Pergulatan Muslim Tionghoa

PITI, Menjadi Jembatan Antara Etnis Tionghoa dan Islam

Dalam buku Identitas Tionghoa Muslim Indonesia (2012), Afthonul Afif menggambarkan dilema Tionghoa Muslim sebagai “minoritas dalam minoritas”. Di tengah mayoritas penduduk pribumi, Tionghoa adalah minoritas. Sementara sebagai Muslim berarti menjadi minoritas di tengah Tionghoa yang umumnya non-muslim.

DI LUAR panas terik tidak alang kepalang. Radar Banjarmasin duduk menunggu di salah satu ruangan yang sejuk di kantor PITI (Persatuan Islam Tionghoa Indonesia) Wilayah  Kalsel, di bilangan Jalan Pangeran Hidayatullah, kemarin (2/3). Ahmad Rizqon membuka perbincangan, ”PITI berdiri di Kalsel tahun 1986. Misinya, membina mualaf yang baru kenal Islam. Kasihan kalau dibiarkan begitu saja.”

Rizqon adalah sekretaris umum PITI Wilayah Kalsel, meski tidak datang dari etnis Tionghoa, ayahnya adalah tokoh penting dari terbentuknya organisasi ini. ”Kita membina akidah, akhlak dan fiqihnya,” sebutnya. Rutin setiap malam Sabtu digelar tausyiah dan malam Selasa untuk pelajaran membaca Alquran.

Dalam perbincangan ini, terungkap, ada banyak kisah dimana seorang Tionghoa yang memeluk Islam, tidak hanya dikucilkan pihak keluarga atau diputus akses ekonominya, tapi sampai dicoret namanya dari silsilah keluarga. Tidak sedikit kemudian yang berislam secara diam-diam. Ini pula yang makin menyulitkan PITI dalam menjangkau mereka.

Padahal, fakta sejarah menunjukkan keberadaan Muslim Tionghoa telah ada sejak berabad silam. Dalam naskah Yingyai Shenglan (abad 15 M), juru catat Cheng Ho, Ma Huan menulis secara eksplisit keberadaan Muslim Tionghoa di tanah Jawa.

Yang ditunggu akhirnya datang, Ketua Umum PITI Wilayah Kalsel, Winardi Sethiono, akrab disapa Pak Win. ”Saya punya teman, dia Tionghoa seperti saya. Sejak kecil bergaul dengan Muslim, hafal Alquran, tapi tidak mau masuk Islam sebelum ibunya meninggal,” kisahnya.

Mirisnya, ”Ketika ibunya meninggal, tak berselang lama dia juga meninggal. Teman-teman akhirnya menguburkan ia secara Muslim. Nah, ini adalah bukti betapa sulitnya seorang Tionghoa memilih antara Islam dan keluarga,” kenang Pak Win sembari menghisap rokoknya dalam-dalam.

Di negeri ini, orang Tionghoa memang sering diperlakukan secara tidak adil. Pasca 30 September 1965, Orde Baru gila-gilaan menggelar politik anti-Cina, PITI—berdiri di Jakarta, 14 Maret 1961—sempat terpaksa berganti nama menjadi Pembina Iman Tauhid Islam (disingkat PITI juga). Dalam banyak gejolak politik dan ekonomi, orang Tionghoa juga seringkali menjadi kambing hitam.”Wajar jika orang Tionghoa cenderung tertutup,” kata Pak Win singkat.

Boleh dikata, terjadi tanding purbasangka di kedua belah pihak. Di kalangan sebagian Tionghoa, Islam dicibir sebagai agama orang miskin dan pemalas. Sedangkan di kalangan pribumi, suka tercetus, ”Cina kok Muslim?!” Atau, tuduhan bahwa orang Tionghoa masuk Islam hanya sebagai taktik asimilasi (pembauran). Lazim disalahpahami Islam adalah identitas orang pribumi.

”Islam agama yang baik. Hanya, ada saja pemeluknya yang melakukan hal-hal tercela. Karena memahami Islam sebatas kulit, beberapa keluarga Tionghoa kemudian mudah mengambil contoh-contoh tadi sebagai cerminan bangunan Islam secara keseluruhan,” urai Pak Win.

Tentang Islam asimilasi, ”Lagi-lagi kembali pada persoalan hidayah. Sama saja, dari etnis manapun akan selalu ada masalah Islam KTP,” tegasnya. Disitulah tugas PITI, berdakwah membantu mereka yang baru masuk Islam agar semakin kuat imannya.

Tapi dengan sulitnya orang Tionghoa memeluk Islam, meski Pak Win tidak berani memberi angka pasti, angka mualaf Muslim Tionghoa tidak menurun, menaik malah. ”Dimata manusia kita boleh beda, tapi dimata Allah tidak,” tegasnya.

Kisah pribadi Pak Win sendiri juga menarik. Semasa kecil ia memeluk agama Konghucu, pergi ke Jakarta, disana dibaptis sebagai orang Kristen. Lalu pada umur 25 tahun—kini ia berumur 51 tahun—memutuskan memeluk Islam. ”Di kepala saya, Islam itu agama yang masuk akal,” ungkapnya.

Tiap azan Maghrib, Win kecil punya kebiasaan duduk di beranda rumah. Menonton jamaah yang sedang shalat di surau seberang rumahnya. ”Pernah saya mau shalat, sudah wudhu, tapi batal gara-gara bapak datang,” ucapnya terkekeh. ”Tapi itu dulu, sekarang tidak lagi. Kalau ke rumah bapak, saya mau shalat, justru beliau yang kasih tahu kemana arah kiblatnya,” kejarnya.

”Tapi alhamdulillah, kesenjangan itu semakin menyempit. Kalau dulu, kita jalan kaki, orang teriak, ’Hey Cina, singke!’ Pembauran terus terjadi,” ucapnya. ”PITI tidak hanya menjadi jembatan antara Muslim Tionghoa dengan etnis Tionghoa, ia juga menjadi jembatan antar etnis, karena Indonesia kaya akan itu,” jelasnya. Pak Win menegaskan, kini PITI terbuka kepada mualaf, entah dari etnis manapun ia.

PITI menyambut baik pembangunan Masjid Cheng Ho di Jalan Pierre Tendean. ”Cuma harus diingat, ia bukan masjid khusus untuk etnis Tionghoa. Masjid Cheng Ho adalah milik umat,” ucap Pak Win sembari tersenyum.

Setidaknya, ada satu pekerjaan rumah yang menunggu PITI, melebarkan sayap ke wilayah kabupaten kota lainnya, tidak hanya bergerak di Banjarmasin. ”Siapapun Anda, dari etnis manapun, ketika ada seorang Tionghoa yang memutuskan menjadi Muslim. Tolonglah ia, bantulah,” pesannya. (mr120)

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: