, kami sekarang ini di pihak yang kalah dalam perang. Sebagai orang yang kalah kami bisa membabi buta,” ucap Watanabe.

 

Antara Soeara Kalimantan dan ”Soeara Kalimantan”

Selagi Hamidhan masih di Jawa dalam pengungsian. Usai Jepang kalah dan proklamasi, membonceng pasukan Sekutu, Belanda kembali datang. Percetakan yang sebelumnya menerbitkan Borneo Shimbun diambil alih oleh Regeering Voorlichtings Dienst (Departemen Penerangan Belanda). Sebagai gantinya, terbit Soeara Kalimantan.

Belanda sengaja memakai nama ini untuk menarik perhatian dan mengecoh masyarakat. Satu-satunya cara untuk mengetahui bahwa ini bukan Soeara Kalimantan adalah gaya pemberitaan yang manut Belanda, beda sekali dengan gaya Hamidhan yang tidak tedeng aling-aling.

Usai Konferensi Meja Bunda (KMB) di Den Haag, 23 Agustus sampai 2 November 1949, Belanda angkat kaki. Koran ini kemudian pindah nama menjadi Indonesia Merdeka.

 

Tutup Usia, 21 Agustus 1997

Setelah Suara Kalimantan dijual, Hamidhan ditawari oleh keponakannya, Fachrudin Mahoni untuk mengawasi dua hotel miliknya, Hotel Banyuwangi (Banyuwangi) dan Hotel Wisma Andhika (Surabaya). Satu atau dua bulan sekali Hamidhan balik ke Banjarmasin untuk menengok keluarganya. Pekerjaan ini berjalan sampai tahun 1975.

Hamidhan kemudian istirahat bersama keluarga di rumahnya di Jalan S. Parman itu. Sesekali untuk melepas gatal di tangan, Hamidhan mengirim artikel ke media lokal atau nasional.

Ditanya apa ada keturunan Hamidhan yang berkarier di jurnalistik, Fauziah tertawa. ”Tidak ada, seperti terputus. Ada yang jadi insinyur, apoteker, dokter…” katanya. ”Tapi ada satu cucu dari bungsu, ia pintar sekali mengarang. Kantor Berita Antara sempat mengajaknya bergabung, tapi ia tolak,” kejarnya. Dari ketujuh anak Hamidhan, hanya tiga yang masih tinggal di Banjarmasin.

Dua tahun sebelum meninggal, Hamidhan berada dalam kondisi pikun. ”Dalam rangka 17 Agustus 1995, RRI datang, bapak berkisah dengan penuh semangat. Usai wawancara, beliau jatuh sakit,” kenang Fauziah.

Setelah sakit, Hamidhan menjadi pikun. ”Kata dokter, bapak kehilangan ingatan di masa sekarang. Pikiran bapak balik ke tahun 1945. Beliau merasa selalu dalam kondisi perang,” ceritanya. Anang Abdul Hamidhan tutup usia dalam umur 88 tahun. ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: