Istri dan Kucing Kita

Parade Monolog Persembahan Teater Halilintar

Prita sendirian di dapur, mengulek sambal sembari menggerutu. Ia sedang menyiapkan makan siang untuk suami tercinta, Broto, seorang guru yang gajinya pas-pasan.

SAMBIL mengacung-acungkan ulekan batu, Prita bersungut-sungut. Bukan ditujukan kepada suaminya, pemerintah, hidup, apalagi Tuhan. Tidak. Ia sedang bersungut untuk dirinya sendiri. Yang terlalu polos, mengira hidup bisa seindah romansa semasa ia masih berpacaran dengan Mas Broto.

“Ah Prita, hidup bukan untuk dibayang-bayangkan. Bukan juga untuk dipikirkan, tapi untuk dijalani,” tuduhnya pada diri sendiri. Prita berdaster motif bunga-bunga yang sudah pudar warnanya. Lipstiknya nampak berlebihan, murah dan tidak menarik.

Di meja makan didepannya, tersaji piring, baskom nasi, mangkuk sayur dan kobokan. “Ini ada lima kerat tempe untuk makan siang. Lima kerat sisanya saya simpan untuk makan malam,” kisahnya. “Sekarang untung dapat sayur bening, tapi pas tanggal tua, terpaksa daun singkong,” imbuhnya.

Rumah pasangan muda ini sendiri begitu sederhana, tak ada perabot berkelas, serba seadanya. Prita lalu mengenang masa sebelum waktu ini, saat semua terasa begitu indah. Kala ia masih berpacaran dengan Deni yang kini jadi tentara. Hingga saat Broto meminangnya di sela-sela pasar malam.

Lamunan Prita buyar saat, “Pritaaa! Pritaaa!” teriak Broto pelan dari sisi pintu. Prita lalu bergegas mengusap air matanya, memasang tampang manis. Sebagai istri yang baik tentu ia tak tega menyambut sang suami yang sudah banting tulang dengan wajah kusut.

Parade monolog dari 1 sampai 2 April ini digelar Sanggar Halilintar untuk memperingati ulang tahunnya yang kesembilan. Disutradarai oleh Andi Sahludin, Prita diperankan oleh Devina Qudrunnada (20), kemarin malam (1/4) di Gedung Balairung Sari.

Prita Istri Kita adalah monolog ciptaan Arifin C. Noer, seniman teater yang meninggal tahun 1995 kemarin. Arifin adalah sutradara film Pengkhianatan G 30 S/PKI (1984). Lewat film kontroversial itu Arifin memenangi Piala Citra tahun 1985 sebagai penulis skenario terbaik.

Usai Prita, giliran Kucing. Monolog yang diadaptasi dari cerpen Putu Wijaya oleh Agus Noor ini sempat dimainkan Butet Kartaredjasa tahun 2010 silam. Monolog berdurasi 50 menit ini dimainkan ulang oleh Sendratasik Unlam. Aktor Bayu Bastari Setiawan, sutradara Abied Syarifuddin.

Kisahnya, tokoh tanpa nama ini kesal saat mendapati kucing tetangga mencuri makanannya. Ia lalu memukul kucing itu hingga pincang. Satu demi satu masalah berdatangan bagi ia, istri dan anaknya.

Lucunya, sebelum kericuhan itu, ia sempat berkasih-kasihan dengan kucing tersebut, “Terima kasih ya, Cing. Kamu sudah menyelamatkan uang seratus ribuku dari bebek goreng penganut neo-liberalisme itu!”

Prita Istri Kita dan Kucing hanyalah dua dari 15 monolog yang dibawakan beragam kelompok kesenian di banua kita pada parade tersebut. “Kita pilih monolog karena masih jarang,” jelas Andi Sahludin dari Kelompok Halilintar.

Masih menurut Andi, teaterawan diwajibkan membawa penonton sendiri. Jika berhasil membawa 50 orang, hasil penjualan ke-50 tiket itu akan dikasih seluruhnya kepada sang aktor. “Ini trik, agar penonton teater bisa menyatu lewat parade ini. Selama ini penonton cenderung mengelompok, hanya mau datang jika yang pentas adalah sanggarnya,” tandas Andi. (mr120)

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: