Dari Pejantan Super Sampai Pejantan Buldozer

Ini bukanlah iklan jamu kuat. Ini adalah kisah mereka yang meracik dan meramu beragam bahan dan rempah. Guna mengakali mereka yang butuh energi berlebih atau sekedar mengusir pegal dan letih.

JUMAT (7/9) malam. Jarum jam menunjuk angka 10. Seorang lelaki bermuka capai singgah memesan jamu masuk angin. Sementara segelas jamu segar bugar dihadapan wartawan koran ini masih menyisa setengah.

Rasanya? Kental dan kuat. Terasa sekali aroma rempahnya menempel di langit-langit mulut. Jika Anda baru pertama kali meminumnya dan ingin menghilangkannya. Satu-dua siraman gelas kopi adalah saran yang bagus.

Tarifnya dari kisaran Rp 7 ribu sampai Rp 50 ribu. Makin mahal tentu makin spesial–dari segi ramuan maupun lamanya khasiat. Kita peroleh jamu dalam porsi gelas belimbing, segelas kecil jahe yang dicampur teh, plus permen.

Apa yang dipesan sesuaikan dengan kebutuhan. Utarakan secara jujur kepada penjual dan biarkan ia meraciknya. Maksudnya, jika Anda masih bujangan, jangan malah berlagak minta jamu kuat.

Meramu jamu adalah pemandangan menarik. Beragam bubuk dicampurkan. Dikentalkan oleh madu dan telur. Saat si penjual meracik dan mengaduknya, meja dihadapan kita berguncang-guncang.

Di Jalan Pangeran Samudera, berseberangan Masjid Noor, Anda bisa temui deretan penjual jamu yang telah terkenal seantero kota ini. Buka dari usai Maghrib sampai lewat tengah malam. Dari Senin sampai Minggu. Libur hanya pas hari raya.

Menyisirnya, ada dua hal yang akan menarik perhatian. Pertama, hampir semua penjual jamu ini keturunan Arab. Kedua, spanduk iklan yang mereka tawarkan membuat kita geli.

Misal, di satu lapak menawarkan “Jamu Buldoser”, sebelahnya “Jamu Lapah Manggutak”, lainnya “Jamu Gancang Gum”, atau “Jamu Jantan” versi super dan istimewa. Menggoda kita untuk berpikiran nakal, atau penasaran ingin mencoba khasiatnya.

Mar’ie Amir (53), sang pemilik “Jamu Spesial Balas Dendam” menceritakan semua penjual jamu di leretan tersebut masih ada hubungan keluarga.

Jadi, lapak disebelah seorang penjual jamu adalah ponakan, sebelahnya lagi kakak ipar, lanjut sepupu, di ujung sana menantu. Jumlah semua penjual jamu disini ada 18.

Mereka semua datang dari Kampung Arab, Kelurahan Pasar Lama. Uniknya, meski satu rumpun, setiap lapak memiliki ramuan dan racikannya sendiri-sendiri. “Setiap penjual disini punya jurusnya masing-masing,” kata lelaki berjenggot yang memakai peci merah ini.

Jurus tersebut didapat dari pengalaman. Artinya, makin lama berjualan, makin sakti. “Setiap pembeli yang kemari akan menemukan jamu yang berbeda di setiap lapaknya. Tinggal mereka pilih mana yang paling cocok dan puas,” jelas ayah dari tiga anak ini.

Mar’ie sendiri sudah berjualan disini sejak tahun 2000. Paling senior, ada yang sampai 25 tahun. “Lapak disini dimulai pada tahun 80an. Lalu sempat pindah ke Pasar Hanyar pas tahun 90an. Hingga akhirnya balik lagi kemari,” kisahnya.

Paling ramai pembeli bisa ditemui pada malam Jumat dan malam Senin. “Sebab menurut tuturan agama. Malam itulah yang paling afdhol untuk berhubungan suami-istri,” ujarnya.

Secara sederhana, jualan mereka terbagi dua: jamu pabrikan dan jamu racikan sendiri. Mar’ie lantas menunjukkan beberapa bubuk jamu miliknya. Beberapa terdengar asing di telinga awam. “Ini dari biji daung, kalau ini buah bonut, sedang ini namanya cabi,” sebutnya. Sisanya, seperti jintan hitam dan putih, adas manis, bunga sisir dan lainnya. Tanpa bahan kimia.

Khasiatnya pun tidak main-main. “Ini dari gulabat. Khasiatnya untuk mengentalkan sperma,” ujarnya menunjukkan bubuk berwarna hijau tua pada sendok teh. Karena bahan-bahan itu pula Mar’ie menyatakan modalnya tidaklah sedikit. Misal, kapulaga arab terhitung langka. Satu kilogramnya seharga Rp 400 ribu.

Namun bagi kaum hawa jangan khawatir, sebab tidak semua jamu melulu untuk kaum adam. “Kita juga punya jamu untuk menghilangkan keputihan,” ujarnya.

Penasaran, Radar lantas menanyakan apa maksud dari “Jamu Balas Dendam”. Mar’ie terdiam sejenak. “Kalau Anda misalnya cuma kuat satu ronde satu malam. Insyaallah, dengan jamu ini bisa tahan dua-tiga ronde,” jaminnya.

Keahlian meramu jamu ini adalah warisan turun-temurun. “Bakat yang diturunkan nenek. Namanya bakat sejak lahir ya tidak perlu belajar lama. Cukup ‘diklik’ sedikit saja,” ujar Mar’ie sembari tangannya menirukan memutar knop.

Namun, Mar’ie mengakui, pendapatan mereka sempat menurun deras. “Pas ramai-ramai kasus jamu palsu kemarin. Pembeli rupanya sempat ketakutan dibuatnya,” ucapnya.

Pada akhirnya, keahlian turun-temurun mereka diakui telah banyak membantu lelaki yang dirundung masalah kejantanan. Baik itu lemah syahwat, bahkan ketiadaan keturunan. (fud)

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: