Lakon Penuh Improvisasi

Pergelaran Kuda Gipang Carita oleh Sanggar Raden Sanjaya

Tariannya cepat, energik, tapi patah-patah. Serupa gaya bicara pemainnya yang meracau. Dalam satu tarikan nafas, seorang pemain bisa menyemburkan bertumpuk kalimat tanpa koma—tapi bukan berarti tanpa makna. Dialognya tidak rigid, skenarionya longgar. Pemain bisa dengan mudah sahut-menyahut bersama penonton. Improvisasi sepenuhnya.

ADA yang istimewa pada pergelaran malam itu (28/3). Tidak digelar di Gedung Balairung Sari, tidak juga di Gedung Warga Sari. Tapi di halaman Taman Budaya Kalsel, di udara terbuka. Sejak pagi, beberapa kru panggung tampak sudah sibuk menyiapkan segala sesuatunya.

Mulai dari rangka bambu pembatas tempat pentas, dihiasi pelepah kelapa yang disuir-suir. Tiang-tiangnya dibungkus kain mengkilat aneka warna. Pada tiap empat sudutnya ada lampu petromaks menggantung. Lapangan tempat main digelar karpet hitam pekat. Sementara kursi penonton disusun mengeliling.

“Tujuan menggelar Kuda Gipang Carita di halaman terbuka, tidak lain untuk menghadirkan suasana yang lebih tradisional,” ucap Noor Hidayat Sultan, Kepala Taman Budaya saat memberi sambutan.

Pukul 21.00 Wita, acara dimulai. Sebagai perkenalan, Sanggar Raden Sanjaya menghadirkan permainan gamelan, gendang dan alat musik tradisional lainnya dalam hentakan yang sungguh cepat dan energik. Kontras sekali dengan iringan tembang yang menyayat dan mendayu-dayu.

Pergelaran Kuda Gipang Carita malam itu menghadirkan drama berjudul “Gerhana Cinta Membawa Pengorbanan”. Alkisah, seorang putera raja jatuh cinta dengan seorang wanita miskin. Pangeran ini lalu karindangan dan mengadu-ngadu.

“Jika ayah tidak mengabulkan, saya lebih baik mati,” ucapnya sayu. Sang raja tak berkutik, restu diberikan. Peliknya, si wanita telah bersuami. Dalam kisah zaman dulu, bukan hal aneh jika seorang puteri cantik bisa memicu perang besar. Perebutan puteri ini lalu dimenangkan sang pangeran. Akhir cerita, tragis.

Jika dalam kuda kepang yang lebih familiar, kuda dari nyaman bambu tersebut ditunggangi. Sedangkan dalam Kuda Gipang Carita, tidak. Kudanya hanya dikepit dibawah ketiak, dibawa-bawa. Sebab, saking saktinya sang raja, kuda-kuda itu bisa rubuh dan lumpuh jika ditunggangi sang raja.

Perlu dijelaskan, kisah ini fiksi, tidak ada kaitan dengan sejarah bangsa manapun. Kisahnya sendiri telah berkali-kali dimodifikasi. Dalam pementasan malam itu, penonton juga disuguhi selingan-selingan hiburan. Dari musik panting sampai dangdut.

Berdurasi dua setengah jam, acara ini mendapat tanggapan antusias dari masyarakat seni banua. “Raden Sanjaya didirikan tahun 1965 oleh ayah saya. Kami dari Desa Parigi, Kabupaten Tapin,” ucap Supriyadi (50), ketua sanggar, membuka perbincangan.

Meski cukup berumur dan telah pentas kesana-kemari. Dari Samarinda, Balikpapan sampai Kalimantan Timur, mereka masih harus berjuang sendiri, bantuan pemerintah belum pernah dicicipi. “Sound system saja beli sendiri,” kisahnya. Raden Sanjaya biasanya tampil dalam acara-acara kondangan, sebulan bisa tiga-empat kali diundang.

Ditanya tentang harapan, Surya menjawab dengan sederhana, “Seumpamanya saya tidak bisa lagi bermain. Semoga tradisi ini tetap bisa dilimpahkan pada generasi berikutnya.” (mr120)

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: