Dari Setrika, Barang Loak Hingga Buku Murah

 

Penatu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti tempat usaha penyucian dan penyetrikaan pakaian. Lalu mengapa Jalan Penatu (orang lazim menyapanya Kampung Penatu) justru terkenal karena percetakan dan pasar bukunya?

JIKA boleh dibanding, merujuk pada kenangan H. Ahmad Fauzi, kelahiran 17 Februari 1942, antara Kampung Penatu tempo doeloe dan kini sudah jauh banyak berubah. Fauzi adalah generasi keenam dari ketujuh generasi keluarga yang lahir, tumbuh dan besar di Kampung Penatu. Kakek Fauzi adalah pemilik Pertjetakan Boemi Poetra, lokasinya dekat Toko Min-Seng.

Pertambahan penduduk telah membuat Kampung Penatu kian menyempit. Sebelum jalannya dicor semen seperti sekarang, ia hanya berupa titian dari campuran aneka kayu. Dibawah titian itu ada sungai kecil yang melintas hingga Bioskop Rex—kemudian berubah nama menjadi Bioskop Ria.

Fauzi sendiri tidak tahu kapan tepatnya ia dinamai Kampung Penatu. “Di zaman kakek saya sekalipun, sudah begitu,” ujarnya, kemarin siang (5/3) di ruang tamu Losmen Abang Amat—panggilan akrab ayahnya. Di zaman Belanda dan Jepang, Abang Amat terkenal sebagai pemuda yang jago berkelahi.

Losmen ini berada tepat di tengah Kampung Penatu. Losmen yang terdiri dari 21 kamar, bergaya lawas dan dipatri dari kayu ulin ini dibangun pada tahun 1955. Beberapa pedagang buku di Kampung Penatu yang ditemui, mengarahkan Radar Banjarmasin ke Fauzi sebagai tokoh yang dituakan.

Memang benar, nama resmi yang diberikan pemerintah adalah Jalan Penatu, namun tetap saja panggilan Kampung Penatu lebih familiar. “Jalan Sudimampir I, Jalan Pangeran Samudera, BRI, Jalan Hasanuddin HM dan Jalan Sudimampir,” sebut Fauzi. “Nah, tepat ditengahnya itulah Kampung Penatu,” imbuhnya.

Kala zaman penjajahan, disinilah sasaran para toean dan meneer pejabat Karesidenan Hindia Belanda di Borneo Selatan guna menjaga kerapian penampilannya. Pasalnya, disinilah pusat bisnis penyucian dan penyetrikaan (penatu, binatu) di Banjarmasin kala itu. Memang, modal dan tempat kebanyakan dimiliki orang Tionghoa, pribumi hanyalah karyawannya.

Fauzi masih bisa mengingat nama-nama orang Belanda yang tinggal disana. “Di depan sana ada namanya Tuan Moli. Saya juga punya teman sebaya namanya Betty dan Rosemary, kakak-beradik. Mereka semua sudah balik ke negerinya,” kenangnya.

Pada era 40an, tersebutlah nama Van Loen, seorang polisi Hindia Belanda yang sangat ditakuti oleh pedagang kaki lima di Kampung Penatu. Kalau disetarakan dengan sekarang, jabatannya bolehlah setingkat Kasatlantas. “Dengan sepeda motor gandengnya, ia libas lapak para pedagang itu,” kata Fauzi sembari tergelak.

Beranjak ke era 50an, Kampung Penatu menjadi pasar loakan. “Barang bekas mulai dari besi-besian, pakaian, radio, senter, buku dan lainnya ada disini,” kisahnya. Zaman itu—apalagi dibawah penjajahan Jepang—serba sulit. Cari makan susah, baju kadang dari karung goni. Bukan hal yang aneh jika orang ramai menjual perabot-barang miliknya hanya demi sesuap nasi.

Memasuki era 60an, didalam wilayah Kampung Penatu dibangun Pasar Suka Ramai, namun tetap saja nama Kampung Penatu lebih terkenal. “Nah, pasar ini akhirnya fokus pada percetakan dan buku,” kata Fauzi. Di depan, menghadap ke arah badan jalan, ada Studio Foto Kok Min, salah satu studio foto tertua di Banjarmasin. Kini, punah sudah.

Meski tidak lama, Kampung Penatu sempat menjadi surga bagi para pencari buku bekas—kini buku baru semua. Kalau beruntung, kita bisa dapat buku langka dengan harga miring. Jika Jakarta punya Kwitang, maka Banjarmasin punya Kampung Penatu.

Sebagai saksi sejarah tunggal yang tersisa, ada satu resiko yang harus Fauzi ambil. Melihat satu demi satu sahabatnya datang dan pergi. Lamat-lamat, masih jelas dibenak Fauzi, nama demi nama pedagang buku dan pengusaha percetakan yang pernah berjuang mencari nafkah di Kampung Penatu.

“Kedatangan Anda kemari agak terlambat. Sekira dua hari yang lalu, seorang teman kami akhirnya memutuskan pensiun. Ia merasa lelah dan cukup. Ia sudah melakoni usaha percetakan disini selama 35 tahun. Bayangkan, 35 tahun!” ucapnya tercekat.

Hari ini, Kampung Penatu tetap terkenal dengan percetakan dan bukunya. Magnetnya telah menarik usaha lain berdatangan: toko alat tulis, agen koran dan majalah, pembuatan stempel, figura, kaligrafi dan lainnya. Di mulut jalan, deretan warung kecil menyebar aroma harum ikan bakarnya. Dari pagi sampai sore, pembeli hilir-mudik masuk Kampung Penatu.

Di tengah sergapan toko-toko buku bermodal besar, Kampung Penatu tidak serta-merta kehilangan pembelinya. “Segmen pasar! Kalangan menengah ke bawah suka kemari. Tapi kalau yang berduit. Mana mau mereka keluar-masuk gang sempit, parkirnya berdesakan, panas, menelusuri buku-buku yang ditumpuk tinggi,” tandasnya sembari tertawa gelak. (**)

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: