Pajangan Superhero, Super Harganya, Super Puasnya

Menyapa Komunitas Kolektor Eksyen Figur di Banjarmasin

Disela-sela hentakan festival musik Korea-Pop yang lirik bahasanya tidak bisa dimengerti. Tersembul satu stan memamerkan eksyen figur aneka ragam. Mulai patung mungil yang diadaptasi dari manga One Piece, sampai tokoh superhero macam Batman dan Superman. Asal pembaca tahu, bukan hanya tokohnya yang super, harganya juga.

EKSYEN Figur adalah mainan berkarakter yang terbuat dari plastik atau bahan lainnya. Sering diambil berdasar film, komik, video game atau acara televisi. Posenya mengikuti adegan-adegan terkenal dari sang karakter. Eksyen figur mulanya memang dipasarkan untuk anak lelaki. Belakangan, menjadi buruan para kolektor dewasa. Semata-mata untuk dipajang, bukan dipermainkan.

Stan di Gedung Sultan Suriansyah kemarin (25/3) itu milik Figure Society of Banjarmasin (FSOB). Komunitas kolektor eksyen figur Banjarmasin ini berdiri dua bulan kemarin, penghuninya 70an orang. Rutin tiap malam Senin kumpul dan kopi darat di Microshop, di bilangan Jalan Sultan Adam.

“Cuma bukan berarti kita baru ada di Banjarmasin dua bulan ini. Jauh sebelum ini kita sudah ada, hanya saja perorangan, terpencar-pencar,” jelas Cecep Rasid (25), salah satu anggotanya. Anggota termuda FSOB berumur 18 tahun, paling tua 40an.

Masing-masing kolektor ternyata punya spesialisasi. Misal, ada yang khusus mengoleksi tokoh superhero dari Marvel Comics, ada yang khusus manga atau anime Jepang, ada pula spesialis robot Gundam.

Spesialisasi Cecep adalah Kamen Rider, koleksinya hampir 100 buah. Sedangkan Reza (30), spesialis Green Lantern (tokoh superhero serba hijau, senjatanya cincin berkekuatan gaib), koleksinya berjumlah 50an buah.

Satu koleksi Cecep yang menarik adalah Superman menenteng bendera merah bergambar palu arit. Jika disandingkan dengan Superman yang kita kenal, seperti simbol perang dingin antara blok Barat dan blok Timur. Politis sekali.

Reza mulai hobi mengoleksi eksyen figur sejak awal tahun 2011 kemarin. “Waktu kecil saya suka baca dan mengoleksi komik-komik superhero dari Marvel,” ucap lelaki yang kini bekerja di bidang pemasaran ini.

“Sebenarnya, jauh sebelum kami, di era 80an, sudah ada kolektor eksyen figur. Hanya saja, tokoh-tokoh yang mereka kumpulkan sesuai eranya, misal Power Ranger,” urainya. Koleksi mereka sudah tergolong vintage, klasik dan sangat langka. “Harga awal mungkin seratus ribu, tapi kini bisa hampir jutaan,” imbuhnya.

Kian lama usia satu eksyen figur, kian langka kian mahal. “Asal terawat dengan baik. Misal, kotak pembungkusnya masih bagus,” kata Reza. “Eksyen figur bisa jadi investasi, pas harganya meroket langsung jual,” timpal Cecep.

Harga eksyen figur memang bisa bikin senewen. Koleksi paling mahal milik Reza seharga Rp 500 ribu, sedangkan Cecep Rp 800 ribu. Tapi itu masih tergolong murah, ada yang bahkan sampai Rp 3 juta. “Umumnya datang dari Amerika dan Jepang, belinya lewat internet atau kepada sesama kolektor,” ujar Cecep.

Kenapa tidak beli produk lokal saja, bukankah lebih murah? “Wah, kualitasnya kerusuhan. Barang bajakan, cetakan asal-asalan dari barang asli,” ungkit Reza sembari tertawa.

“Kalau remaja yang belum bekerja, biasa beli yang Rp 50 ribuan. Tapi kalau kita, karena sudah punya penghasilan sendiri, tidak terlalu jadi soal,” tambah Reza. “Sing penting beli dulu, urusan ongkos dan lainnya belakangan,” kejarnya.

Menurut Reza, detail dan kualitas bahan itulah yang dicari para kolektor. Makin mirip dengan karakter aslinya, makin oke. Reza bahkan menganggap eksyen figur sebagai seni rupa populer. “Pas lihat dia dipajang, detilnya bagus, puas sekali!” ucap Reza.

Apakah tidak ada sanak keluarga yang berniat “menyadarkan” mereka? “Kalau dimarahi orang tua sudah biasa,” ucap Cecep tergelak. Satu resiko yang mesti diambil, bisa ditinggalkan kekasih karena dianggap lebih rajin mengurusi patung ketimbang si dia.

Lalu, apa tidak takut jadi bahan olokan, sudah tua kok masih menyimpan mainan? “Wah, disindir begitu sudah biasa,” ungkap Cecep. “Sebenarnya, di kotak eksyen figur itu ada label. Misal, hanya untuk 17 tahun ke atas. Jadi ini memang bukan diperuntukkan buat anak kecil,” jelas Reza menambahkan.

Karena hanya untuk dipajang, apa tidak takut rusak karena dilempar-lempar sang anak atau keponakan? “Akan saya simpan rapat, lalu saya terakan dalam surat wasiat untuk warisan mereka nanti,” guyon Cecep sembari tertawa. (mr120)

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: