Sayangnya Kini Terlantar

 

Sejarah Balai Moesjawaratoetthalibin di Jalan Kuin Selatan

Akhir Januari silam, Radar Banjarmasin menyusuri sejarah Sekolah Rakjat (SR) di Banjarmasin. Di akhir wawancara, H. Ahmad Husaini (81), sang narasumber, memberikan selembar foto tua sebagai kenang-kenangan. Dijepret 82 tahun silam, dalam kondisi tidak sepenuhnya baik, sedikit kumal dan menguning, potret ini menyisakan pertanyaan.

TIDAKLAH sulit mencari bangunan bersejarah dalam potret ini. Meski tinggal rangka, tiang-tiangnya masih berdiri kokoh di Jalan Kuin Selatan, Kelurahan Kuin Cerucuk. Tepatnya disamping Gang Tiga Roda. Dalam khazanah arsitektur banua, ada delapan bentuk rumah adat Banjar, seperti Bubungan Tinggi, Gajah Menyusu, Palimbangan dan lainnya. Nah, rumah dalam potret ini mengambil bentuk Gajah Beliku.

Di depan barisan objek foto, pada papan tulis kecil yang ditulisi dengan kapur itu, jika diperbesar beberapa kali, sebagian kalimat yang bisa terbaca adalah, ”Maulid nabiyyu Muhammad Saw. Rabiul Awwal 1351 Hijriyah.” Jika dikonversikan ke tahun Masehi, jatuh pada akhir tahun 1931 atau awal tahun 1932.

Lalu siapa puluhan orang dalam foto tersebut? ”Sebagian besar adalah tokoh pemuda dan ulama Kuin, nama organisasinya Moesjawaratoetthalibin,” sebut Husaini, kemarin siang (14/3). Pada baris pertama, duduk, enam dari kiri adalah H. Abu Bakar, kakek Husaini. Abu adalah salah seorang pengurus Moesjawaratoetthalibin.

Diperhatikan lebih jauh, bendera yang diusung dalam foto tersebut memiliki tiga warna—bendera Belanda. ”Itu karena secara resmi Moesjawaratoetthalibin diizinkan bergerak oleh Pemerintah Hindia Belanda. Tapi bukan berarti dengan politik kooperatif tersebut Moesjawaratoetthalibin tidak menginginkan kemerdekaan,” jelasnya.

Dalam artikel berjudul Musyawaratutthalibin buah karya Wajidi, peneliti madya bidang sejarah dan arkeologi di Balitbangda Provinsi Kalsel. Tertulis, Moesjawaratoetthalibin adalah organisasi lokal terbesar di Kalsel. Lokal karena didirikan oleh putra Kalsel sendiri, di Banjarmasin pada tanggal 12 Syaban 1349 H atau 1 Januari 1931 M—secara kebetulan, tepat di hari kelahiran Husaini.

Disebut terbesar karena cabang-cabangnya menyebar luas. Sampai tahun 1936, ada di Kuin, Kandangan, Barabai, Amuntai, Kalua, Samarinda, Balikpapan, Sanga-Sanga Dalam, Kotabaru, Samuda, Senakin dan Alabio. Bahkan menyeberang sampai ke pesisir Sumatera. Seperti Tembilahan, Enok dan Kuala Tungkal, tempat dimana ada pemukiman orang-orang Banjar perantauan.

Nama Moesjawaratoetthalibin sendiri berarti organisasi atau permusyawaratan kaum terpelajar. Keinginan itu lahir karena meluasnya percekcokan di tengah masyarakat dalam perkara agama antara “kaum tua” dan “kaum muda”. Ia berkiprah di medan dakwah, pendidikan dan pers. Dalam buku Wartawan-wartawan Kalimantan Raya karya Artum Artha, tercatat majalah tengah bulanan bernama Soeara Moesjawaratoetthalibin, dicetak di Drukkerij Al-Musywafah, Kandangan.

Kembali kepada balai tersebut, selain sebagai tempat bagi Moesjawaratoetthalibin untuk mengadakan pertemuan, juga untuk merayakan hari-hari besar Islam. Sedangkan, ”Kantor pusat resmi Moesjawaratoetthalibin sendiri ada di Jalan Andalas,” kenang Husaini. Di bekas lokasi, kini di Masjid Al-Musyarrafah, Jalan Perintis Kemerdekaan.

Husaini menyarankan Radar Banjarmasin untuk menemui H. Burhan (71), sepupunya yang tinggal di dekat balai bersejarah tersebut. Keesokan harinya (15/3), ditemui di Komplek Makam Sultan Suriansyah, Burhan memberikan perkiraan, balai dari kayu ulin tersebut dibangun seabad silam, tahun 1900an.

 

 

Balai ini adalah milik H. Ali Badrun, anak tunggal dari H. Saidillah. Rumah sebesar itu tentu hanya orang kaya yang bisa membangunnya. Ayah Ali, H. Saidillah memang seorang pedagang besar, jualannya antar pulau. Dalam potret tersebut, Ali duduk, tujuh dari kiri. Bersanding dengan H. Djailani, Ketua Moesjwaratoetthalibin cabang Kuin.

H. Saidillah pula—bersama H. Majid—yang mendermakan dana untuk pemugaran Komplek Makam Sultan Suriansyah. ”Itu kira-kira tahun 1850an,” ucap Burhan yang kini mengabdikan hidupnya sebagai penjaga makam bersejarah tersebut.

Burhan sendiri mengaku sudah sangat akrab dengan potret tersebut. ”Kakek saya adalah adik dari H. Saidillah,” kata tokoh Kuin kelahiran 12 Mei 1940 ini. Seperti bernostalgia, mulut Burhan komat-kamit, menyebut satu demi satu nama orang-orang dalam foto tersebut, tidak semua memang bisa diingatnya.

Titik perhentian dari Moesjawaratoetthalibin adalah tahun 1942—tahun kedatangan pasukan fasis kuning. Dalam kurun masa penjajahan Jepang itu (1942-1945), semua organisasi yang sebelumnya boleh hidup dan bergerak di zaman Belanda, dibekukan, termasuk Moesjawaratoetthalibin.

Usai itu, boleh dikatakan Moesjawaratoetthalibin vakum. ”Tidak ada lagi kegiatan,” kata Burhan. ”Sejak itu pula, balai tersebut tidak lagi digunakan,” ucapnya. Sempat memang didiami oleh sanak keluarga Ali Badrun. Tapi perlahan, mereka terpencar, tinggal di tempat lain. Sejak itu, tak ada lagi yang merawat balai tersebut.

Tidak diragukan lagi, balai ini adalah salah satu saksi sejarah penting dari pergerakan pemuda pada masa kebangsaan di Banjarmasin. Ditanya apakah ada perhatian dari pemerintah terhadapnya, Burhan menggeleng pelan. ”Jangankan pemerintah, anak-anak muda saja tidak ambil peduli,” keluhnya.

Ketika dikunjungi Radar Banjarmasin, tampak lumut telah menyerang tiang-tiangnya. Di depan balai tersebut, terpampang satu spanduk iklan rokok yang sudah pudar dan lusuh. Selain menjadi tempat mangkal tukang ojek, didepannya ada satu meja untuk mereka bermain kartu domino. ”Sayangnya kini terlantar,” tutupnya. (mr120)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: