Penantian Dua Dekade

Pergelaran Tari Dara Manginang dan Sendratari

Sebulan lewat, Rabu (22/2), Taman Budaya Kalsel menggelar Workshop Tari Dara Manginang. Mis Erma Fauziah dan Heriyadi Haris lantas dipanggil guna melatih 40 penari dari beragam sanggar di lingkungan Kalsel. Seingat Mis Erma, tarian semi-klasik ini terakhir pentas dua dekade silam. Maka pementasan malam kemarin (20/3), mesti menjadi reuni yang hebat.

DARA Manginang adalah satu dari sekian tari garapan Amir Hasan Kiai Bondan. Dikembangkan dan disebarluaskan oleh Anang Bahrudin di Amuntai, Hulu Sungai Utara. Kiai Bondan adalah pendiri Sanggar Perpekindo. Seolah menitis jejak, sembilan penari yang membawakan tari Banjar itu adalah kader Perpekindo.

Tarian ini berkisah para remaja putri yang siap menjejak masa bujang (menjelang dewasa). Wajib bagi mereka bisa manginang (kinang, sirih). Sebagaimana kebiasaan umum wanita desa kala itu.

Pukul 20.30 Wita, depan pintu Gedung Balairung Sari, kala Radar Banjarmasin sedang menunggu pementasan mulai. Mis Erma datang menyapa. “Ini pementasan yang bagus, klasik. Jangan sampai pergelaran tari hanya berkisar itu-itu saja,” ucapnya ramah.

Penonton datang berduyun, rata-rata muda-mudi. Pertanda baik, acara budaya diminati generasi muda. Hanya patut dicatat, cara “mengapresiasi” mereka seringkali berlebihan. Misal, bersorak, terbahak dan asik mengobrol dengan temannya disamping. “Kaya pasar iwak,” sungut salah seorang penonton.

Sembilan gadis berselendang merah, berhias bunga rampai di gelung rambutnya, menari dengan tempo menaik-melambat. Di tengah tarian, mereka duduk, lalu dengan lentik dan anggunnya memperagakan cara meracik kinangan. Meski tarian berdurasi 10 menit ini disebut-sebut sebagai tarian Banjar, pengaruh budaya luar—sebutlah Jawa—terasa.

”Tidak hanya Jawa sebenarnya, budaya lain-lain juga,” jelas Mis Erma satu bulan silam. ”Jika terasa atau terlihat pengaruh budaya lain dalam tari atau lagu kita, itu wajar. Budaya saling pengaruh-mempengaruhi,” imbuhnya.

Usai Dara Manginang, hadir sendratari (drama dalam tari) Arak-arakan Nagara Dipa, dibawakan oleh Sanggar Taranusa, durasi 30 menit. Tarian ini berkisah perjuangan Lambung Mangkurat dari Negara Dipa dalam menjemput Raden Putra dari Majapahit. Raden Putra yang bergelar Pangeran Suryanata inilah yang kemudian menjadi suami dari Putri Junjung Buih, anak angkat Lambung Mangkurat.

Ditemui wartawan usai pergelaran, Noor Hidayat Sultan, Kepala Taman Budaya Kalsel menghimbau, “Ada banyak pihak yang peduli pada budaya dan tradisi lokal. Tinggal bagaimana kita membangun kondisi yang positif untuk mendukung proses berkesenian mereka.” (mr120)

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: