Pian Himung, Ulun Untung

Menilik Dapur Kaos Hy-Munk

“Hy-Munk” adalah plesetan dari kata Bahasa Banjar “himung”, artinya senang. Harapan Ferry Kusmana, agar siapapun yang membeli dan memakai produk Hy-Munk hatinya menjadi senang. Senada dengan motonya, “Matan Banjar wal ai,” Ferry mengusung budaya lokal sebagai identitas merek suvenirnya.

MULANYA hanya hobi bepergian dan beli oleh-oleh. Lelaki kelahiran Pelaihari, 14 Juni 1978 ini tersadar, ada sesuatu yang kurang. Ferry bertanya-tanya, jika Jogjakarta punya Dagadu dan Bali punya Joger, lantas Banjarmasin punya apa?

Pertanyaan itu akhirnya membawa Ferry pada suatu waktu, Mei 2008. Dengan tabungan pribadi tak sampai Rp 10 juta, Ferry—dua kali nekat—terjun dalam industri kreatif ini bersama sang istri dan adik iparnya. Desain bikinan sendiri itu kemudian dikirim ke Pulau Jawa untuk menjadi kaos siap jual.

Nekat pertama tampak pada, “Saat 200 lembar kaos itu datang, berkarung-karung, kami terhenyak. Lucu! Sudah berani mesan, tapi malah bingung mau menjual kemana?!” kisahnya kepada Radar Banjarmasin, kemarin (19/2).

Sedang nekat kedua, Ferry mengaku buta kakap dengan Budaya Banjar. Padahal justru itulah yang menjadi pembeda antara Hy-Munk dengan produk sebangsanya. Misal, peletakan logo Rumah Banjar atau Bekantan dalam desainnya.

“Saya kemudian rutin membaca sebanyak mungkin artikel tentang budaya Banjar yang beredar di internet,” ucapnya. Siang itu, Ferry memakai topi bertuliskan “I’d Rather be in Banjarmasin” dan kaos bergambar “Save Orang Utan”.

Menurutnya, kendala pertama melakoni industri kreatif macam ini adalah jarangnya even budaya dan parawisata di Kalsel yang justru amat penting bagi promosi produk-produk lokal yang baru tumbuh. “Awalnya Hy-Munk begitu, kalau ada pameran, kita kejar!” kenangnya.

Tapi itu empat tahun silam. Kerja keras dan sabar punya buah yang rasanya manis. Kini, omzet Hy-Munk perbulan bisa sampai 20-25 juta rupiah. Ferry bahkan mengaku keteteran melayani pesanan pembeli. Selain kaos, Hy-Munk juga menjual pin, boneka Nanang Galuh, boneka Bekantan, topi, gantungan kunci, stiker dan kipas Sasirangan.

Dalam dua tahun terakhir, Ferry mengaku sebagian besar pembelinya datang dari luar banua. “Mereka adalah orang-orang Banjar yang pergi merantau,” katanya. Produk Hy-Munk juga sempat beredar di luar daerah. Tetangga seperti Kalimantan Timur atau seberang pulau sampai Sumatera.

Harga produknya berkisar dari Rp 3 ribu sampai Rp 75 ribu.  Ia bisa didapatkan di Jalan Gatot Subroto Komplek Mandastana No 2 (konter resmi) atau Dayax D’Porte di Bandara Syamsuddin Noor.

Perkara promosi, Hy-Munk mengandalkan internet. “Selain Facebook, kami punya tiga blog: Blogspot, WordPress, dan Multiply,” sebutnya. Saking seriusnya Hy-Munk menggarap blog, seorang mahasiswa jurusan teknologi informatika menjadikan blog tersebut sebagai objek garapan TA (Tugas Akhir)-nya.

Sedang urusan desain, kebanyakan memang kreasi pribadi. “Tapi jika ada yang menawarkan desain dan kebetulan kami suka, kami siap beli,” tandasnya. Kini Hy-Munk memang sedang giat-giatnya memperbanyak koleksi desain kaos, “Sebab kaos adalah produk unggulan kami.”

Perihal persaingan, Ferry melihat masih sedikit sekali anak banua yang terjun ke dalam industri kreatif ini. “Padahal prospeknya ke depan masih sangat bagus,” ucapnya. “Begini lho, kalau kuenya ini kita makan sendiri, kecil sekali. Tapi kalau kita saling bantu, istilahnya bagi-bagi rejeki, kuenya akan membesar dengan sendirinya,” paparnya.

Tapi wawancara tidak berkisar melulu soal bisnis. Ferry mengaku prihatin dengan kondisi budaya Banjar yang saat ini lamat-lamat dilupakan. “Yah, kalau kita cuma mengharap pemerintah hasilnya kan begitu-begitu saja,” keluhnya.

Demi itu, ia kemudian membangun database berlabel “Informasi Umum Kalsel” di Kaskus. “Saya melacak beragam artikel terkait sejarah dan budaya banua. Saya copy-paste beserta sumbernya lalu saya masukkan,” ucapnya bersemangat.

Proyek kedua, ia sedang mengalihkan beragam jurnal penelitian milik Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru ke dalam format e-book yang bisa diunduh secara gratis. “Dengan seizin museum saya posting di issuu.com, biar orang bisa mengaksesnya dengan mudah. Sudah ada 20 judul yang berhasil diolah digitalkan,” kisahnya.

Digoda dengan pertanyaan soal ambisi ke depan, bagi Ferry itu adalah bagaimana bisa membawa Hy-Munk menyamai kebesaran Dagadu atau Joger. “Kuncinya adalah menyelaraskan antara logika bisnis dan misi kebudayaan tersebut,” tandasnya. (mr120)

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: