Empat Generasi dalam Dunia Gigi

Tukang Gigi Oyong di Muara Kelayan

Berbekal keterampilan membuat gigi palsu, tahun 1900an, Tjong Eng Fat bersama teman-teman lainnya berlayar ke Hindia Belanda. Kapal-kapal dari negara tirai bambu itu kemudian singgah di berbagai tempat di nusantara, seperti Jember, Lumajang dan lainnya. Tjong Eng Fat sendiri singgah di Malang. Nasiblah yang kemudian membawanya ke Banjarmasin.

TAHUN 1919, Tjong membangun gubuk kajang di Muara Kelayan. Jasa tukang gigi Tjong ini sempat pindah ke Ujung Murung. Tidak lama, ketika pasar tersebut terbakar, ia balik ke tempat asal—sampai sekarang. Bedanya, kini bangunannya sudah dari beton permanen.

Di banua sendiri, tukang-tukang gigi tionghoa ini telah menyebar ke beragam tempat. Seperti Martapura, Kandangan, Tanjung, Amuntai, Barabai dan lainnya.

Keterampilan itu diturunkan kepada sang anak, Tan Teng Kai. Caranya, sedari kecil, Tan membantu dan ikut terlibat secara langsung dalam usaha Tjong. Tan sendiri memiliki 10 anak, salah satunya bernama Yanto Tan.

Tapi nama Yanto kalah populer dibandingkan nama panggilannya sejak kecil, Oyong. ”Saya lahir tahun 1955, sejak tahun 1967 sudah membantu usaha ayah,” kenang Oyong kala ditemui Radar Banjarmasin, sore kemarin (16/3) di kiosnya, Tukang Gigi Oyong, tepat di seberang plang Jalan Kelayan A.

Meski sedari kecil sudah sibuk membantu usaha orang tua, Oyong sempat mencicipi bangku sekolah, sampai tingkat sekolah menengah pertama. Ia kemudian membuka usaha tukang gigi di Kelua, Hulu Sungai. Oyong baru balik ke Banjarmasin ketika sang ayah wafat, itu tahun 1984. Sejak itu, Oyong tak pernah lagi pindah, menetap.

”Pekerjaan kami memang hanya membuat ini…” ucapnya sambil melepas gigi geraham depannya. ”Misalkan, pasien meminta kami menambal gigi. Jika ada keluhan rasa nyeri, tidak berani, kami pasti memintanya pergi ke dokter gigi,” jelas Oyong mengenai pekerjaannya.

Selain terkenal dengan etos kerja yang tinggi, di lingkungannya, orang Tionghoa juga punya rasa solidaritas yang tinggi. ”Meskipun tidak terdaftar secara resmi, kami punya semacam persatuan tukang gigi tionghoa. Ketuanya adalah yang dianggap tua dan sepuh,” jelasnya. ”Setiap ada satu tukang gigi tionghoa yang meninggal dunia, semua akan datang. Disanalah kami biasanya berkumpul,” imbuhnya.

Di dalam kamar praktiknya, ada kursi tempat pasien duduk, tampak sudah tua sekali. ”Ini kursi sejak dari zaman Belanda, tidak dijual lagi. Kursi sekarang  serba otomatis, ada tombol-tombolnya,” katanya. Tidak jauh dari tempat kami, sekira 200 meter, juga ada plang Tukang Gigi Oyong. ”Oh, itu kakak saya,” sebutnya.

Dari hasil menekuni pekerjaan ini pula, akhirnya Oyong bisa membiayai kuliah kedokteran ketiga anaknya: Dr. Heri Susanto, Dr. Yuliana dan Dr. Jamie Sutanto. Foto-foto wisuda mereka terpampang dengan rapi di dalam bilik praktik Oyong.

”Saya sendiri yang mengarahkan mereka bertiga untuk menjadi dokter gigi,” ucapnya. Berarti, empat generasi berkutat dalam dunia gigi? ”Iya, empat generasi!” jawabnya sembari tertawa. (**)

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: