Kayuh Jukung, Kau Kusekolahkan

 

Perjuangan Guru dan Siswa SDN Basirih 10

Umumnya, halaman parkiran sekolah diisi oleh motor, kebanyakan sepeda. Tapi di SDN Basirih 10 tidak demikian. Parkirannya hanya berupa titian kayu sederhana, dimana selusin jukung aneka ukuran ditambatkan.

BERDIRI sejak tahun 1978 dan hanya butuh satu jam perjalanan dari pusat kota, tidak menjamin SDN Basirih 10 mendapat perhatian yang cukup. Satu-satunya transportasi untuk mencapai sekolah ini adalah jukung atau klotok. Praktis, sekolah ini amat tergantung pada kondisi sungai.

Jika surut, sekolah yang berlokasi di Jalan Simpang Jelai RT 27 Banjarmasin Selatan ini terpaksa libur. Terlanjur masuk sekolah lalu surut, pulangnya mesti menunggu sungai pasang. Minimal, kejadian ini terjadi lima kali dalam sebulan.

Kemarin siang, Raudah (35), guru kelas II, kala diwawancarai Radar Banjarmasin, sedari tadi dahinya terus berkeringat. “Beginilah kalau tengah hari, panas sekali. Tak ada kipas angin,” keluhnya. Raudah mengajar di sekolah ini sejak tahun 2007, masih honorer, gajinya Rp 200 ribu perbulan.

“Makanya, kadang proses belajar-mengajar terpaksa dihentikan. Seisi kelas basah kuyup dengan keringat,” sambung ibu dari satu anak ini. Raudah adalah satu dari sepuluh guru yang mengabdi disini—tiga honorer, tujuh PNS.

Total ada 69 siswa disini. Meski hari Sabtu, bajunya warna-warni. Ada yang atasannya coklat, bawahannya merah. Bawahannya coklat, atasannya putih. Kebawah lagi, ada yang bersepatu, bersendal jepit, kebanyakan nyeker.

Raudah lalu menceritakan satu lelucon nyata yang ada di sekolah ini. “Kami tak punya sarana untuk mengajar olahraga, misal matras. Lapangannya pun kecil dan seringkali tercelup sungai. Maka cabang olahraga favorit yang diajarkan disini adalah berenang,” kisahnya sembari tertawa.

Disekeliling sekolah, menghampar benih-benih padi yang masih hijau. “Sawah ini milik komite sekolah. Kalau panen lumayan. Hasilnya dibagi-bagi, saya bisa dapat tiga atau lima liter beras,” ucap Raudah.

Ada tiga ruangan dari beton, dua dari kayu. Tiga pertama untuk ruang belajar. Dua sisanya, selain perpustakaan juga ruang dewan guru merangkap dapur. Terpaksa, satu ruang diperuntukkan untuk dua kelas, disekat-sekat. Ruang pertama berisi kelas I dan III, ruangan berikutnya untuk kelas II dan IV, terakhir untuk kelas V dan VI.

Selain kondisi bangunan yang serba terbatas, fasilitasnya juga setali tiga uang. Meskipun listrik sudah masuk, air bersih belum. Ditanya mengapa Raudah rela bersusah-payah untuk mengajar disini, “Sederhana, keinginan itu datang dari hati,” jawabnya.

Seorang siswa berwajah sayu duduk termenung di ujung perahu klotok. Namanya Aminrullah (13), duduk dibangku kelas VI, tinggal di Jalan Simpang Jelai. Ditanya apakah tidak repot tiap hari harus mengayuh jukung, Amin tersenyum, “Kada, sudah biasa,” jawabnya.

Diminta mengutarakan harapan yang ia inginkan dari pemerintah untuk sekolahnya, ia mengaku bingung. “Tapi kena ulun handak melanjutkan ke SMP,” tambahnya. (mr120)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: