Lebih Takut Hantu Banyu

 

Menyusuri Alur Sungai Kelayan

Jika wilayah Jalan Ahmad Yani atau Kayu Tangi adalah sisi gemerlap Banjarmasin. Maka daerah Kelayan atau Basirih adalah sisi muram. Di tengah derap laju pembangunan, mereka keteteran, tertinggal dibelakang. Lalu disembunyikan dibalik menjulangnya gedung-gedung beton.

MENYUSURI alur Sungai Kelayan yang membelah Kelayan A dan Kelayan B, seperti mengikuti tur wisata yang ganjil. Mudah sekali menemukan bangunan tua bersejarah yang tidak terawat. Pemukimannya ibarat kotak-kotak berwarna coklat karat yang ditumpuk tak beraturan.

Sungainya menghanyutkan beragam benda. Mulai dari klotok yang membawa manusia serta barang dagangannya. Jukung yang eksotis, jamban yang tidak. Tanaman enceng gondok, sampah plastik dan organik, hingga (mohon maaf) kotoran manusia.

Siang itu (11/4), disalah satu sudut Sungai Kelayan, Radar Banjarmasin mendapati lima sekawan: Ian, Iput dan Fahran. Serta saudara kembar, Rahman dan Rahmana, sedang bermain disalah satu sudut Sungai Kelayan. “Setiap pulang sekolah, kalau air pasang, kami main ke sungai,” celoteh Rahman, kelas 4 SD, tinggal di ujung Kelayan B.

Tempat mereka bermain air, dikepung oleh sampah juga (sekali lagi maaf) kotoran manusia. Hanya berjarak lima meter ada jamban milik warga. Ditanya apa tidak risih berenang di sungai yang kotor, Rahman—ia menjadi juru bicara teman-temannya—menjawab tidak.

“Mun sungai rigat sudah biasa. Kami cuma takutan sama hantu banyu,” ucap Rahman. “Atau buaya,” sambung Ian. “Juga ular sungai,” kejar Iput. Mereka perenang yang hebat, punya beragam gaya melompat ke sungai. Dari yang standar, berputar di udara, sampai salto.

Di Kelayan A, tepatnya Kelurahan Murung Raya. Wartawan koran ini melihat seorang ibu yang sedang menyiangi ikan di sungai, jaraknya dengan tumpukan sampah hanya satu meter. “Sudah biasa,” ucap Aisyah (45) sembari tersenyum.

Mahdiansyah (24), warga Kelayan B, memperkirakan 50 persen warga disini masih memakai jamban sungai. Kalau masalah buang sampah ke sungai, “Masih banyak, mas. Ada karena faktor malas, ada karena kebiasaan, atau karena fasilitas buang sampah yang minim,” sebutnya. “Rata-rata sampah dapur,” imbuh lelaki lulusan SMA yang bekerja sebagai pengrajin almari ini.

Sepengetahuan Mahdi, baru sekali pemerintah datang untuk mengangkut sampah di sungai. “Anda kesini kebetulan pas sungai pasang, coba kalau surut, kondisinya adududuh!” sungutnya sambil menggeleng-gelengkan kepala. Benar saja, beberapa rumah tua yang pelatarannya rendah kena calap.

Tapi Kelayan juga seringkali mendapat prasangka tak adil. “Orang suka bilang Kelayan itu penuh preman. Padahal itu dulu, kini sudah jauh berkurang,” urai Mahdi. “Saya dan istri hidup damai disini. Kami sedang menunggu kelahiran anak pertama. Kami belum terpikir untuk pindah,” tandasnya. (mr120)

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: