Archive for ‘Media & Jurnalisme’

November 24, 2011

Mengayomi, Melindungi, Mengekang

Setelah sempat terkatung-katung selama sembilan tahun, diwarnai banyak perdebatan dan penolakan, RUU Intelijen akhirnya disetujui oleh semua fraksi DPR pada 11 Oktober kemarin. Selagi disahkan, di luar gedung DPR/MPR massa berdemonstrasi menolak UU yang dianggap membahayakan kebebasan sipil ini.

read more »

August 24, 2011

Bukan Lagu Udin Sedunia

Dalam setiap praktik terbaiknya, jurnalisme dihantui kekerasan. Dalam jejak kebebasan pers paling ideal, jurnalisme dibayangi pembunuhan.

read more »

Tags:
July 8, 2011

Menambah Kegelisahan Sukma

oleh Muhammad Syarafuddin

KAMIS sore (07/7), pukul 04.30 WITA hingga senjakala, di kantor redaksi LPM Sukma, gedung SC komplek kampus IAIN Antasari Banjarmasin. Saya diminta mengisi Orientasi Kepengurusan LPM Sukma 2011-2012, khusus untuk departemen redaksi. Ada sekitar 10-an orang, termasuk Ahmad Mubarok, Pimpinan Redaksi Sukma yang baru.

Diskusinya asik, cem-macem yang diperbincangkan. Celetukan pertanyaannya juga sulit dan cukup bikin senewen—meskipun, ini kegelisahan dengan tema yang klasik. Mulai dari soal posisi antara Sukma dengan politik kampus, dilema antara berita pedas dan resiko yang membayangi, anggota yang susah diajak kerja, dan lainnya.

read more »

Tags:
July 8, 2011

Menghindari Disorientasi Berjamaah*

oleh Muhammad Syarafuddin**

SAYA dipaksa berpikir cukup keras ketika diminta panitia untuk mengisi Orientasi Kepengurusan Sukma Periode 2011-2011 ini. Bukan apa-apa, tapi Mei kemarin, seperti Anda dengar di Workshop Jurnalistik Menengah (WJM) 2011 saya sudah terlalu banyak bicara soal manajemen redaksi, tantangan dan visi ke depan sebuah pers kampus. Ditambah sedikit saran tips dan trik untuk mengatasi “keunikan” yang dimiliki oleh pers mahasiswa. Saya takut, jikalau ini hanya akan seperti memutar kaset lama, atau paling minim bicara dengan tema yang berbeda tapi secara isi “serupa tapi tak sama”.

read more »

Tags:
June 24, 2011

Sempit Lahan Jurnalisme Sastrawi di Indonesia

SEIRING dengan perkembangan teknologi komunikasi massa itu sendiri dan tuntutan kompleksitas masyarakat, mau tidak mau, jurnalisme mesti menanggapinya secara aktif dan dinamis lewat berbagai perubahan dan perkembangan. Salah satu dari sekian perkembangan yang dimaksud terjadi itu adalah, lahirnya genre yang lazim dinamakan new journalism (jurnalisme baru) biasa juga disebut literary journalism (jurnalisme sastrawi) atau narrative journalism (jurnalisme narasi).

read more »

June 24, 2011

Resensi untuk Agama Andreas Harsono adalah Jurnalisme

SAYA KIRA, hanya wartawan sinting dengan sederet prestasi jurnalistik gemilang—pernah kerja di The Jakarta Post, The Nation (Bangkok), The Star (Kuala Lumpur) dan Pantau (Jakarta), penerima Nieman Fellowship on Journalism Harvard University —seperti Andreas Harsono yang bisa bilang, “Agama saya adalah jurnalisme.” Pengakuan ini dalam artian sebenarnya, bukan sekedar kepentingan promosi buku atau pernyataan kelepasan tidak sengaja.

read more »

June 23, 2011

Kenapa Tirto?

KOLONIAL Belanda melibatkan pemilik modal asing untuk agenda penjajahannya. Nusantara dijadikan sumber bahan mentah dan pasar bagi industri penjajah barat. Dihadapkan pada kenyataan ini, ulama Islam mesti memberikan tindakan.

Haji Samanhoedi (1868-1956) segera membangun organisasi Sjarikat Dagang Islam, 16 Oktober 1905, di Surakarta. Guna memperluas informasi dalam upaya pembentukan organisasi niaga tersebut, terlebih dulu diterbitkan buletin Taman Pewarta, media ini mampu bertahan selama 13 tahun, 1902-1915.

read more »

Tags: ,
June 23, 2011

Happy Networking Dude!

GENERASI kita berhadapan dengan zaman yang begitu berbeda dengan zaman buyut senior-buyut junior sebelumnya. Berabad-abad silam, jika ingin orang tahu gagasan Anda, Anda mesti berjalan kaki jauh untuk menemui dan mengajaknya bicara. Buku masih jadi pilihan yang sulit. Kertas dan tinta barang mahal. Belum lagi proses menyalin perbanyak dan sebar ke tangan orang lain yang  membutuhkan waktu berbulan-bulan.

read more »

June 23, 2011

Dari Jihad Darah Hingga Jihad Perut

TEMPO doeloe, pra revolusi kemerdekaan. Pers Indonesia tampil dengan sangat sederhana dan nyaris mengutamakan keterampilan menulis saja (bukan berarti kualitas jurnalisme mereka kacangan). Pers saat itu sangat kental dengan suasana kebangsaan, kritik-kritik pedas pada penjajah kolonial, dan murni bermodal idealisme perjuangan. Hal ini tampak dari pekik semboyan pers, “Indie los van Holland / Hindia lepas dari Belanda” atau “Indie vor de Indiers / Hindia untuk anak Hindia”.

read more »

Tags: , ,
May 28, 2011

Manajemen Redaksi

“Journalism has always been a business of ethical people.”—Leslie H. Whitten

APAKAH ada struktur kerja yang ideal bagi organisasi media? Berapa besar sebaiknya jumlah staf redaksi (reporter, fotografer, editor, lay outer dan lainnya) yang dimiliki media? Tidak ada kesepakatan terkait hal ini. Jumlah dan pola keredaksian selalu mengikuti dan menyesuaikan dengan kebutuhan media itu sendiri. Hampir-hampir, tidak ada dua media yang sama-sebangun dari segi keredaksian.

read more »